Akhlaq Non Muslim

Banyak orang yang mengutarakan bahwa penduduk barat jauh lebih baik akhlaqnya dalam hal mua’malah dan jual beli dari pada kita, sementara engkau akan dapati penipuan, dusta, dan
pemasaran barang dagangan dengan sumpah palsu banyak tersebar di kalangan kita, kaum muslimin.

Dan untuk membantah fitnah ini kita katakan: Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

البينة على المدعي

“Wajib mendatangkan bukti bagi orang yang menuduh”.

Dan sesuatu yang telah masyhur atau tersebar luas pada kebanyakan orang, bahwa penduduk barat mempunyai akhlaq yang terpuji dalam hal mu’alamah, maka hal ini tidaklah benar. Karena sesungguhnya mereka mempunyai akhlaq buruk yang telah diketahui oleh orang yang pernah pergi ke sana dan melihat dengan mata kepala sendiri, dan dengan penuh keadilan dan pertengahan, bukannya seperti mereka yang menatap dengan mata yang penuh rasa pengagungan dan keheran-heranan terhadap masyarakat barat. Seorang penyair bersenandung:

وعين الرضا عن كل عيبٍ كليلةٌ *** كما أن عين السخط تبدي المساويا

Pandangan mata yang penuh ridha dari segala macam cela
sangatlah lemah
Sebagaimana pandangan penuh murka menampakkan sifat
yang hina-dina

Telah banyak sekali dari kalangan pemuda tsiqoh (terpercaya) yang pernah pergi ke barat sana, menceritakan kepadaku tentang perilaku dan keburukan akhlaq mereka. Akan tetapi mereka, jika saling nasehat-menasehati satu sama lain tetap saja mereka. Bukan karena mereka adalah bangsa yang memiliki akhlaq, dan mereka tidak lain lagi adalah hamba pemburu materi. Manusia itu, acap kali ia lebih aktif untuk menasehati dalam hal mua’malah yang bersifat keduniaan seperti ini, maka orang-orang akan semakin aktif untuk menerimanya, dan akan lebih cepat pula untuk membeli dan memasarkan barang dagangannya.

Maka, mereka mau berlaku demikian bukan karena alasan mereka adalah bangsa yang memiliki kesempurnaan akhlaq, akan tetapi karena mereka adalah para pemburu materi. Dan mereka melihat, bahwa di antara hal yang bisa menjadi faktor utama untuk mengembangkan harta mereka adalah dengan memperbaiki sikap mereka dalam hal mua’malah, agar bisa menarik jumlah dan hasil yang banyak kepada mereka. Kalau saja mereka tidak demikian, maka tidak lain lagi mereka adalah seperti yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala sifatkan dalam
firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk
makhluk.” (QS. al-Bayyinah: 6).

Dan saya kira tidak ada seorang pun yang lebih benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mensifati mereka orang-orang yang kafir, bahwa mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Dan
saya yakin hal tersebut tidak bersifat selamanya, akan tetapi apa yang terdapat dalam diri mereka seperti sifat jujur, pandai bicara dan memberikan penjelasan, serta mau memberi nasehat
dalam beberapa bidang mu’amalah, sesungguhnya hal itu tidak lain lagi mereka tujukan untuk selainnya, yaitu demi mendapatkan materi dan rezeki. Kalau tidak demikian, maka siapa yang melihat kedzaliman, tipu daya dan perbuatan aniaya mereka terhadap sesama dalam banyak situasi dan kondisi, tentu ia akan mengetahui kebenaran firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala :

أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. al-Bayyinah: 6)

Akan tetapi, jika dibandingkan dengan apa yang telah terjadi dikalangan kaum muslimin, seperti penipuan, dusta, dan berkhianat dalam hal mu’amalah, maka sesungguhnya mereka para kaum muslimin telah berkurang kadar keislaman dan keimanan yang ada dalam diri mereka sebatas apa yang telah mereka langgar dalam syari’at ini terutama dalam hal mu’amalah.

Kemudian, penyelisihan dan keluarnya sebagian kaum muslimin dari bingkai syari’at Islam ini, seperti pada perkara-perkara di atas, hal ini tidak berarti bahwa kekurangan tersebut berada
dalam syari’at itu sendiri. Karena syari’at ini telah sempurna, sedangkan mereka adalah sebagai pelaku yang berbuat tidak baik kepada syari’at ini, kemudian kepada saudara-saudara mereka dari kalangan kaum muslimin, dan juga kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka dari kalangan non muslim.

Merekalah yang sesungguhnya berbuat tidak baik kepada diri mereka sendiri. Dan orang yang berakal tidak mau menjadikan berbuatan buruk seseorang sebagai keburukan dalam syari’at
ini, walaupun si pelaku keburukan tersebut mengaku bahwa ia beragama Islam.

Oleh karena itu, saya berharap dari seluruh kaum muslimin, agar mereka mempunyai dorongan yang kuat untuk mau memerangi perkara-perkara seperti ini, yang mana semuanya tidak pernah disetujui oleh agama Islam ini, seperti berdusta, berkhianat, berbuat curang, penipuan dan yang sejenisnya. Kemudian, harus kita jelaskan ke masyarakat umum, bahwa di antara kesempurnaan agama ini adalah dengan kesempurnaan akhlaq, sebagaimana yang telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Ia bersabda:

أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا

Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya [1]”.

Atas dasar inilah, maka setiap orang yang kurang baik akhlaqnya, pasti ia kurang sempurna agamanya, karena kesempurnaan agama berkaitan erat dengan kesempurnaan akhlaq [2]. Untuk itu, pengaruh seseorang yang mempunyai kesempurnaan akhlaq terhadap sesama, seperti untuk menarik dan membawanya masuk ke dalam agama Islam, tentu akan lebih besar dari pengaruh seorang pemeluk agama yang berakhlaq buruk. Dan seandainya orang yang kuat dalam hal ibadah mendapatkan taufik atau petunjuk dengan kesempurnaan akhlaq ini, maka hal itu akan menjadi lebih baik dan lebih sempurna lagi.

Sumber Bacaan:

Dari E-book berjudul Makarimul Akhlak, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah [Dialihbahasakan oleh : Abū Mūsâ al-Atsarî], hal. 58-62

[1] Dikeluarkan oleh Abu Daud, No (4682) di Kitaabus Sunnah. Dan Tirmidzi, No (1162) di
Kitaabur Radhaa’, dengan tambahan: ” Dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik
terhadap istrinya “, Imam Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih, dan keduanya terdapat
dalam kitab Shahiihul Jaami’, No (1230 & 1232).

[2] Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Madaarijus Saalikiin: Agama ini semuanya adalah
akhlak, maka apa yang bertambah padamu dari sagi akhlak, maka akan bertambah juga
padamu dari segi agama. (2 / 294).

Tag:, , , , , , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

2 responses to “Akhlaq Non Muslim”

  1. marina says :

    sukron katsir boleh copas, tugas sy terbantukan…jazakumulloh

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: