Apakah Muntah Bani Adam itu Najis?

Telah disebutkan  bekali-kali bahwa hukum asal segala sesuatu itu adalah suci. Tidak boleh dipindahkan dari hukum asalnya, kecuali dengan adanya penukilan dalil shahih yang dapat dijadikan hujjah, tanpa ada pertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat atau yang sama dengannya. Jika kita menemukannya, maka hal itu bagus. Namun, jika kita tidak menemukannya, kita wajib diam dari mengatakan sesuatu itu najis [1]. Karena klaim tersebut berarti bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah mewajibkan atas hamba-hamba-Nya untuk mencuci benda-benda tersebut, yang diduganya najis dan keberadaannya dapat menghalangi pelaksanaan shalat. Padahal tidak ada dalil mengenai hal itu.

Muntah dan sejenisnya termasuk dalam jenis ini. Tidak ditemukan dalil shahih yang memindahkannya dari hukum asalnya, yaitu suci. Memang ada hadits yang mensinyalir kenajisannya, yaitu hadits Ammar, “Kamu hanya mencuci pakaianmu dari air seni, tinja, muntah, darah dan mani.” Namun hadits ini dha’if, tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Wallahu a’lam.

Ada riwayat shahih dari Abu Darda, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam muntah, maka beliau berbuka dan berwudhu.” [2]

Namun, dalam hadits ini tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa muntah itu najis. Tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya wudhu karena muntah. Tidak juga menunjukkan batalnya wudhu karena muntah. Maksimal yang dapat kita ambil adalah disyariatkannya berwudhu karena muntah. Karena sebatas perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi  wa Sallam, tidaklah menunjukkan suatu kewajiban.

Di  samping itu, tidak semua yang membatalkan wudhu itu adalah najis. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa.

 

Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim hafidzahullah
Footnote
___________

1.  Kalimat “wajib diam dari mengatakan sesuatu itu najis” berasal dari kami (admin) dengan melihat teks kitab yang berbahasa arab (dengan bimbingan al-Akh Abu Razin hafidzahullah). Adapun yang berasal dari kitab tarjim yang diterbitkan oleh Pustaka at-Tazkia, kalimatnya adalah: “wajib melarang orang-orang yang mengatakan najis.”
2.  Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (2381), at-Tirmidzi (87), Ahmad (VI/443) dan selainnya.

Tag:, , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: