Apakah Khamer Termasuk Najis?

 

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum khamer ( yakni: apakah dia najis atau tidak, bukan dalam keharamannya, karna telah jelas tentang keharaman khamer, edt– ) dalam dua pendapat:

Pendapat pertama, mengatakan khamer itu najis. Ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya adalah imam madzhab yang empat, dan pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Hujjah mereka adalah firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer (arak), berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah:90)

Menurut mereka, rijs adalah najis. Karena itu, mereka menghukumi kenajisan khamer itu sebagai najis hissiyah.

Pendapat kedua, khamer itu suci.ini adalah pendapat Rabi’ah, al-Laits, al-Muzani dan selainnya dari kalangan salaf. Dan ini adalah pendapat yang dipilih asy-Syaukani, ash-Shan’ani, Ahmad Syakir dan Syaikh al-Albani –rahimahumullah- Inilah pendapat yang rajih berdasarkan alasan sebagai berikut:

1. tidak ada keterangan dalam ayat tersebut yang menunjukkan najisnya khamer. Hal itu dapat dilihat dari beberapa sisi:

a. kata rijs adalah musytarak. Kata ini memiliki arti yang sangat banyak.[1] Di antaranya: kotoran, yang diharamkan, keburukan, siksa, laknat, kufur, kejahatan, dosa,, najis, dan lain-lain.

b. kami tidak pernah menemukan seorang pun dari  kalangan salaf yang menafsirkan rijs dalam ayat tersebut bermakna najis. Bahkan Ibnu Abbas mengatakan, makna rijs adalah sukht (dibenci) [admin 1]. Sementara Ibnu Zaid mengatakan, rijs adalah syarr (keburukan).

c. kata rijs disebutkan dalam Kitabullah –di selain ayat ini—pada tiga ayat. Namun, tidak ada satu pun dari ayat-ayat tersebut bahwa rijs bermakna najis.

Rijs dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:

ڪَذَٲلِكَ يَجۡعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ

“Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al-Ahzab: 125), bermakna adzab.

Kata rijs dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala tentang kaum munafik:

إِنَّہُمۡ رِجۡسٌ۬‌ۖ وَمَأۡوَٮٰهُمۡ جَهَنَّمُ

“Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam.” (At-Taubah: 95). Maksudnya, amalan mereka itu rijs, yakni sangat buruk.

Dan dalam firman-Nya:

فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ مِنَ ٱلۡأَوۡثَـٰنِ

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala [admin2] yang najis itu.” (Al-Hajj: 30)

Berhala disebut rijs, karena merupakan sebab turunnya peringatan dan adzab. Dan yang dimaksud dengannya bukanlah najis hissiyah, karena zat batu-batuan dan berhala bukanlah najis.

Sedangkan rijs dalam firman-Nya:

قُل لَّآ أَجِدُ فِى مَآ أُوحِىَ إِلَىَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ۬ يَطۡعَمُهُ ۥۤ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمً۬ا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ رِجۡسٌ

“Katakanlah, ‘Tidaklah aku  peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku….. karena semua itu kotor’,” (Al-An’am: 145), mengandung dua kemungkinan (bisa berarti najis hissi atau maknawi).

d. ketika khamer dalam ayat itu disebutkan bersama dengan berjudi dan mengundi nasib, maka ini merupakan indikasi kuat yang memalingkan makna rijs kepada selain makna najis. Dan juga dalam firman-Nya:

إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٌ۬

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (At-Taubah: 28)

Karena ada dalil-dalil shahih yang menunjukkan bahwa tubuh orang musyrik itu tidak najis.

e. pengharaman khamer tidak mengharuskan kenajisannya, tetapi benda yang najis pastilah benda itu haram. Misalnya, diharamkan memakai sutra dan emas (bagi laki-laki), padahal keduanya adalah benda yang suci menurut syar’i dan ijma’.

f. kata rijs pada ayat tersebut diikat dengan perkataan, “termasuk amalan setan.” Jadi, ia adalah rijs amali (perbuatan yang najis), yang berarti sangat buruk, diharamkan atau dosa. Bukan berarti najis ‘aini, sehingga menghukumi benda-benda yang disebutkan dalam ayat tersebut sebagai najis

2. di antara dalil-dalil yang dipergunakan untuk menghukumi sucinya khamer, adalah hadits Anas tentang kisah pengharaman khamer. Dalam hadits tersebut disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan seseorang untuk mengumumkan: ‘Ketahuilah sesungguhnya khamer telah diharamkan.’ Aku pun keluar rumah dan menumpahkannya sehingga mengalir di jalan-jalan kota Madinah.”[2] admin 3

3. dalam hadits yang mengisahkan tentang seorang laki-laki yang membawa dua buah kantung air terbuat dari kulit berisi khamer, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ان الله الذي حرّم شُربها حرّم  بيعها

innaLLaHalladzii harrama syurbaHa harrama bai’aHa, –admin

“Sesungguhnya Allah yang mengharamkan meminumnya telah mengharamkan menjualnya.” Maka laki-laki itu membuka penutup dua kantung itu lalu menumpahkannya hingga habis isinya.[3]

Jika khamer itu najis, pastilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyiramkan air pada tanah yang terkena khamer tersebut  untuk mensucikannya. Seperti Rasulullah memerintahkan untuk menuangkan air pada air seni seorang Arab Badui dalam hadits yang telah lalu. Dan tentunya, Rasulullah akan memerintahkan mereka untuk menjauhinya.

Dan jika khamer itu najis, tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pemilik dua kantung itu untuk mencucinya.

4. hukum asal sesuatu adalah suci. Tidak dapat dipindahkan hukumnya kecuali dengan dalil yang shahih, dan dalam hal ini tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Maka tetaplah ia pada hukum asalnya. Wallahu a’lam.

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah – Jilid 1, Abu Malik Kamal bin as-Sayid Salim (Edisi Indonesia,diterjemahkan oleh Abu Ihsan al-Atsary, Penerbit  Pustaka at-Tazkia Jakarta, Cetakan keempat: 2009, hal. 97-100


[1] Lihat an-Nihayah, Ibnu al-Atsir, Lisan al-‘Arabi, Mukhtar ash-Shihah, dan kitab-kitab tafsir.

admin 1   Dari pelajaran yang saya selanggarakan bersama al-Akh Bagus Abu Sumayyah al-Kadiriy –mahasiswa Syariah Lipia pada semester 6, tahun 2011–, kalau tidak salah beliau mengartikan sukht dengan kata, “kemurkaan, yaitu kemurkaan Allah”. Sebagaimana tertulis tangan dalam kitab yang saya salin. Allaahu A’lam

admin 2  Autsan: patung yang dibuat dengan khayalan.

[2] shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (2332) dan Muslim (1980)

admin 3 seandainya itu najis, pasti khamer tidak dibuang di jalan-jalan.

[3] shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1206) dan Malik (1543)

Tag:, , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: