Adab Buang Hajat

Barangsiapa yang ingin buang hajat, baik buang air kecil maupun buang air besar, maka ia harus menjaga adab-adab berikut ini:

1. Hendaklah ia menutup diri dan menjauh dari manusia, terlebih saat  buang air di tempat terbuka. Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Dan tidaklah Rasulullah mendatangi tempat buang air hingga beliau menghilang dan tidak terlihat.”[1] [*]

2. Tidak membawa sesuatu yang bertuliskan nama Allah.[2] Seperti cincin yang bertuliskan nama Allah dan sejenisnya, sebagai bentuk pengagungan nama Allah seperti yang telah diketahui dalam ajaran agama ini. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

ذَٲلِكَ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَـٰٓٮِٕرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

Dalam hal ini telah diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak memasuki tempat buang hajat, beliau meletakkan cincinnya.”[3] Tetapi ini hadits munkar yang dicela oleh para ahli hadits. Seperti telah diketahui, cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertuliskan: Muhammad Rasulullah.[4]

Penulis berkata: Apabila cincin atau sejenisnya itu tersembunyi, seperti diletakkan di dalam saku dan sejenisnya, maka boleh membawanya masuk. Ahmad bin Hambal berkata, “Jika mau, ia boleh menggenggamnya dengan tangannya.”

Jika ia takut kehilangan bila meletakkannya di luar, ia boleh membawanya masuk. Wallahu a’lam.

3. Membaca basmalah dan isti’adzah ketika memasuki tempat buang hajat. Hal ini dilakukan ketika hendak masuk WC, atau mengucapkannya pada saat menggulung lengan bajunya, jika dilakukannya di lapangan terbuka. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Batasan antara jin dan aurat anak Adam (sehingga jin tidak melihatnya), ketika salah seorang dari mereka masuk ke tempat buang hajat, ialah dengan mengucapkan: Bismillah.”[5]

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempat buang hajat, beliau berucap:

“Aku berlindung kepada Allah dari setan laki-laki dan setan perempuan.”[6]

4. Mendahulukan kaki kiri saat masuk, dan kaki kanan saat keluar. Aku belum menemukan nash khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam as-Sail al-Jarar (I/64), “Adapun mendahulukan kaki kiri saat masuk dan kaki kanan saat keluar, ada benarnya. Karena disukai mendahulukan yang kanan, untuk hal-hal yang mulia, dan yang kiri untuk hal-hal yang tidak mulia. Dan banyak dalil yang menunjukkan hal itu.”

5. Tidak menghadap atau membelakangi kiblat ketika duduk untuk buang hajat. Dasarnya adalah hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Jika kalian buang air besar, janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.”

Abu Ayyub berkata, “Kami pergi ke Syam. Kami dapati di sana tempat-tempat buang air menghadap ke kiblat. Kami pun membelokkan sedikit darinya, dan meminta ampun kepada Allah Subhaanahu  wa Ta’ala.”[7]

Akan tetapi telah shahih dari Ibnu Umar, ia berkata, “Suatu hari aku menaiki atap rumah kami. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertumpu di atas dua batu bata dengan menghadap Baitul Maqdis untuk buang hajat.”[8]

Jika beliau menghadap Baitul Maqdis di Madinah –padahal beliau di Madinah- berarti beliau membelakangi ka’bah!

Penulis berkata: Dalam memahami hadits ini ada empat pendapat yang masyhur di kalangan ulama:[9]

Pertama, larangan menghadap dan membelakangi kiblat secara mutlak, baik di dalam ruangan maupun di tempat terbuka. Ini adalah madzhab Abu Hanifah, Ahmad, dan Ibnu Hazm, serta pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ibnu Hazm menukilnya dari Abu Hurairah, Abu Ayyub, Ibnu Mas’ud dan Saraqah bin Malik, serta dari ‘Atha’, an-Nakha’i, ats-Tsauri dan Abu Tsaur.[10] Mereka berdalil dengan hadits Abu Ayyub yang telah disebutkan di atas.

Mereka menjawab hadits dari Ibnu Umar dengan beberapa hal:

a. Larangan harus didahulukan daripada dalil yang membolehkan.

b. Tidak ada yang menunjukkan hal itu (pembolehan) terjadi setelah larangan menghadap dan membelakangi kiblat.

c. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah bertentangan dengan perkataan yang khusus ditujukan untuk umat. Kecuali bila ada dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan beliau itu untuk dicontoh. Jika tidak, maka perbuatan itu khusus untuk beliau.

Penulis berkata: Poin terakhir ini mungkin dikuatkan dengan keungkinan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma melihat perbuatanNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut tanpa sengaja. Sepertinya Nabi tidak menghendaki penjelasan tentang sebuah hukum syar’i yang baru dari perbuatan beliau tersebut.

Kedua, larangan itu khusus bagi yang buang hajat di tanah lapang bukan di dalam bangunan. Ini pendapat Malik, asy-Syafi’i, salah satu dari dua riwayat yang paling shahih dari Ahmad, dan Ishaq. Mereka menempuh jalur kompromi di antara dua dalil. Menurut mereka, kaidah “mendahulukan ucapan dari perbuatan” baru bisa dipakai dalam keadaan adanya khushusiyyah (dalil yang mengkhususkan), sementara tidak ada dalil yang menetapkan adanya khushusiyyah dalam masalah ini.

Ketiga, boleh membelakangi kiblat dan tidak boleh menghadap kiblat. Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hanifah dan Ahmad, karena mengamalkan zhahir hadits Ibnu Umar dan hadits Abu Ayyub.

Keempat, boleh menghadap dan membelakangi kiblat secara mutlak. Ini adalah pendapat Aisyah, Urwah, Rabi’ah dan Dawud. Argumen mereka bahwa hadits-hadits (dalam masalah ini) saling kontradiktif, maka masalah ini dikembalikan kepada hukum asal, yaitu boleh.

Penulis berkata: Barangkali pendapat yang pertama –yaitu haram secara mutlak- itulah yang kuat dalilnya dan yang paling selamat untuk diamalkan. Wallahu a’lam.

6. Tidak berbicara secara mutlak, kecuali bila ada keperluan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, seorang lelakiberpapasan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau sedang buang air kecil. Lelaki itu mengucapkan salam kepada beliau, namun beliau tidak membalas salamnya.”[11]

Menjawab salam hukumnya wajib. Tetapi beliau meninggalkannya; itu menunjukkan atas haramnya berkata-kata (pada saat buang hajat), terlebih jika menyebut nama Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Tetapi jika berbicara untuk suatu keperluabn yang harus dilakukan, seperti memberitahukan sesuatu, meminta air atau selainnya, maka hal itu diperbolehkan karena adanya keperluan. Wallahu a’lam.

7. Menjauhi buang hajat di jalan yang dilalui manusia, tempat berteduh mereka, atau yang sejenisnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Jauhilah dua perkara yang membawa laknat” Kami bertanya, “Apakah dua perkara yang membawa laknat itu, wahai Rasulullah?” Rasulullzh menjawab, “Yaitu orang yang buang hajat di jalan yang dilewati manusia atau di tempat berteduh mereka.”[12]

8. Menghindari buang air kecil di tempat mandi. Apalagi jika air tidak dapat mengalir. Karena Nabi shallallahu ‘alalihi wa sallam melarang seseorang buang air kecil di tempat mandinya.[13]

9. Menghindari buang air kecil di air yang diam yang tidak mengalir. Dasarnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang buang air kecil di air yang diam (tidak mengalir).[14]

10. Memilih tempat yang gembur lagi lunak ketika buang air kecil, dan menghindari tempat yang keras untuk menjaga diri agar tidak terperciki najis.

11. Memperhatikan adab-adab istinja’ yang telah dijelaskan.

12.Membaca doa, ketika keluar: Ghufranaka (ya Allah ampunilah aku)

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan:

“Ya Allah ampunilah aku.”[15]

Sumber:

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, edisi Indonesia, penerjemah: Abu Ihsan al-Atsary, Pustakaat-Tazkia hal. 120-124


Footnote:

[1] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (2) dan Ibnu Majah (335), dan lafal ini darinya.

[*] Salah satu faidah yang disebutkan al-Akh Abu Rozin adalah, bahwa  tempat kencing berdiri yang ada di toilet-toilet kantor dan bahkan di masjid-masjid belum memenuhi standar syar’i jika menilik pada hadits ini. Di mana orang yang kencing di tempat itu tetap dapat terlihat punggungnya oleh orang yang lalu lalang di belakangnya. Dan yang paling sesuai dengan hadits ini adalah bentuk kamar mandi yang dilengkapi dengan pintu. Wallaahu A’lam.

[2] Al-Mughni (II/87),  al-Mughni (I/227), dan al-Ausath (I/342)

[3] Dhaif, diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nas’i dan Ibnu Majah, hadits ini dinyatakan dhaif oleh Syaikh al-Albani –rahimahullah-

[4] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (5872), Muslim (2092), dan selainnya.

[5] Dishahihkan oleh al-Albani. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Lihat Shahih al-Jami’ (3611)

[6] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (142) DAN Muslim (375)

[7] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (394), Muslim (264) dan selainnya.

[8] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (145), Muslim (266) dan selain keduanya.

[9] Disebutkan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ (II/82) dan al-Hafidz menambahkan dalam al-Fath (I/296) tiga pendapat yang lain.

[10] Al-Muhalla (I/194), al-Fath (I/296), al-Ausath (I/334), as-Sail al-Jarar (I/69) dan al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah (8)

[11] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (370), Abu Dawud (16), at-Tirmidzi, an-Nasa’i (I/15), dan Ibnu Majah (353)

[12] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (68) dan Abu Dawud (25)

[13] Shahih, diriwayatkan oleh an-Nasa’i (I/130) dan Abu Dawud (28)

[14] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (281) dan an-Nasa’i (I/34)

[15] Hasan lighairih, diriwayatkan at-Tirnmidzi (7), Abu Dawud (30) dan Ahmad (VI/155)

Tag:, ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: