Bolehkah Seorang Laki-laki Buang Air Kecil Sambil Berdiri?

Penulis: Abu Malik Kamal as-Sayid Salim -hafidzahullah-

Dalam bab ini ada lima hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tiga di antaranya adalah hadits shahih. Pertama, hadits pengingkaran Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air sambil berdiri. Kedua, hadits yang menyebutkan, beliau pernah buang air kecil sambil berdiri. Ketiga, hadits yang menceritakan bahwa beliau buang air kecil sambil duduk.

Sedangkan dua hadits lainnya dhaif. Salah satunya, melarang buang air kecil sambil berdiri. Dan yang kedua, menerangkan bahwa buang air kecil sambil berdiri adalah perbuatan yang tidak sopan. Berikut ini hadits-haditsnya:

1. Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Barangsiapa yang bercerita kepada kalian bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air kecil sambil berdiri, maka janganlah mempercayainya. Rasulullah tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk.”[1]

2. Hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat buang sampah suatu kaum, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri dan aku pun menyingkir. Beliau berkata, “Mendekatlah!” Akupun mendekat hingga aku berdiri di belakang beliau. Beliau lalu berwudhu dan mengusap sepasang sepatunya.”[2]

3. Hadits Abdurrahman bin Hasanah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami, sementara di tangan beliau terdapat benda seperti perisai. Beliau meletakkannya lalu duduk di belakangnya dan bung air kecil.”[3]

4. Hadits Ibnu Umar, ia berkata, Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat aku buang air kecil sambil berdiri, maka beliau mengatakan:

Ya Umar, janganlah engkau buang air sambil berdiri.’ Setelah itu, aku tidak pernah lagi buang air kecil sambil berdiri.”[4]

5. Hadits Buraidah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ada tiga perkara tanda tabiat yang kasar: seorang buang air kecil sambil berdiri, mengusap dahinya sebelum selesai shalatnya, atau meniup tempat sujudnya.”[5]

Penulis berkata: Berdasarkan hadits-hadits di atas, ulama berbeda pendapat tentang hukum buang air kecil sambil berdiri dengan tiga pendapat berikut ini:[6]

Pertama, dimakruhkan bila dilakukan tanpa ada udzur. Ini adalah pendapat Aisyah, Ibnu Mas’ud, Umar dalam salah satu riwayatnya, Abu Musa, asy-Sya’bi, Ibnu Uyainah, Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Kedua, dibolehkan secara mutlak. Ini adalah pendapat Umar –dalam riwayat yang lain-, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar, Sahl bin Sa’d, Anas, Abu Hurairah, Hudzaifah, dan merupakan pendapat Hanabilah.

Ketiga, dibolehkan, apabila dilakukan di tempat yang lembek sehingga tidak memercikkan air seni, dan tidak dibolehkan bila tempatnya keras. Ini adalah madzhab Malik, dan dirajihkan oleh Ibnu al-Mundzir.

Penulis berkata: Pendapat yang kuat adalah tidak dimakruhkan buang air kecil dengan berdiri, selama aman dari percikan air seninya, berdasarkan alasan-alasan berikut ini:

1. Tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perbuatan tersebut.

2. Adapun riwayat yang menyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air kecil sambil duduk, tidak menafikan bolehnya buang air kecil sambil berdiri, bahkan menunjukkan bolehnya kedua cara tersebut.

3. Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau buang air kecil sambil berdiri.

4. Adapun penafian dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air kecil sambil berdiri, adalah berdasarkan pengetahuannya akan perbuatan beliau di rumahnya. Hal ini tidaklah menafikan, di luar rumah beliau pernah buang air kecil sambil berdiri. Tidak diragukan lagi bahwa tidak mengetahui sesuatu bukanlah berarti sesuatu itu tidak ada. Orang yang mengetahuinya –seperti Hudzaifah dan selainnya- adalah hujjah bagi orang yang tidak mengetahuinya, dan orang yang menetapkan harus didahulukan daripada orang yang menafikan. Wallahu a’lam

Sumber:
Shahih Fiqh Sunnah (Edisi Indonesia, penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsary, terbitan Pustaka at-Tazkia – Jakarta)

[1] Shahih lighairih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (12), an-Nasa’i (I/26), Ibnu Majah (307) dan Ahmad (VI/136)

[2] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (226), Muslim (273) dan selain keduanya.

[3] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (22), an-Nasa’i (I/27), Ibnu Majah (346) dan Ahmad (IV/196)

[4] Dhaif, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (308), al-Baihaqi (I/202), al-Hakim (I/185), at-Tirmidzi mengomentari nadits ini dan mendhaifkannya. (I/ 67 – Ahwadzi).

[5] Hadits munkar, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam at-Tarikh (496), al-Bazar (I/547) dan dinyatakan munkar oleh al-Bukhari dan at-Tirmidzi, dan hadits ini dinisbatkan juga dari perkataan Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-.

[6] Al-Majmu’ (II/98) dan al-Ausath (I/333)

Tag:, ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: