Di Antara Akhlaq yang Mulia: Tidak Membanggakan atau Menyombongkan Diri, Tidak Khuyalaa’, Baghyu, dan Tidak Istithaalah Terhadap Sesama, Baik Dengan Sebab yang Benar ataupun Tidak

oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (rahimahullah)

Dan di antara akhlaq yang mulia juga: Tidak membanggakan atau menyombongkan diri, tidak
khuyalaa’, baghyu, dan tidak istithaalah terhadap sesama, baik dengan sebab yang benar ataupun tidak.

Adapun membanggakan atau menyombongkan diri biasanya dengan perkataan, sedangkan khuyalaa‘ (yakni takabbur atau sombong) dengan perbuatan. Baghyu maksudnya adalah
melampaui batas atau berbuat aniaya, sedangkan istithaalah artinya merasa lebih tinggi harga diri dan martabat. Maka, manusia dilarang untuk menyombongkan dirinya terhadap yang lainnya dengan ucapan, seperti perkataan: Saya ini orang ‘alim (berilmu)!, saya ini orang kaya!, akulah si
pemberani!. Jika ia menambah lagi hal tersebut dengan meninggi-ninggikan martabatnya di depan orang lain dengan berkata: Apa kedudukan kalian di sisiku? Maka, dalam hal ini ia telah melampaui batas dan merasa lebih tinggi harga dirinya di hadapan makhluk yang lainnya.

Adapun takabbur atau berbuat sombong biasanya dengan perbuatan. Seperti seseorang yang menyombongkan diri ketika berjalan dengan gaya jalannya, dengan wajahnya ketika ia mengangkat kepala dan lehernya, seolah-olah dirinya sudah sampai menjulang tinggi di atas langit. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang yang seperti ini perilakunya, Dia
lberfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi Ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”(QS. al-Israa’: 37)

Maka, wajib bagi anda untuk menjadi orang yang rendah diri dalam perkataan dan perbuatan. Janganlah menyanjung-nyanjung diri anda dengan sifat-sifat yang terpuji, kecuali jika memang berkepentingan atau membutuhkan akan hal itu, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Ibnu Mas’ud:

لو أعلم أحدًا أعلم مني بكتاب الله تبلغه الإبل لركبت إليه

Andai saja aku tahu ada orang yang lebih berilmu tentang Al-Qur’an dari diriku dan (rumahnya) bisa dicapai dengan unta, tentu aku akan menunggangi unta tersebut untuk pergi menemuinya 1.

Sesungguhnya yang ia maksudkan dari perkataan tersebut adalah dua hal di bawah ini:
Pertama: Mendorong manusia untuk mempelajari kitabullah atau Al-Qur’an.
Kedua: Menyeru mereka agar mau mengambil ilmu darinya.

Orang yang mempunyai sifat-sifat terpuji, selamanya dia takkan mengira bahwa orang lain tidak mengetahui sifat-sifatnya tersebut, baik dia menyebutkannya kepada mereka ataupun tidak. Bahkan, jika ada seseorang yang menyebutkan sifat-sifat terpujinya di hadapan manusia, ia malah akan menjadi rendah di depan mata mereka. Maka, hati-hatilah terhadap hal seperti ini.

Sedangkan “baghyu” artinya adalah melampaui batas atau berbuat aniaya terhadap orang lain. Sedangkan tempat sasarannya ada tiga, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

إن دماءكم , وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام

Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram bagi sesama kalian “.2

Maka, melampaui batas atau menganiaya sesama dapat terjadi pada tiga perkara: harta, darah dan kehormatan.

Adapun dalam hal harta: contohnya, mengakui apa yang bukan miliknya atau mengingkari apa yang menjadi tanggunganya, juga mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya. Inilah contoh melampaui batas atau menganiaya sesama dalam hal harta.

Sedangkan dalam hal darah: contohnya, pembunuhan atau tindakan yang lebih rendah tingkat kriminalitasnya dari pembunuhan; seperti: menganiaya seseorang dengan melukainya atau bahkan langsung membunuhnya.

Dan dalam hal kehormatan: kehormatan di sini dapat berarti nama baik atau reputasi. Seperti, seseorang berbuat aniaya terhadap sesama dengan ghiibah atau menggunjingnya, yang mana hal tersebut dapat memperburuk reputasinya. Dan juga dapat berarti zina dan hal-hal yang lebih rendah tingkatannya dari perbuatan zina. Dan semuanya adalah haram hukumnya. Sedangkan di antara akhlaq yang mulia ialah tidak berbuat aniaya dalam hal harta, darah dan kehormatan.

Dan begitu pula dalam hal “isthitaalah” terhadap sesama, yakni ” isti’laa ” atau merasa lebih tinggi tingkat dan derajatnya dari pada orang lain, baik dengan hak yang benar ataupun tidak. Maka, “isti’laa” atau merasa lebih tinggi dari pada makhluk yang lainnya merupakan perbuatan yang dilarang, baik hal itu dengan hak yang benar ataupun tidak. Jadi “isti’laa” berarti orang yang
merasa lebih tinggi dirinya dari pada manusia yang lainnya.

Hakekat dari pembahasan ini, bahwasannya di antara cara untuk mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada pada anda, jika Dia memberi anda suatu kelebihan dari manusia
yang lainnya seperti dalam hal harta, kedudukan, kepemimpinan, ilmu dan selainnya, maka hendaklah anda harus bisa lebih bertambah rendah diri, sehingga anda mampu menambah suatu kebaikan di atas kebaikan yang lainnya.

Karena orang yang berhasil merendahkan diri sedang ia berada pada posisi teratas, maka itulah orang benar-benar rendah diri. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

وما تواضع أحد لله إلا رفعه الله

Tidaklah seseorang bersikap rendah diri, melainkan Allah akan
mengangkat derajatnya “.3

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

إن الله أوحى إلي أن تواضعوا , حتى لا يفخر أحد على أحدِ , ولا يبغي أحد على أحد

Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku (untuk menyuruh) agar kalian bersikap rendah diri, sehingga seseorang tidak merasa sombong terhadap sesama, dan tidak pula berbuat aniaya terhadap yang lainnya “.4

Sumber Bacaan:

Dari E-book berjudul Makarimul Akhlak, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah [Dialihbahasakan oleh : Abū Mūsâ al-Atsarî], hal. 54-58

Footnote:

1 Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (5002) di Kitaabu fadhaa-ilil Qur’aan, dan Muslim, No (115) di Kitaabu Fadhaa-ilish Shahaabah

2. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (1739) di Kitaabul Hajj dari hadits Ibnu Mas’ud, dan No (1741) di Kitaabul Hajj. Dan oleh Imam Muslim, No (31 &29) di Kitaabul Hajj dari hadits Abu Bakroh,dan No (137) di Kitaabul Hajj dari hadits Jabir.

3. Dikeluarkan oleh Imam Muslim, No (69) di Kitaabul Bir Wash Shilah. Imam Nawawi berkata di dalam kitabnya Syarhu shahiihi muslim (16 / 358): Dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah seseorang bersikap rendah diri, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya “, terdapat dua pengertian:

Pertama: Allah akan mengangkatnya di dunia, mengokohkan baginya sebuah kedudukan di hati-hati manusia karena sikap rendah diri darinya, dan Allah akan mengangkatnya di sisi mereka.

Kedua: Yakni Allah akan meninggikan pahalanya di akherat kelak, Ia juga akan mengangkatnya di sana oleh sebab sikap rendah dirinya dahulu di dunia……… , adapun yang dimaksud dari hadits tersebut bisa berarti kedua-duanya secara bersamaan di dunia dan di akherat. Wallaahu a’lam.

4. Dikeluarkan oleh Imam Muslim, No (64) di Kitaabul Jannah Wa Na’iimihaa

Tag:, , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: