Mengikuti Dalil Bukan Berarti Memboikot Pendapat para Imam

Mengikuti Dalil Bukan Berarti Memboikot Pendapat para Imam

[ Beberapa Persoalan dan Syubhat Seputar Taklid dan Ittiba’ Bag 8

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim ]

Sebagian orang yang bertaklid kepada madzhab mengira bahwa ajakan untuk mengikuti dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta tidak mengambil pendapat para Imam yang bertentangan dengan keduanya; berarti tidak mengambil pendapat mereka secara mutlak dan sama sekali tidak mengambil manfaat dari hasil ijtihad mereka.

Al-‘Allamah al-Albani rahimahullah berkata,[1] “Anggapan semacam ini sangat tidak benar bahkan jelas kebathilannya, seperti tampak dengan jelas dari keterangan sebelumnya. Semua keterangan yang lalu bertentangan dengan anggapan ini. Kami hanya menyerukan agar tidak menjadikan madzhab sebagai agama dan mensejajarkannya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Yakni menjadikan madzhab sebagai rujukan, jika terjadi perbedaan pendapat, atau ketika hendak mengambil hukum baru untuk permasalahan yang sedang berkembang, sebagaimana dilakukan oleh orang yang dianggap faqih di zaman ini. Mereka menetapkan hukum-hukum baru mengenai Ahwal Syakhshiyyah (masalah-masalah perdata) nikah, cerai, dan selainnya, tanpa merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengetahui yang benar dan yang salah, yang hak dari yang batil. Tetapi hanya berdasarkan semboyan “perbedaan pendapat itu rahmat.” Mereka mencari-cari dispensasi hukum (rukhshah), memilih yang mudah, atau masalahat, menurut anggapan mereka.

Alangkah indahnya ungkapan yang dikemukakan oleh Sulaiman at-Taimi rahimahullah, ‘Jika Anda hanya mengambil semua dispensasi dari setiap ulama, berarti Anda telah mengumpulkan semua kejelekan untuk diri Anda.’

Pernyataan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr (II/91-92), kemudian ia memberikan komentarnya, ‘Setahuku ini merupakan ijma’ yang tidak diperselisihkan di kalangan para ulama.’

Sikap hanya mengambil dispensasi inilah yang kami tolak, dan pendapat kami ini sesuai dengan ijma’ ulama.

Adapun mengambil pendapat para imam untuk mendapatkan faidah dari pendapat tersebut, dan untuk membantu dalam memahami aspek kebenaran dalam masalah yang diperselisihkan yang tidak ada ketetapannya dari al-Qur’an danas-Sunnah, atau untuk memperoleh penjelasan, maka hal ini tidak kami pungkiri. Bahkan kami memerintahkan dan mendorong untuk melakukannya; karena faidahnya bisa diharapkan oleh orang-orang yang menempuh jalan untuk mendapatkan petunjuk dari al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Al-‘Allamah Ibnu Abdil Barr rahimahullah (II/172) berkata, “Wahai saudaraku, hendaknya Anda menghapal dan memperhatikan sumber-sumber pokok agama. Ketahuilah, orang yang bersungguh-sungguh menghapalkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hukum yang termaktub dalam al-Qur’an serta pendapat-pendapat ahli fiqih, lalu menjadikannya sebagai sarana untuk melakukan ijtihad, membuka langkah untuk berfikir, dan menafsirkan kalimat-kalimat umum yang mengandung beberapa pengertian yang ada dalam Sunnah Nabi, tidak membeo kepada seorangpun, tidak menganggap dirinya sebagai orang yang layak bersikap sebagai ulama dalam menganalisa sunnah, mengikuti pola mereka dalam melakukan kajian, pemahaman dan pemikiran, dan menghargai usaha mereka yang bermanfaat, memuji karena kebenaran kebanyakan pendapat mereka, tidak menyatakan dirinya selamat dari kesalahan; seperti para ulama terdahulu, berarti ia seorang penuntut ilmu yang berpegang teguh pada tradisi salafus shalih; orang semacam ini benar dalam langkahnya, terbantu dalam meluruskan cara berpikirnya, dan dialah yang layak disebut sebagai pengikut Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk para sahabatnya.

Sebaliknya, orang yang enggan untuk mengkaji, menyimpang dari hal-hal yang kami sebutkan di atas, menentang hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ra’yunya, dan mengaku sudah mencapai kemampuan untuk berijtihad sendiri, adalah orang yang sesat lagi menyesatkan. Orang yang tidak mengetahui semua itu, dan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka ia lebih buta dan lebih sesat lagi.”

Jika kebenaran yang tidak tersembunyi lagi

Biarkanlah aku mengikuti rambu-rambu jalan ini

Penulis berkata: peringatan-peringatan ini sudah cukup bagi penulis untuk berhukum dengan al-Qur’an dan as-Sunnah serta membuang segala pendapat yang bertentangan dengan keduanya, dan membantah segala perilaku taklid yang tidak ada dasar argumentasinya. Jika masih ada juga yang bersikukuh untuk melakukan taklid, maka kita katakan kepadanya, “Ibnu Abdil Barr dan ulama selainnya menukila suatu ijma’ bahwa orang yang bertaklid tidak tergolong ulama. Orang yang bertaklid tidak boleh menentang seorang mujtahid.” Jika ia mengatakan, “Tapi Anda bukanlah seorang mujtahid.” Kita jawab, “Sebagaimana disebutkan para ulama bahwa ijtihad itu bermacam-macam. Seorang mujtahid tidak harus berijtihad dalam setiap permasalahan. Dengan demikian, penentangan yang Anda lakukan tidak dapat diterima. Sebab tidak mungkin orang buta menghitung dirham.”

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Abu Ihsan al-Atsary, diterbitkan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, dari hal. 77 dengan adanya penyesuaian seperlunya.


[1] Muqaddimah Shifat Shalat Nabi, hal. 69-70

Tag:, , , , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: