Cara membersihkan Macam-macam Najis yang Telah Dijelaskan oleh Nash

1. Membersihkan pakaian yang terkena darah haid. Yaitu dengan mengerik dan menggosoknya, lalu mengeriknya dengan ujung jari-jari agar lepas dan hilang, kemudian mencucinya dengan air. Dasarnya adalah hadits Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata: Seorang wanita datang menemui Nabi, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami pakaiannya terkena darah haid. Apa yang harus dilakukannya? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Engkau mengeriknya, lalu mengeriknya dengan air, kemudian memercikinya, kemudian silakan engkau gunakan untuk shalat.” [1]

Dan juga hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Salah seorang dari kami mengalami haid. Kemudian ia membersihkan darah dari pakaiannya ketika ia telah suci. Ia mencuci dan membersihkan semua bagiannya, kemudian ia gunakan untuk shalat.” [2]
Jika seorang wanita ingin memakai wewangian atau sejenisnya untuk menghilangkan darah tersebut, atau mencucinya dengan air dan sabun atau pembersih lainnya, maka itu lebih baik. Berdasarkan hadits Ummu Qais binti Mahshan, ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang darah haid yang ada pada pakaian, maka beliau menjawab:
Keriklah dengan kayu, lalu cucilah dengan air dan daun bidara.” [3]

2. Membersihkan pakaian dari air seni anak yang masih menyusu (belum memakan makanan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Harus dicuci (pakaian) yang terkena air seni anak perempuan, dan cukup dipercikkan (pakaian) yang terkena air seni anak laki-laki.” [4]

3. Membersihkan pakaian yang terkena madzi. Madzi ini sering terjadi dan sulit dihindari. Karena itu dimudahkan cara pensuciannya menurut syar’i. Yaitu cukup dengan memercikkan air pada pakaian di tempat yang terkena madzi.

Dasarnya adalah hadits Sahl bin Hunaif, ia selalu mengeuarkan madzi, lalu ia bertanya kepada Nabi, “Bagaimana dengan pakaianku yang terkena madzi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
Cukup engkau ambil seciduk air, lalu engkau percikkan pada pakaianmu hingga engkau lihat ia sudah mengenainya.” [5]

4. Membersihkan ujung pakaian wanita. Jika ujung pakaian wanita terkena najis, sesungguhnya ia tersucikan bila bersentuhan dengan tanah yang bersih. Seorang wanita pernah bertanya kepada Ummu Salamah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Aku adalah seorang wanita yang memanjangkan ujung pakaianku, bagaimana jika aku berjalan di tempat yang kotor?” Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjawab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ia disucikan dengan tanah sesudahnya.” [6]

5. Membersihkan bagian bawah sandal. Diriwayatkan oleh Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Jika salah seorang dari kamu datang ke masjid, hendaklah ia membalik sandalnya dan melihat padanya. Jika ia melihat ada kotoran, hendaklah ia menggosoknya ke tanah. Kemudian silakan ia gunakan untuk shalat.” [7]

6. Mensucikan bejana bila anjing minum padanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Cara mensucikan bejana salah seorang dari kamu, jika anjing minum padanya adalah mencucinya tujuh kali. Cucian yang pertama dengan tanah.” [8]

7. Mensucikan kulit bangkai dengan menyamaknya. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Apabila kulit bangkai telah disamak, maka menjadi suci.” [9]

8. Mensucikan tanah yang terkena air seni atau yang sejenisnya. Yaitu dengan menyiramnya. Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyiramkan air pada bekas air seni orang Arab Badui di masjid.[10]  Beliau memerintahkan agar segera memebersihkannya. Jika dibiarkan hingga kering dan hilang bekas-bekas najisnya, maka ia menjadi suci.

9. Mensucikan sumur atau minyak jika najis jatuh padanya. Yaitu dengan menjauhkan dan menghilangkan benda najis tersebut dan apa yang ada di sekitarnya. Adapun selebihnya adalah suci. Dasarnya adalah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang bangkai tikus yang jatuh pada minyak (yang kental). Beliau bersabda:
Buanglah tikus itu dan apa (minyak) yang ada di sekitarnya. Serta makanlah minyak yang tersisa.” [11]

Shahih Fiqih Sunnah, karya Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim (edisi Indonesia, penerjemah Abu Ihsan al-Atsary, penerbit at-Tazkia – Jakarta, hal. 108-111)

_____________

Footnote

1. Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim (291)
2. Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (308) dan Ibnu Majah (630)
3. Hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (363),  an-Nasa’i (I/195), dan Ibnu Majah (268)
4. Shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Abu Dawud (376), an-Nasa’i (I/158), dan Ibnu Majah (526). Hadits ini memiliki banyak pendukung.
5. Hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (210), at-Tirmidzi dan Ibnu Majah (506)
6. Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (383), at-Tirmidzi (143) dan Ibnu Majah (531)
7. Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (646)
8. Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (279) dan Abu Dawud (71)
9. Shahhih, diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya.
10. Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (219) dan Muslim (284)
11. Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (adz-Dzaba’ih, bab ke 34)

Tag:, , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: