Kesempurnaan Akhlaq Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Oleh :
Faqîhuz Zamân
Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn
Rahimahullâhu wa Askanahu al-Jannah al-Fasîh

Siapakah orang yang paling sempurna akhlaqnya? Tentu saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang beliau:

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung.”(QS. al-Qolam: 4)

Dan dalam sebuah hadits yang shahih, bahwa Hisyam bin Hakim
bertanya kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu ia menjawab:

كان خلقه القرآن

Akhlaq beliau adalah Al-Qur’an“,
kemudian ia berkata: Sungguh, aku langsung berhasrat untuk berdiri dan tidak bertanya apa-apa lagi [1].

Maka, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba yang paling sempurna akhlaqnya dalam segala segi kebaikan dan segala sifat serta perbuatan dan perlakuan. Dan peristiwa-peristiwa serta kejadian-kejadian yang telah terjadi pada masa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menunjukkan akan kebaikan akhlaqnya.

Bahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulunya juga berakhlaq mulia meskipun hanya dengan anak-anak. Beliau berlaku lemah-lembut dengan dan bercanda dengan mereka, dan ia pun berkata kepada salah seorang anak kecil:
Wahai Abu ‘Umair, apa yang diperbuat oleh Nughair? [2]”

Abu ‘Umair adalah kunyah[3] bagi bocah kecil, dan ia mempunyai
Nughair yakni seekor burung kecil seperti burung pipit. Burung tersebut mati, maka Abu ‘Umair bersedih dan berduka, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun berlemah lembut
kepadanya seraya berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apa yang
diperbuat oleh Nughair?”.

Dan begitu pula, di antara kemuliaan akhlaq Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan rasa kasih sayangnya terhadap sesama, bahwa ada seorang A’raabi[4] yang datang kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian ia kencing di dalam masjid. Para sahabat pun melarang dan menghardiknya dengan keras, akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang mereka. Maka, ketika ia selesai dari kencingnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan para sahabat untuk mendatangkan ember besar yang berisi air, lalu disiramkan pada tempat kencingnya tersebut. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memanggilnya lalu berkata:

إن هذه المساجد لا يصلح فيها شيء من الأذى والقذر إنما هي للصلاة وقراءة
القرآن

Sesungguhnya masjid-masjid ini bukanlah tempat untuk membuang kotoran, akan tetapi sebagai tempat untuk mendirikan shalat dan membaca Al-Qur’an“, atau sebagaimana yang telah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan.

Dan sisi kemuliaan akhlaq Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
dalam kisah ini sangat jelas sekali, dimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mencela A’raabi tersebut dan tidak pula menyuruh para sahabat untuk memukulnya, akan tetapi beliau membiarkannya sampai ia selesai dari kencingnya. Baru setelah itu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahukan kepadanya, bahwa masjid itu bukanlah sebagai tempat seperti yang telah ia perbuat, akan tetapi sebagai tempat untuk menunaikan shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an.

Dan begitu pula, di antara kemuliaan akhlaqnya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kasih sayangnya terhadap kaum mukminin, bahwasanya ada seorang laki-laki datang menemui Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, binasalah aku!!”, lalu beliau bertanya padanya: “Apa yang membuatmu binasa?”, laki-laki tersebut menjawab: “Aku telah bersetubuh dengan istriku pada siang hari di bulan Ramadhan.”

Nabi berkata padanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang budak?”, dia berkata: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau sanggup untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”, dia menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab: “Tidak.” Lalu ia pun duduk. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengambil sebuah al-‘Aroq atau wadah [5] berisi kurma lalu memberikannya kepada lelaki tersebut, kemudian beliau berkata kepadanya: “Bersedakahlah dengannya.” Ia berkata: “Adakah yang lebih fakir dariku?! tidak ada lagi di antara dua ujung kota ini orang yang lebih membutuhkan dari diriku.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun tertawa sampai-sampai terlihat gigi taringnya, lalu beliau berkata: “Pergilah, dan berilah makan keluargamu [6]”.

Kemuliaan akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam kisah
ini nampak jelas sekali, dimana beliau tidak menghardik lelaki tersebut, dan tidak pula mencaci-maki atau bahkan mencelanya.
Karena lelaki tersebut datang kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam keadaan menyesal, bertaubat dan diliputi oleh rasa takut. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun melihat dengan ilmu dan kebijaksanaannya, bahwa lelaki tersebut tidak pantas untuk dicela, akan tetapi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan kepadanya suatu kebenaran yang datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan menyambutnya dengan penuh lemah-lembut dan sikap yang halus. Hal ini merupakan rasa kasih sayang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang Allah puji-puji dalam Al-Qur’an dengan firmanNya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Allah juga berfirman:

Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(QS. at-Taubah: 128)

Adapun sifat-sifat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seluruhnya, maka dia adalah yang utama dalam setiap sifat terpuji yang telah kita ketahui bersama secara syara’ dan tabiat.

Dalam hal kedermawanan: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dermawan, ia rela memberi suatu pemberian yang tidak pernah seseorang pun melakukannya. Datang seseorang kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberinya kambing yang berada di antara dua gunung, kemudian orang itu pulang ke kaumnya lalu berkata: Wahai kaumku! Masuklah kalian semua ke dalam agama Islam, sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian
yang tidak lagi ditakuti adanya kesusahan setelahnya [7].

Jabir bin ‘Abdillah berkata: Sama sekali tidak pernah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika ditanya lalu berkata: “Tidak[8]”.
Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam perjalanan pulang dari perang Hunain, orang-orang arab badui mengikutinya, meminta bagian darinya. Lalu mereka menyandarkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di sebuah pohon sehingga selendang- nya tersangkut pada pohon tersebut, sedang beliau masih di atas hewan tunggangannya. Lalu beliau berkata:

ردوا علي ردائي أتخشون علي البخل ؟ فوالله لو كان لي عدد هذه العِضاه نعما
، لقسمته بينكم ، ثم لا تجدوني بخيلا ، ولا جبانا ، ولا كذوبا

Kembalikan selendangku! apakah kalian khawatir aku akan bakhil? Demi Allah, jika saja aku mempunyai unta sejumlah ‘idhaah[9] (pohon) ini, tentu aku akan membagikannya kepada kalian, lalu kalian tidak akan lagi mendapatiku sebagai seorang
yang bakhil, pengecut, dan tidak juga sebagai seorang pendusta
[10]”.

Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga selalu mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri. Dia Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sering memberikan bantuan kepada orang lain, lalu berlalu darinya sebulan atau dua bulan sedang di rumahnya tidak pernah dinyalakan api sama sekali [11].

Ada seorang wanita memberi hadiah kepada Beliau Shallallahu
‘alaihi wa Sallam sebuah baju tebal hasil tenunan seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku pakaikan ini kepadamu, beliau pun lalu mengambilnya dengan keadaan membutuhkannya kemudian memakainya. Ada seorang sahabat yang melihatnya memakai baju tersebut kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, alangkah bagusnya baju ini, pakaikanlah kepadaku, beliau menjawab: “baiklah“. Maka, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdiri, para sahabat memaki-maki lelaki tersebut, lalu mereka berkata: “Alangkah bagusnya dirimu ketika engkau melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengambilnya dalam keadaan membutuhkannya, kemudian engkau memintanya dari beliau, dan sungguh engkau telah mengetahui bahwa tidaklah beliau dimintai sesuatu lalu mencegahnya (tidak memberikannya).”

Kemudian dia pun berkata: “Aku berharap keberkahan dari baju tersebut setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memakainya, aku berharap agar aku nanti dikafani dengannya (ketika meninggal)”[12].

Dan kedermawanan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah kedermawanan yang tepat pada tempatnya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berinfak untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena Allah; terkadang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berinfak untuk orang yang fakir, atau orang yang membutuhkan, atau di jalan Allah, dan terkadang sebagai pengikat hati bagi orang yang baru masuk Islam, atau juga sebagai syari’at untuk umat ini.

Sumber: Kitab Makarimul Akhlak, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Alih bahasa: Abu Musa Al-Atsary hafidzahullah

______________

Footnote:

1. Dikeluarkan oleh Imam Muslim, No (476) di Kitaabu Shalaatil Musaafiriin, dan Abu Daud, No (1342) di Kitaabush Shalaah. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara ringkas, No (2333) di Kitaabul Ahkaam, dan Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad, (6 / 45, 91, 111,
163, 188, 216).

2. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (6203) di Kitaabul Adab, dan Muslim, No (30) di Kitaabul Aadaab.

3. Sebutan atau nama seseorang dengan menggunakan kata depan ” Abu “, seperti Abu Musa yang nama aslinya adalah ‘Abdullah bin Qais, Abu Hurairah yang mempunyai nama ‘Abdurrahman bin Sahkr, dll -pent.

4. Arab badui yang datang dari pelosok desa -pent.

5. Al-‘aroq sama artinya dengan zinbiil, quffah, dan miktal, menurut ahli fiqih artinya adalah sebuah wadah yang cukup untuk menampung lima belas sha’, yaitu sebanyak enam puluh mud untuk enam puluh orang miskin, bagi setiap orang miskin mendapat satu mud. Periksa: kitab Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi (7 / 226).

6. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (1936) di Kitaabush Shaum, dan No (2600) di Kitaabul Hibah, dan No (5367) di Kitaabun Nafaqoot, dan No (6087) di Kitaabul Adab. Dan dikeluarkan juga oleh Imam Muslim, No (81, 82, 83, 84, 85, 86, 87) di Kitaabush
Shiyaam.

7. Dikeluarkan oleh Imam Muslim, No (57 & 58) di Kitaabul Fadhaa-il.

8. Dikeluarkan oleh Imam Muslim, No (56) di Kitaabul Fadhaa-il.

9. Al-‘idhaah ialah pohon besar dan tebal serta mempuyani akar yang kokoh.

10. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (2821) di Kitaabul Jihaad Was Siar, dan No (3148) di Kitaabu Fardhil Khumus.

11. Yakni hadits dari ‘Aisyah, ia berkata: Sungguh kami dahulu pernah memperhatikan bulan sabit hingga datang bulan berikutnya, tiga kali bulan sabit dalam dua bulan, sedang dalam rumah-rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah dinyalakan api. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (6459) di Kitaabur Riqaaq, dan Imam Muslim, No (28) di Kitaabuz Zuhd.

12. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (6036) di Kitaabul Adab.

Tag:, ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: