Berwudhu dengan Air yang Menetes dari Anggota Wudhu

Berwudhu dengan Air yang Menetes dari Anggota Wudhu

oleh: Syaikh Abu Malik Kamal as-Sayid Salim

Sisa air yang jatuh dari anggota wudhu disebut air musta’mal. Telah terjadi ikhtilaf di kalangan ulama tentang hukumnya, yaitu: apakah ia keluar dari status air yang suci ataukah tidak?

Pendapat yang rajih adalah bahwa ia masih tetap sebagai air yang suci lagi mensucikan, selama ia tidak keluar dari status air mutlak atau tercampur dengan najis sehingga merubah salah satu sifatnya.

Ini adalah madzhab Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Umamah, dan segolongan salaf. Pendapat ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab Malik, dan salah satu dari dua riwayat dari asy-Syafi’i dan Ahmad. Pendapat ini juga merupakan madzhab Ibnu Hazm, Ibnu al-Mundzir, dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam.[1] Pendapat ini didukung dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Pada asalnya air itu suci dan tidak menjadi najis karena sesuatu pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الماء طهور لا ينجسه شيء

Air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang dapat membuatnya menjadi najis.”

Kecuali apabila berubah salah satu sifatnya, atau ia keluar dari statusnya sebagai air mutlak karena tercampur dengan benda yang suci.

2. Telah diriwayatkan dengan shahih bahwa para sahabat biasa menggunakan sisa air wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Diriwayatkan dari Abu Juhaifah, ia berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami pada siang hari. Kemudian dibawakan air untuk berwudhu lalu beliau berwudhu. Kemudian orang-orang mengambil sisa air wudhu baliau dan mengusap-usapkannya ke tubuh mereka.”[2]

Al-hafidz rahimahullah dalam Fath al-Bari (1/353) berkata, “Kemungkinan mereka mengambil air yang mengalir dari anggota wudhu beliau, dan dalam hadits ini berisikan dalil yang jelas tentang sucinya air musta’mal.”

  • Hadits Miswar bin Makramah, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, maka para sahabat berbebutan memdapatkan sisa wudhu beliau.”[3]
  • Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta sewadah air, lalu beliau mencuci kedua tangan dan wajahnya di dalam wadah itu serta meludah di dalamnya, lalu beliau berkata kepadanya dan kepada Bilal:

اشربا منه وافرغا على وجوهكما ونحوركما

Minumlah darinya, dan tuangkan pada wajah dan leher kalian berdua.”[4]

3. Diraiwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Dahulu laki-laki dan perempuan berwudhu bersama-sama pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[5]

Dalam riwayat lain, “Kami dahulu berwudhu bersama kaum wanita di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. Kami menciduknya dengan tangan-tangan kami.

4. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah.”[6]

5. Diriwayatkan dari ar-Rubayyi’ binti Ma’udz, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala beliau dengan sisa air yang berada di tangannya.”[7]

6. Ibnu al-Mundzir berkata dalam al-Ausath (1/288), “Dalam ijma’ulama bahwa sisa air dari anggota tubuh orang yang berwudhu atau mandi dan air yang menetes pada pakaiannya adalah suci, berisikan dalil tentang sucinya air musta’mal. Jika air tersebut suci, maka tidak ada alasan untuk melarang berwudhu dengannya tanpa adanya hujjah yang dapat dijadikan pegangan oleh pihak yang menyelisihi pendapat ini.”

Sementara segolongan ulama berpendapat, tidak boleh berwudhu dengan air musta’mal. Ini adalah pendapat Imam Malik, al-Auza’i dan asy-Syafi’i –dalam salah satu dari dua riwayat- serta pendapat ashabur ra’yi.[8] Tapi, mereka tidak memiliki dalil yang dapat dipegang. Siapa ingin merujuk, silakan merujuk kepada referensi yang telah disebutkan.

 

Shahih Fiqh Sunnah, penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari @ penerbit: Pustaka at-Tazkia


[1] Al-Mughni (I/31), al-Majmu’ (I/205), al-Muhalla (I183), Majmu’ al-Fatawa (XX/519), dan al-Ausath (I/285)

[2] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (187)

[3] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (189)

[4] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (188)

[5] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (193), Abu Dawud (79), an-Nasa’i (1/57), dan Ibnu Majah (381), sedangkan riwayat sesudahnya diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih.

[6] Shahih diriwayatkan oleh Muslim (323), dan dalam ash-Shahihain dengan lafal, “keduanya mandi dalam satu bejana”

[7] Hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (130) dan ad-Daruquthni (1/87)

[8] Al-Istidzkar (I/253), at-Tamhid (VI/43), al-Mughni (1/19) dan al-Ausath (I/285)

Tag:,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

2 responses to “Berwudhu dengan Air yang Menetes dari Anggota Wudhu”

  1. i'an susanti says :

    Assalamu’alaikum nama saya ian apa tdk najis air wudhu yg menetes dri anggta tbuh kita digunakan kembali untuk berwudhu?

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: