1. Thaharah Haqiqiyah (Pembahasan Tentang Macam-macam Najis)

1. Thaharah Haqiqiyah

Najis

–          Arti Najis

Naijs adalah lawan dari kata thaharah. Najis adalah istilah untuk suatu benda yang kotor secara syar’i. Diwajibkan atas setiap Muslim membersihkan diri dari najis dan mencuci apa-apa yang terkena olehnya.

–          Jenis-jenis Najis

Benda-benda yang disebutkan oleh dalil syar’i sebagai najis adalah sebagai berikut:

 

1&2. Kotoran manusia/tinja dan air seninya

Keduanya adalah najis menurut kesepakatan ulama. Adapun kotoran manusia, dasarnya adalah hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

١ذ١ وطىء ١حكم بنعله ١لاذى فان ١لتر١ب له طهور

Idzaa wathi-a ahadukum bi na’lihi al-adzaa fa innat turooba lahu thohuurun, –admin

“Jika salah seorang diantara kamu menginjak kotoran ( dengan sandalnya, edt– ) maka tanah adalah pembersih baginya.” [1]

Dan yang menunjukkan kenajisannya juga adalah keumuman hadits-hadits yang memerintahkan untuk istinja’, akan disebutkan nanti.

Sedangkan air seni, dasarnya adalah dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang Arab Badui buang air kecil di masjid, lalu bangkitlah beberapa orang mendatanginya, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دعوه ولا تزرموه

Da’uuhu,, walaa tazrimuhu, –admin

“Biarkan dia! Jangan putuskan buang hajatnya.”

Setelah ia selesai, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta se-ember air lalu menyiramkan di atas bekasnya.[2]

 

3&4. Madzi dan Wadi

Madzi adalah cairan halus lagi kental yang keluar ketika syahwat sedang naik, saat bercumbu dengan istri, ketika mengingat jima’ (persetubuhan) atau menginginkannya. Keluarnya tidak memancar, tidak merasa lemas setelah mengeluarkannya, dan kadang-kadang tidak merasakan keluarnya. Cairan ini terdapat pada pria dan wanita, dan pada wanita lebih banyak.[3] Madzi adalah najis menurut kesepakatan ulama’.[4] Karenanya, Nabi memerintahkan untuk mencuci kemaluan darinya.

Dalam Ash Shahihain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang bertanya tentang madzi:

يغسل ذكره ويتوضا

Yaghsilu dzakarahu wayatawadhdha-an, –admin

‘Dia mencuci kemaluannya dan berwudhu’.”[5]

Adapun Wadi adalah cairan berwarna putih dan kental yang keluar setelah buang air kecil. Ini juga najis, berdasarkan ijma’.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Mani, wadi dan madzi. Adapun mani, maka itulah yang menyebabkan wajibnya mandi. Sedangkan wadi dan madzi, ia mengatakan, ‘Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah seperti wudhu untuk shalat’.”[6]

 

5. Darah haidh

Dasarnya adalah hadits Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada kepada Nabi Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullaah, salah seorang dari kami bajunya terkena darah haidh. Apa yang harus dilakukannya?’ Beliau –Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam–  menjawab,

تحته ثم تقرصه بالماء وتنضحه وتصلى فيه

tahuttuHu tsumma taqrudhuHu bil maa-i wa tandhohuHu wa tushalli fiiHi, –admin

“Hendaknya ia mngeriknya, kemudian menggosoknya[7] dengan air, lalu menyiramnya. (Setelah itu),  silakan ia gunakan untuk shalat’.”[8]

 

6. Kotoran hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam hendak buang hajat, lalu beliau bersabda,

ائنى بثلاثة احجار! فوجدت له بحجرين وروثة [حمار] فامسك الحجرين وطرح الروثة وقال: هي رجس

I-tinii bi tsalaatsati ahjaarin! Fawajadtu laHu bi hajaroini waroutsatin (himaar) fa amsaka al-hajaroini wa thoroha ar-routsata. Wa qoola: Hiya rijsun, –admin

‘Bawakan aku tiga buah batu’. Aku menemukan dua buah batu dan kotoran hewan (keledai). Maka beliau mengambil dua buah batu itu dan membuang kotoran hewan, seraya bersabda, ‘(Kotoran) itu adalah rijs’.”[9] Makna rijs adalah najis. Hadits ini menunjukkan, kotoran hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah najis.

7. Air liur anjing

Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

طهور اناء احدكم اذا ولغ فيه الكلب ان يغسله سبع مرات اولاهن بالتراب

thoHuuru inaa-i ahadikum idza walagho fiiHi al-kalbu an yaghsilaHu sab’a marraatin ulaaHunna bit turoobi

“(Cara) membersihkan bejana salah seorang dari kamu, apabila anjing minum padanya, adalah mencucinya tujuh kali. Cucian yang pertama dengan tanah.”[10]  Hadits ini menunjukkan, liur anjing adalah najis.

8. Daging babi

Ini adalah najis, menurut kesepakatan ulama, berdasarkan penegasan firman Allah subhaanahu wa ta’ala, QS. al-An’am:145

قُل لَّآ أَجِدُ فِى مَآ أُوحِىَ إِلَىَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ۬ يَطۡعَمُهُ ۥۤ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمً۬ا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ رِجۡسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor” (Al-An’am: 145)

9. Bangkai

Binatang  yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Bangkai adalah najis, menurut ijma’.

Dasarnya adalah sabda Nabi Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam:

اذا دبغ الا هاب فقد طهر

Idza dubigho al-iHaabu faqod thoHuro

“Apabila kulit sudah disamak, maka ia menjadi suci.”[11] Ihab adalah kulit bangkai. Dan dikecualikan darinya:

a. Bangkai ikan dan belalang. Keduanya adalah suci, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

اُحلّت لنا ميْتتان ودمان فامّا الميتتان فالحوت والجراد وامّا الدمان فالكبد والطِحال

uhillat lanaa maitataani fal huutu wal jaroodu, wa amma ad-damaani fal kabidu wath thihaalu, –admin

“Dihalalkan bagi kami dua jenis bangkai dan dua jenis darah. Adapun dua jenis bangkai adalah bangkai ikan dan bangkai belalang, sedangkan dua darah adalah hati dan ginjal.”[12]

b. Bangkai binatang yang tidak mengucurkan darah, seperti lalat, lebah, semut, kutu, dan sejenisnya. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

اذا وقع الذباب في اِناء احدِكم فليغمسْه كلَّه او لِِِيطرحْه فان في احد جناحيه داءً وفي الاخر شفاءً

idza waqo’a adz-dzubabu fii inaa-i ahadikum fal yaghmisHu kullaHu au liyathrohHu, fa inna fii ahadi janaahaiHi daa-un wafil akhori syifaa-un, –admin

“Jika lalat jatuh pada gelas salah seorang dari kamu, maka hendaknya ia mencelupkan seluruh badannya atau membuangnya. Karena pada salah satu sayapnya ada racun dan pada sayap yang lainnya ada penawarnya.”[13]

c. Tulang bangkai, tanduk, kuku, rambut  dan bulunya, semuanya pada dasarnya adalah suci. Al-bukhari rahimahullah meriwayatkan secara mu’allaq dalam Shahihnya (I/342): Az-Zuhri berkata –tentang tulang bangkai seperti gajah dan selainnya– “Aku mendapati beberapa orang dari ulama salaf menggunakannya sebagai sisir dan sebagai tempat minyak. Mereka menganggapnya tidak mengapa.”

Hammad berkata, “Tidak mengapa dalam bulu bangkai.”

 

10. Potongan tubuh dari hewan yang masih hidup

Bagian tubuh hewan yang diputus, sementara hewan itu masih hidup, hukumnya adalah hukum bangkai. Berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

ما قطع من البهيمة وهي حيّةٌ فهي ميتة

Maa quthi’a minal baHiimati wa Hiya hayyatun fa Hiya maitatun

“Bagian tubuh yang dipotong dari hewan yang masih hidup adalah bangkai.” [14]

11. Su’r (sisa) makanan dan minuman dari binatang buas atau hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya

Su’r ialah air yang tersisa pada wadah atau bejana tempat minum. Dalil yang menunjukkan akan kenajisannya adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau ditanya tentang air yang terdapat di tanah lapang yang sering didatangi binatang buas atau hewan (yang tidak boleh dimakan dagingnya). Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اذا كان الماء قلّتين لم يحمل الخبث

Idzaa kaana al maa-u qullataini lam yahmilil khobatsa, –admin

“Jika air itu kadarnya mencapai dua qullah, maka ia tidak ternajisi.”[15]

Adapun kucing dan sejenisnya, maka sisa minumnya adalah suci; berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

انها ليست بنجس انما هي من الطوّافين عليكم والطوّافات

innaHaa laisat bi najasin, innama Hiya minath thawwaafiina ‘alaikum wath thawwafaati

“Sesungguhnya kucing tidaklah najis, karena kucing adalah hewan yang hidup di sekitar kalian.”[16]

12. Daging hewan-hewan yang tidak boleh dimakan

Dasarnya adalah hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami memakan daging keledai pada peperangan Khaibar, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berseru:

ان الله ورسوله ينهيانكم عن لحوم الحمر فانها رجس او نجس

Innallaaha wa rosuulaHu yanHayaanikum ‘an luhuumil humuri fa innaHaa rijsun au najisun

“Sesungguhnya Allah dan RosulNya melarang kalian (makan) dari daging keledai, karena sesungguhnya ia adalah rijs, atau najis.”[17]

Dan Hadits Salamah bin al-Akwa’, ia berkata, “Pada hari ditaklukannya Khaibar, dinyalakanlah api yang sangat banyak. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

‘Api apa ini; Untuk apa mereka menyalakannya?’. Mereka menjawab, ‘Orang-orang sedang memasak daging.’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Memasak daging apa?’ Mereka menjawab, ‘Memasak daging keledai peliharaan.’ Maka beliau bersabda, ‘Tumpahkanlah dan pecahkanlah (bejananya)!’. Seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rosulullah, ataukah kami menumpahkannya dan mencuci (bejana)nya?’ Beliau menjawab, ‘Atau seperti itu (menumpahkannya dan mencuci bejananya)’.”[18]

Dalam dua hadits di atas, terdapat dalil tentang najisnya daging keledai peliharaan, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang pertama, “karena sesungguhnya ia adalah rijs, atau najis.” Dan berdasarkan perintah beliau dalam hadits yang kedua agar memecahkan bejana itu. Kemudian, setelah itu, beliau membolehkan untuk mencucinya.

Catatan tambahan dari admin:

Jika suatu benda terkena najis dan dibiarkan kering serta bekas najisnya hilang maka benda itupun menjadi suci kembali sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Pada zaman Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam, banyak anjing yang kencing dan berlalu lalang di dalam mesjid. Mereka tidak mengguyurkan air sedikit pun di atasnya” (HR. Bukhari no. 174 secara mu’allaq dan Abu Dawud no. 378)

Maraji :

1.Kitab Shahih Fiqih Sunnah Jilid I, karya al-fadhil Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Pustaka at-Tazkia, Jakarta, Cetakan Keempat, Syawwal 1430 H/ September 2009 M, hal. 91-96

2. Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M melalui http://faaris.wordpress.com/


[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (385) dengan sanad shahih

[2] Muttafaq ‘alaihi: riwayat al-Bukhari (6025) dan Muslim (284)

[3] Fath al-Bari (I/379) dan Syarah Muslim (I/599), An Nawawi

[4] Al Majmu’, An Nawawi (II/6); dan Al Mughni, Ibnu Qudamah (I/168)

[5] Muttafaq ‘alaihi: Al Bukhari (269) dan Muslim ( 303)

[6] Sunan Al Baihaqi (I/115) dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud ( 190)

[7] Yaitu menggosoknya dengan ujung jari agar lepas dan hilang.

[8] Muttafaq ‘alaihi: Al Bukhari (227) dan Muslim (291)

[9] Shahih, diriwayatkan oleh Al Bukhari (156); At Tirmidzi (17); An Nasa’i (42); dan Ibnu Khuzaimah. Tambahan kata keledai adalah dari riwayatnya.

[10] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (279)

[11] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (366)

[12] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3218, 3314) dan Ahmad (II/97) dengan sanad shahih

[13] Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3320)

[14] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1480), Abu Dawud (2858), dan Ibnu Majah (3216)

[15] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (63), an-Nasai (I/46), dan at-Tirmidzi (67) dengan sanad shahih seperti disebutkan dalam Shahih al-Jami’ (758)

[16] shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (V/303) dan penulis kitab Sunan. Lihat al-Irwa’ (173)

[17] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1940), Ahmad (III/121), dan al-Bukhri tanpa lafal, “karena itu adalah najis”

[18] shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1802)

 

Tag:, , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: