Bersiwak, Makna dan Disyariatkannya

Ditulis oleh A Syaikh bu Malik Kamal as-Sayid Salim -hafidzahullah- di kitab Shahih Fiqh Sunnah

Siwak diambil dari kata saka, yang artinya menggosok. Menurut istilah, bersiwak ialah menggunakan kayu siwak (‘ud) atau sejenisnya pada gigi untuk menghilangkan warna kuning atau yang lainnya.[1]

Bersiwak dianjurkan di semua waktu, berdasarkan hadits Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Siwak dapat membersihkan bau mulut dan mendatangkan keridhaan Rabb (Allah, -edt.)”[2]

Bersiwak lebih dianjurkan pada waktu-waktu berikut ini:

1. Saat hendak berwudhu. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya telah aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu.”[3]

2. ketika hendak shalat. Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya telah aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak shalat.”[4]

3. Ketika membaca al-Qur’an. Berdasarkan hadits Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami diperintah Nabi untuk bersiwak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya jika seorang hamba bangun pada malam hari untuk shalat, maka datang kepadanya seorang malaikat. Ia akan berdiri di belakangnya untuk mendengarkan al-Qur’an dan mendekat kepadanya. Ia terus mendengarkan dan mendekat hingga meletakkan mulutnya pada mulut orang itu. Dan tidaklah ia membaca satu ayat melainkan masuk ke dalam rongga malaikat’.”[5]

4. Ketika masuk ke dalam rumah. Berdasarkan hadits al-Miqdam bin Syuraih dari ayahnya, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah, “Apakah yang mula-mula dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau memasuki rumahnya?” Aisyah menjawab, “Bersiwak.”

5. Ketika hendak mengerjakan shalat malam. Dasarnya adalah hadits Hudzaifah, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun pada malam hari untuk tahajjud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.”[6] Maksudnya, menggosok gigi dengan siwak.

Dalam bersiwak dianjurkan untuk menggunakan kayu Arak (kayu siwak). Jika tidak ada, maka dianjurkan untuk menggunakan yang lain yang dapat membersihkan mulut dan membersihkan gigi, seperti menggunakan sikat gigi beserta pasta gigi. Wallahu a’lam.


[1] Nail al-Authar (I/102)

[2] Shahih, diriwayatkan oleh an-Nasa’i (I/50), Ahmad (VI/47, 62) dan selain keduanya.

[3] Diriwayatkan oleh Ahmad, dan tercantum pada Shahih al-Jami’ (53) (6)

[4] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (6813) dan Muslim (252)

[5] Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, dikeluarkan oleh al-Baihaqi (I/38). Lihat ash-Shahihah (1213)

[6] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (246) dan Muslim (255)

Tag:, , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: