Hadits Arbain An-Nawawi Keenam: Halal dan Haram

HADITS KEENAM [1]

Dari Abi Abdillah An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya.

Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.  (HR. Bukhari dan Muslim)[2]

PENJELASAN HADITS:

1- Sabdanya,

,((إِن الْحلال بيٌِّن، وَإِن الْحرام بيٌِّن وَبيَْنَهُمَا مَُشْتَبِهَاتٌ لا يَعَْلَمُهُن كَثِيْرٌ مَِنَ اَلناسَِ))

Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar, belum jelas) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang“, mengandung pengertian bahwa segala sesuatu itu terbagi menjadi tiga:
Pertama: Sesuatu yang jelas halalnya, seperti; biji-bijian, buah-buahan, hewan-hewan ternak. Itu semua halal jika tidak didapatkan dari cara yang haram.
Kedua: Sesuatu yang jelas haramnya, seperti meminum khamr (minuman keras memabukkan), memakan bangkai, menikahi wanita-wanita yang mahram.
Kedua hal ini diketahui oleh orang-orang khusus (para ulama) ataupun orang-orang awam.
Ketiga: Perkara-perkara syubhat (samar) yang berkisar antara yang halal dan haram. Ia bukan termasuk hal-hal yang jelas halalnya, dan bukan pula termasuk hal-hal yang jelas haramnya. Hal-hal inilah yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Namun, hanya diketahui oleh
sebagian mereka.

2- Sabdanya,

))فَمَنِ اَتقَى اَلشبُهَاتِ، اَِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِه وعِرْضِه، وَمَنْ وَقَعَ فِي اَلشبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحرامِ،ََ
كَالراعِي يَرَْعَى حوْل الِْحمى يَوُْشِكُ أَنْ يَرَْتَعَ فِيْه، ألا وَإِن لَِكُلِّ مَلِكٍ حِْمى، ألا وَإِن حِْمى اَللهََِ
محارِمو((ِ

Maka barangsiapa yang menjaga (dirinya) dari syubhat, ia telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, ia pun terjerumus ke dalam (hal-hal yang) haram. Bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, maka hampir-hampir (dikhawatirkan) akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa (raja) memiliki kawasan terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya“.

Ini kembalinya kepada bagian yang ketiga, yaitu perkara-perkara syubhat. Maka, hendaknya seseorang menjauhinya. Karena pada hal demikian ini terdapat keselamatan bagi agamanya yang urusannya berkaitan antara ia dan Allah. Juga terdapat keselamatan bagi  kehormatannya yang hubungannya antara ia dan orang lain. Sehingga, dengan demikian tidak ada lagi celah dan kesempatan bagi orang lain untuk mencelanya. Namun, jika ia menganggap remeh perkara-perkara syubhat ini, ia pun mungkin akan terjerumus ke dalam perbuatan yang jelas keharamannya. Dan sungguh Nabi ` telah memberikan sebuah perumpamaan hal itu bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang. Maka apabila ia jauh dari kawasan terlarang tersebut, ia pun akan selamat dalam menggembalakan hewan-hewan ternaknya. Namun, jika ia dekat-dekat dengan kawasan terlarang tersebut, dikhawatirkan akan memasukinya berserta hewan-hewan ternaknya, sedangkan ia tidak menyadarinya.

Yang dimaksud dengan (( الحِمَى )), adalah lahan atau kawasan (khusus) yang subur (yang biasa) dijaga oleh para penguasa (raja). Mereka melarang orang lain untuk mendekatinya. Maka, orang yang mengembalakan hewan-hewan ternaknya, ia sudah sangat dekat dan hampir-hampir memasukinya. Dengan demikian, ia membahayakan dirinya karena akan dihukum. Sedangkan, kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Maka wajib bagi setiap orang untuk menjauhinya. Sehingga, ia pun wajib menjauhi perkara-perkara
syubhat yang bisa mengantarkannya kepada perbuatan haram.

3- Sabdanya,

))ألا وَإِن فِي الْْجسدِ مَُضْغَةً، إَِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْْجسد كله، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْْجسدُ كله،َ
ألا وهي اَلْقَلْبَُ((.َ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging tersebut buruk, buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati“.

مَُضْغَةً adalah sepotong daging dengan ukuran yang dapat dikunyah. Hal ini mengandung penjelasan agungnya kedudukan hati dalam tubuh ini. Sebagaimana juga mengandung penjelasan bahwa hati adalah penguasa seluruh anggota tubuh. Baiknya seluruh anggota tubuh bergantung pada baiknya hati, dan rusaknya anggota tubuh bergantung pada rusaknya hati.

4- Imam An-Nawawi berkata,
Sabdanya (( وَمَنْ وَقَعَ فِي اَلشبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحرامِ )) Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, mengandung dua makna/perkara:
Pertama: Ia terjerumus ke dalam keharaman, namun ia mengira bahwa hal itu tidak haram.
Kedua: Ia mendekati (hampir-hampir) terjerumus ke dalam keharaman.

Dan hal ini seperti perkataan  المعاصِي بَرِيْدُ اَلْكُفْ رَِ, “Maksiat-maksiat mengantarkan kepada kekafiran“. Karena seseorang, jika terjatuh kepada perbuatan menyimpang (maksiat), ia akan bertahap dan berpindah kepada kerusakan (maksiat) yang lebih besar dari yang semula. Telah dikatakan, hal ini diisyaratkan oleh ayat,

وَيَقۡتُلُونَ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقٍّ۬‌ۚ ذَٲلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ

“…dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas“. (QS. Ali ‘Imran: 112).
Maksudnya, mereka bertahap dalam bermaksiat, sampai akhirnya pada tahapan membunuh para nabi.

Dan dalam hadits,

))لَعَنَ اَللهُ اَلسارِقُ، يَسْرِقُ اَلْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ، وَيَسْرِقُ الْحبْل فَتُقْطَعُ يَدُهَُ((ِ

“Allah melaknat pencuri, ia mencuri sebutir telur lalu dipotong tangannya, ia pun mencuri seutas tali lalu dipotong tangannya”.[3]
Maksudnya, ia bertahap dalam mencuri, mulai dari mencuri sebutir telur, lalu seutas tali, dan seterusnya.

5- An-Nu’man bin Basyir –radhiyallahu ‘anhuma– termasuk di antara para sahabat kecil. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, umur beliau baru mencapai delapan tahun. Dan dalam periwayatan hadits ini, ia telah berkata,

سِمعْت رَسُوْلَ اَللهِ صَلى اَللهُ عليْه وَسَلمَ يَقَُوْلَُ

Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“…
Hal ini menunjukkan sahnya periwayatan anak kecil mumayyiz (yang sudah bisa membedakan yang baik dan buruk). Dan segala sesuatu yang ia dengar (dari Rasulullah) pada masa kecilnya, lalu ia sampaikan tatkala ia dewasa, maka diterima. Demikian halnya orang
kafir yang mendengar pada saat ia kafir, maka (juga diterima) jika ia menyampaikannya tatkala ia (sudah menjadi) muslim.

6- Beberapa faidah dan pelajaran dari hadits ini:
a. Penjelasan pembagian segala sesuatu dalam syariat ini kepada tiga bagian, halal yang jelas, haram yang jelas, dan perkara yang samar berkisar di antara keduanya.
b. Sesungguhnya perkara yang syubhat tidak diketahui oleh mayoritas orang, dan hanya sebagian mereka saja yang mengetahui hukumnya dengan dalilnya.
c. Meninggalkan perkara yang syubhat sampai (benar-benar) diketahui kehalalannya.
d. Perumpamaan digunakan untuk memahami perkara yang abstrak kepada perkara yang kongkrit.
e. Sesungguhnya seseorang, jika ia terjatuh ke dalam perkara syubhat, ia akan mudah meremehkan perkara-perkara yang jelas (haramnya).
f. Penjelasan agungnya kedudukan hati, dan seluruh anggota tubuh mengikutinya. Seluruh anggota tubuh akan baik jika hatinya baik, dan akan buruk jika hatinya buruk.
g. Sesungguhnya kerusakan lahir (seseorang) menunjukkan kerusakan batinnya.
h. Berhati-hati (dan menjuhi diri) dari perkara-perkara syubhat merupakan penjagaan diri terhadap agama seseorang dari kekurangan, dan penjagaan terhadap harga dirinya dari celaan-celaan.

Catatan kaki:

1. Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali dari kitab Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr -hafizhahullah-, cetakan Daar Ibnul Qayyim & Daar Ibnu ‘Affan, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H/ 2003 M. Hadits ke-6, halaman 41 sampai 44.
2. HR Al-Bukhari (52), (2051), Muslim (1599), dan lain-lain.
3. HR al Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-. (Pent).

Penjelasan lain:

Imam Nawawi

Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahumallah-

Tag:, , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: