Apakah Ada Keluasan dan Rahmat dalam Ikhtilaf? Apakah Kebenaran Itu Lebih dari Satu?

Penutup: Apakah Ada Keluasan dan Rahmat dalam Ikhtilaf? Apakah Kebenaran Itu Lebih dari Satu?

[ Beberapa Persoalan dan Syubhat Seputar Taklid dan Ittiba’ Bag 9

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim ]

Banyak kalangan yang menisbatkan dirinya kepada madzhab-madzhab fiqih –terutama zaman sekarang- yang bertolak-belakang dengan orang-orang yang bergantung pada salah satu madzhab tertentu. Mereka berpendapat boleh mengambil madzhab mana saja, apapun sandarannya. Mereka membolehkan memilih pendapat madzhab  mana saja yang lebih ringan dan sesuai dengan hawa nafsu dan cocok untuk kemaslahatan mereka, walaupun ternyata dalil al-Qur’an atau as-Sunnah bertentangan dengan pendapat yang mereka pilih.

Dengan alasan, pendapat ini juga dinyatakan sebagian ulama dan bahwa perbedaan ini merupakan keluasaan yang diberikan kepada umat ini, seraya berdalil dengan hadits, “Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan umatku adalah rahmat (dari Allah).”

Al-‘Allamah al-Albani rahimahullah menjawab syubhat ini:[1] Syubhat ini bisa dijawab dari dua sisi:

Pertama, hadits tersebut tidak sah, bahkan batil dan tidak ada sumbernya. Al-‘Allamah as-Subki berkata, “Saya tidak temukan hadits ini dengan sanad shahih, dhaif ataupun maudhu.”

Saya katakan, hadits yang ada sanadnya berbunyi: “Perbedaan pendapat di kalangan sahabatku adalah rahmat bagi kalian.”

Dan, “Sahabat-sahabatku laksana bintang. Siapa pun di antara mereka yang kalian ikuti, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.”

Kedua hadits ini tidak sah. Hadits yang pertama sangat lemah, dan hadits yang kedua maudhu (palsu). Hasil analisa kedua hadits ini tidak saya cantumkan seluruhnya dalam Silsilah al-Hadits adh-Dhaifah wa al-Maudhuah (hadits no. 58,59, 61).

Kedua, hadits ini-disamping kelemahannya-juga bertentangan dengan al-Qur’an. Sebab ayat-ayat yang mensinyalir tentang larangan berikhtilaf dalam masalah agama dan perintah agar bersepakat mengenainya terlalu masyhur untuk disebutkan. Tapi tidak ada salahnya disebutkan sebagian ayat-ayat tersebut sebagai contoh. Allah berfirman:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Al-Anfal: 46)

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِي – مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)

وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ – إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.” (Hud: 118-119)

Jika orang yang mendapat rahmat Allah tidak berselisih, dan yang berselisih hanyalah ahli kebatilan; maka bagaimana mungkin masuk akal jika dikatakan perselisihan itu merupakan rahmat?!

Sudah jelas bahwa hadist tersebut tidak sah, baik sanad maupun matannya. Karena itu, kita tidak boleh ragu-ragu dan bimbang, sehingga tidak mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana diperintahkan oleh para imam madzhab.

Sebagian yang lain mengatakan: jika perselisihan atau perbedaan pendapat dalam agama dilarang, lalu bagaimana pendapat Anda mengenai perselisihan pendapat yang terjadi dikalangan para sahabat, para imam, dan ulama-ulama sesudahnya? Apakah ada perbedaan antara perselisihan yang terjadi dikalangan mereka dengan perselisihan yang terjadi di kalangan ulama muta’akhirin?

Jawabnya: “Ya. Ada perbedaan yang sangat besar di antara kedua perselisihan itu. Hal itu terlihat dalam dua hal: Pertama, sebab-sebabnya. Kedua, dampaknya.”

Perbedaan pendapat dikalangan para sahabat terjadi karena semata-mata darurat dan perbedaan yang alamiah dalam memahami sesuatu, bukan perselisihan yang disengaja. Di samping itu, ada faktor-faktor lain yang memicu perbedaan tersebut pada masa mereka. Kemudian lenyap setelah itu. Perbedaan pendapat semacam ini tidak mungkin bisa dihindari secara umum, dan para pelakunya tidak dapat dikatakan melakukan perbuatan tercela karena menyalahi ayat-ayat di atas atau ayat lain yang semakna dengannya. Karena mereka melakukan hal tersebut bukan dengan sengaja, atau bermaksud mempertahankan perselisihan tersebut.

Adapun perselisihan pendapat yang terjadi di kalangan pelaku taklid pada umumnya adalah perbuatan yang tidak dapat dima’afkan. Sebab di antara mereka ada yang sudah mengetahui adanya dalil dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mendukung madzhab lain yang bukan madzhabnya. Ia meninggalkan dalil itu, bukan karena apa-apa melainkan karena dalil tersebut bertentangan dengan madzhab yang dianutnya. Seakan-akan madzhab itu, baginya, adalah prinsip, atau agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sedangkan madzhab lain adalah agama lain yang sudah dihapuskan (tidak berlaku lagi).

Sekelompok lainnya memiliki pendapat sebaliknya. Mereka memandang bahwa semua madzhab, dengan segala macam perbedaan yang begitu banyak, tak ubahnya syari’at yang bermacam-macam. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh sebagian ulama muta’akhirin,tidak ada salahnya seorang Muslim mengambil pendapat mana saja yang disukainya dan meninggalkan mana saja yang disukainya. Sebab semuanya adalah syari’at. Mereka tetap melestarikan perselisihan pendapat yang terjadi di antara madzhab-madzhab itu, berdasarkan hadist batil “Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan umatku adalah rahmat(dari Allah).” Sering kali hadist ini kita dengar sebagai dalil mereka.

Sebagiannya lagi mengemukakan alasan dan mengarahkannya dengan komentar mereka, “Perselisihan pendapat menjadi rahmat, tidak lain karena di dalamnya terdapat kelonggaran atas umat ini.” Padahal alasan ini bertentangan dengan pernyataan para imam madzhab yang telah disinggung sebelumnya. Sebagian imam tersebut dengan tegas menolak hal itu. Ibnu al-Qasim berkata, “Aku pernah mendengar Malik dan Laits berkata tentang perselisihan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak seperti yang dikatakan orang-orang: bahwa dalam perselisihan itu ada kelonggaran. Bukan demikian (perbedaan pendapat tidaklah memberikan kelonggaran untuk mengikuti semuanya), tetapi pendapat yang berbeda itu ada yang salah dan ada yang benar’.”

Asyhab berkata, “Imam Malik pernah ditanya mengenai seseorang yang berpegang pada hadits yang dituturkan oleh orang yang bisa dipercaya dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah menurut pendapat Anda, ia mendapatkan kelonggaran dari hal itu?’

Imam Malik menjawab, ‘Tidak, demi Allah, hingga ia mengambil yang benar. Kebenaran itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar. Sekali lagi, kebenaran itu hanya satu’.”

Al-Muzani, murid Imam asy-Syafi’i, berkata, “Para sahabat Nabi berbeda pendapat, dan ternyata yang satu mengoreksi yang lainnya, dan yang satu meneliti pendapat yang lainnya serta memberikan komentarnya. Jika semua pendapat sahabat itu benar, tentunya mereka tidak saling mengoreksi dan meneliti mana yang salah dan mana yang benar. Umar bin al-Khaththab pernah marah kepada Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Mas’ud karena perbedaan pendapat mereka mengenai hukum orang shalat yangmengenakan satu pakaian. Ubay berkata, ‘Shalat dengan mengenakan satu pakaian saja sudah baik dan bagus.’ Ibnu Mas’ud menanggapi, ‘Satu pakaian itu masih kurang.’ Umar pun keluar dengan marah seraya berkata, ‘Dua orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berselisih pendapat tentang perkara yang dilihatnya dan dicontohnya dari Nabi. Di sini yang benar adalah pendapat Ubay bin Ka’ab, tetapi Ibnu Mas’ud juga tidak keliru. Tetapi jika aku masih mendengar seseorang berselisih mengenai masalah ini setelah hari ini, aku pasti akan ambil tindakan tegas terhadapnya’.”

Imam al-Muzani rahimahullah juga berkata, “Ditanyakan kepada orang yang membolehkan perbedaan pendapat dan beranggapan, jika dua orang ulama melakukan ijtihad dalam suatu kasus, lalu yang satu menyatakan haram dan yang lainnya menyatakan halal; bahwa masing-masing dari keduanya benar dalam ijtihadnya: ‘Apakah Anda berpendapat demikian berdasarkan nash agama ataukah qiyas?’ Jika ia mengatakan berdasarkan nash, maka dapat ditanyakan lebih lanjut kepadanya, ‘bagaimana mungkin hal semacam itu dikatakan berdasarkan nash, padahal al-Qur’an menentang adanya perselisihan pendapat?’ Jika ia menjawab berdasarkan qiyas, maka dapat ditanyakan lebih lanjut kepadanya, ‘Bagaimana mungkin padahal nash-nash menentang perselisihan, sementara Anda membolehkan adanya perselisihan pendapat berdasarkan qiyas? Sikap semacam ini jelas tidak dapat diterima oleh orang yang berakal, apalagi oleh seorang ulama’.”

Jika seseorang mengatakan: Kutipan yang Anda sebutkan dari Imam malik yang menyatakan bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang, bertentangan dengan apa yang tercantum dalam buku al-Madkhal al-Fiqhi, karya Ustadz az-Zarqa (I/86): Abu ja’far al-Manshur, lalu Khalifah Harun ar-Rasyid sebagai penerusnya, ingin sekali menjadikan madzhab Imam Malik dan kitab al-Muwaththa’-nya sebagai hukum peradilan di Daulah Abbasiyyah. Tetapi Imam Malik menolak keinginan kedua khalifah tesebut seraya mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pendapat yang berbeda dalam masalah furu’, dan mereka telah berpencar-pencar di berbagai negeri, serta semuanya benar.”

Penulis jawab: Kisah ini memang sangat terkenal. Namun pernyataannya pada bagian terakhir, “dan semuanya benar”, sejauh sumber yang penulis ketahui adalah ucapan yang tidak diketahui dari mana asal-usulnya. Hanya ada satu riwayat, sebagaimana tercantum dalam riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (VI/332). Dalam sanad riwayat ini terdapat seorang yang bernama Miqdam bin Daud. Ia termasuk salah seorang perawi yang disebutkan Imam adz-Dzahabi dalam adh-Dhu’afa’. Selain itu, kalimat dalam riwayat tersebut berbunyi, “Semua pendapat itu, menurut masing-masing, adalah benar.” Perkataan Imam Malik, “menurut mereka masing-masing”, menunjukkan bahwa ada sisipan kalimat lain yang tidak tercantum dalam al-Madkhal. Karena bagaimana mungkin ucapan itu muncul darinya, padahal riwayat ini bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya dari Imam Malik bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak bermacam-macam. Demikianlah pendapat yang diikuti oleh semua sahabat, tabi’in, imam madzhab yang empat, dan para mujtahid lainnya.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata (II/88), “Jika kebenaran ada pada dua pihak yang berbeda, tentunya kalangan salaf yang satu tidak akan menyalahkan yang lainnya dalam urusan ijtihad, keputusan hukum, dan fatwa mereka. Akal sehat tidak akan menerima bila dua hal yang kontradiksi dinilai benar seluruhnya. Sungguh sangat indah perkataan seorang penyair berikut ini:

Menetapkan dua hal yang berlawanan sekaligus dalam satu masalah

Adalah perkara mustahil yang paling tercela

Jika ada yang berpendapat: Jika riwayat yang dikatakan dari Imam Malik itu batil, mengapa Imam Malik bersikap enggan menerima tawaran Khalifah al-Manshur untuk menyatukan semua dalam al-Muwaththa’-nya, dan beliau tidak menjawab semacam itu kepada khalifah?

Penulis jawab: Riwayat terbaik yang penulis temukan adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-hadits hal. 31, yaitu bahwa Imam Malik berkata, “Para ulama telah mengumpulkan dan mengetahui perkara-perkara yang belum kami ketahui.”

Hal ini membuktikan betapa besar kesadaran beliau dan keluasan ilmunya, sebagaimana dikemukakan Ibnu Katsir rahimahullah.

Ini berarti bahwa perselisihan dan perbedaan pendapat itu seluruhnya buruk, bukan suatu rahmat. Karena itu, ada perbedaan pendapat yang menimbulkan dosa, seperti perbedaan pendapat yang timbul karena sikap fanatik madzhab. Tetapi ada juga perbedaan pendapat yang tidak menimbulkan dosa, seperti perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, tabi’in dan para imam. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka, dan diberi taufik untuk mengikuti jejak mereka.

Jadi, jelaslah bahwa perbedaan dan perselisihan pendapat di kalangan sahabat berbeda dengan perselisihan yang terjadi di kalangan pelaku taklid.

Ringkasnya, para sahabat berbeda dan berselisih pendapat karena darurat. Namun, mereka menolak perbedaan dan perselisihan pendapat itu sendiri dan menghindarkan diri dari hal yang semacam itu, selama mereka mendapatkan solusinya.

Adapun golongan pelaku taklid, sekalipun mereka memiliki kesempatan untuk menghindar dari perbedaan dan perselisihan pendapat, mereka enggan untuk bersepakat dan menempuh jalan ke arah sana. Bahkan mereka terus bersikukuh dalam perselisihan itu. Karena itu, semakin jauh jurang perbedaan di antara dua perselisihan teersebut.

Inilah perbedaan yang membedakan antara para sahabat dan golongan salaf dengan pelaku taklid, ditinjau dari sebab timbulnya perselisihan tersebut.

Adapun perbedaanya dari segi dampaknya, maka sangat jelas. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum –meski mereka berbeda pendapat dalam masalah furu’- masih tetap teguh memelihara kesatuan, jauh dari perpecahan, dan tidak bercerai-berai. Sebagai contoh, membaca basmalah secara jahr (dikeraskan). Sebagian sahabat menyatakan bahwa membaca basmalah secara jahr disyariatkan, sementara sebagian sahabat lainnya menyatakan tidak disyariatkan. Demikian juga masalah mengangkat tangan (bersamaan dengan takbir dalam shalat), ada yang berpendapat disunnahkan dan ada pula yang berpendapat tidak disunnahkan. Juga masalah menyentuh perempuan setelah wudhu, ada yang berpendapat wudhunya batal dan ada juga yang tidak batal. Sekalipun demikian, mereka tetap shalat berjamaah di belakang seorang imam, dan tidak mau meninggalkan shalat di belakang imam karena perbedaan pendapat.

Adapun para pelaku taklid, maka perselisihan mereka bertolak-belakang dengan perselisihan para sahabat. Salah satu dampaknya ialah tercerai-berainya kaum Muslimin dalam rukun Islam terbesar setelah syahadatain, yaitu shalat. Orang yang berbeda madzhab tidak mau shalat di belakang imam yang tidak sama madzhabnya, dengan alasan shalatnya imam batal atau setidaknya makruh, menurut orang yang menyelisihi madzhabnya. Hal ini pernah kami dengar dan saksikan sendiri, sebagaimana telah disaksikan oleh orang lain. Bagaimana tidak terjadi dampak negatif semacam itu; karena sebagian dari kitab-kitab madzhab yang terkenal dewasa ini menerangkan hal ini batal atau makruh. Akibatnya, di suatu masjid jami’ didirikan shalat berjamaah empat kali, karena mengikuti empat madzhab. Anda bisa melihat beberapa orang tengah duduk menantikan kedatangan imamnya, sedangkan kelompok lainnya sedang shalat dipimpin oleh imamnya.

Bahkan perselisihan dan perbedaan ini mencapai keadaan yang lebih ekstrim lagi pada segolongan ahli taklid. Misalnya, larangan menikah antara pria bermadzhab Hanafi dengan wanita bermadzhab Syafi’i. Selanjutnya muncullah fatwa dari seorang ulama Hanafi yang disebut “mufti tsaqalain”. Fatwa ini membolehkan laki-laki pengikut madzhab Hanafi menikahi perempuan bermadzhab Syafi’i. Alasannya, perempuan bermadzhab Syafi’i dapat disamakan dengan kedudukan ahli kitab. Dari fatwa ini dapat dipahami bahwa pernikahan sebaliknya tidak boleh, yaitu bila perempuan madzhab Hanafi menikah dengan laki-laki bermadzhab Syafi’i, sebagaimana laki-laki ahli kitab tidak boleh menikahi perempuan Muslimah.

Itulah dua contoh perbedaan yang telah nyata berdampak negatif terhadap umat, sebagai akibat perselisihan dan perbedaan pendapat ulama muta’akhirin yang masih terus dipertahankan. Hal ini berbeda dengan ikhtilaf yang terjadi di kalangan salaf yang tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap umat. Karena itulah, golongan salaf ini merupakan golongan yang selamat, karena mereka mematuhi larangan bercerai-berai dalam beragama. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan kaum muta’akhirin. Semoga Allah subhaanahu wa ta’ala menunjukkan kita semua pada jalan yang lurus.

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Abu Ihsan al-Atsary, diterbitkan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 79-86 dengan adanya penyesuaian seperlunya


[1] Shifah ash-Shalah, hal. 59-66

Tag:, , , , , , , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: