Hadits Arbain An Nawawi Ketujuh: Agama Adalah Nasihat

HADITS KETUJUH [1]


Dari Abi Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama ini adalah nasihat.” Kami bertanya, “Bagi siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya.”  (HR. Muslim)[2]

PENJELASAN HADITS

1- Sabdanya “Agama adalah nasihat” merupakan kalimat yang global dan menyeluruh, yang menunjukkan pentingnya nasihat dalam agama Islam ini. Nasihat merupakan asas dan tiang agama ini. Dan termasuk ke dalamnya penjelasan dalam hadits Jibril berupa penafsiran Islam, Iman, dan Ihsan. Dan Nabi menamakan tiga hal tersebut agama. Beliau bersabda, “Ini Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian (perkara) agama kalian“. Dan sabdanya ini menyerupai sabdanya dalam hadits lain, “Haji adalah
Arafah“. Beliau sebutkan demikian karena wukuf di Arafah merupakan rukun yang terbesar dalam ibadah haji, yang ibadah haji tidak sah tanpanya.

2- Disebutkan dalam (kitab) Mustakhraj Abi ‘Awanah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang kalimat ini tiga kali. Dan dalam Shahih Muslim tanpa pengulangan. Tatkala para sahabat mendengar nabi mengucapkannya dengan penuh perhatian, dan sampai mencapai kedudukan yang begitu tingginya dalam Islam, mereka pun berkata, “(Hak) untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau pun menyebutkan lima perkara yang disebutkan dalam hadits ini. Dan telah dijelaskan pula oleh sebagian besar para ulama tentang penafsiran makna hadits ini. Dan dari penjelasan para ulama yang
terbaik dalam hal ini adalah apa yang dijelaskan oleh Abu ‘Amr Ibnush Shalah dalam kitabnya yang berjudul “Shiyanatu Shahihi Muslim, minal Ikhlaali wal Ghalath, wa Himayatuhu minal Isqaathi was Saqath” (halaman 223-224), beliau berkata, “Dan nasihat merupakan kata yang global dan menyeluruh, yang mengandung arti bahwa si penasihat sangat memberikan perhatian penuh terhadap orang yang dinasihatinya agar ia mempraktekkan semua bentuk kebaikan dari segala sisinya, baik berupa keinginan (niat) ataupun perbuatan.

Maka, maksud dari nasihat untuk Allah adalah; mentauhidkannya, menyifatinya dengan sifat yang sempurna dan mulia, menyucikannya dari sifat-sifat yang bertentangan dengan kesempurnaan dan kemuliannya, tidak bermaksiat kepada-Nya, melakukan ketaatan kepada-Nya dan melaksanakan apa-apa yang dicintai-Nya dengan
ikhlas, mencintai karena-Nya dan membenci karena-Nya, berjihad melawan orang-orang yang kafir dan membangkang kepada-Nya, dan mengajak dan menganjurkan (orang lain) untuk berjihad orang-orang yang kafir dan membangkang kepada-Nya.

Adapun maksud dari nasihat untuk kitab-Nya adalah; beriman kepadanya, mengagungkannya, menyucikannya, membacanya dengan bacaan yang benar. Memperhatikan perintahperintah dan larangan-larangannya, berusaha memahami ilmu-ilmunya dan perumpamaanperumpamaannya, meresapi kandungan ayat-ayatnya dan mendakwahkannya, dan mencegah usaha orang-orang yang ingin merubahnya dan mencelanya.

Adapun maksud dari nasihat untuk Rasul-Nya, maka seperti itu pula dan mendekatinya. Yaitu; beriman kepadanya dan kepada apa-apa yang ia bawa (berupa risalah Islam ini), menghormati dan mengagungkannya, senantiasa berpegang teguh dengan ketaatan kepadanya, menghidupkan sunnah-nya, menyebarluaskan ilmunya, memusuhi orang yang memusuhinya dan memusuhi sunnah-nya, mencintai dan berloyalitas terhadap orang yang mencintainya dan mencintai sunnah-nya, berakhlak dengan akhlaknya, beradab dengan
adabnya, mencintai keluarganya dan para sahabatnya, dan semisalnya.

Adapun maksud dari nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin adalah; membantu dan menolong mereka dalam al-haq dan ketaatan kepada mereka, mengingatkan mereka (di saat mereka lalai) dengan cara yang baik dan lemah lembut, tidak berdemonstrasi atau melawan kepada mereka, mendoakan mereka agar mereka diberi taufiq (oleh Allah), dan menganjurkan atau mengajak orang-orang yang menginginkan kebaikan agar mendoakan mereka.

Adapun maksud dari nasihat untuk kaum muslimin secara umum (selain para pemimpin mereka) adalah; membimbing mereka untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan maslahat bagi mereka, mengajarkan mereka perkara agama mereka, menutupi aurat
mereka, menutupi aib dan kekurangan mereka, menolong dan membantu mereka melawan musuh-musuh mereka, membela mereka, menjauhkan segala bentuk penipuan dan hasad dari mereka, mencintai untuk mereka seperti ia suka mencintai untuk dirinya sendiri,
membenci untuk mereka seperti ia tidak suka membenci untuk dirinya sendiri, dan yang serupa dengan itu”.

3- Pelajaran dan faidah hadits:
a. Agung dan tingginya keadaan dan kedudukan nasihat dalam syariat Islam.
b. Penjelasan untuk siapa nasihat diperuntukkan.
c. Anjuran untuk menasihati kepada lima hal yang dijelaskan dalam hadits.
d. Semangat para sahabat dalam memahami perkara-perkara agama. Hal itu dapat diketahui dari pertanyaan mereka tentang nasihat ini.
e. Sesungguhnya agama disebutkan untuk diamalkan, karena Nabi menamakan nasihat ini sebagai agama.

Catatan Kaki:

1. Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali dari kitab Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr -hafizhahullah-, cetakan Daar Ibnul Qayyim & Daar Ibnu ‘Affan, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H/ 2003 M. Hadits ke-7, halaman 44 sampai 46.
2. HR Muslim (55).

Tag:, , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: