Dialog dengan Pelaku Taklid

Dialog dengan Pelaku Taklid

[ Beberapa Persoalan dan Syubhat Seputar Taklid dan Ittiba’ Bag 5 ]

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menyebutkan dalam pembicaraannya mengenai  tercela dan dilarangnya sikap bertaklid, setelah menjelaskan hal itu berdasarkan sejumlah atsar, bahwa sekelompok ahli fiqih dan ahli nazhar mengemukakan argumen terhadap pihak yang membolehkan bertaklid, dengan argumen-argumen nazhariyyah-aqliyyah (nalar dan akal). Ia mengatakan: [1] Pendapat yang terbaik, menurut penulis, adalah ucapan al-Muzani rahimahullah, “Ditanyakan kepada seseorang yang memutuskan hukum atas dasar taklid, ‘Apakah kamu punya dalil atas keputusan yang kamu ambil?’

Jika ia menjawab, ‘Punya,’ berarti batallah taklidnya. Karena ia memutuskan sesuai dengan dalil, bukan taklid.

Apabila ia menjawab, ‘Aku memutuskan hukum dengan tanpa dalil (hujjah).’ Ditanyakan kepadanya, “Tidakkah kamu menghalalkan darah, membolehkan kemaluan wanita, dan melenyapkan harta –padahal Allah mengharamkan hal itu– melalinkan dengan hujjah?’ Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَانٍ بِهَٰذَا

“kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini.” (Yunus: 68)

Jika ia menjawab, ‘Aku tahu bahwa apa yang aku putuskan ini benar, walaupun aku tidak tahu dalilnya. Karena aku bertaklid dengan seorang ulama besar, dan ia tidak berpendapat kecuali dengan hujjah yang tidak aku ketahui.’

Dikatakan kepadanya, ‘Jika boleh bertaklid kepada gurumu, dengan alasan ia tidak akan berkata kecuali dengan hujjah yang tidak kamu ketahui, maka bertaklid pada orang yang mengajari gurumu lebih utama lagi. Karena ia tidak akan berbicara kecuali dengan hujjah yang tidak diketahui oleh gurumu, sebagaimana gurumu tidak berbicara kecuali berdasarkan hujjah yang tidak kamu ketahui.’

Jika ia menjawab, ‘Ya’ berarti ia harus meninggalkan bertaklid kepada gurunya dan beralih bertaklid kepada orang yang mengajari gurunya. Demikianlah seterusnya hingga kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika ia tidak mau melakukannya, berati ia harus membatalkan semua ucapannya tadi. Dan dikatakan kepadanya, ‘Bagaimana mungkin kamu boleh bertaklid kepada orang yang lebih junior dan lebih sedikit ilmunya? Sementara kamu tidak boleh bertaklid kepada orang yang lebih senior dan lebih banyak ilmunya? Ini pernyataan yang kontradiktif.’

Jika ia menjawab, ‘Karena guruku, meskipun lebih junior, telah menggabungkan ilmunya dengan ilmu guru-gurunya. Sehingga ia lebih mengetahui mana yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan.’

Dikatakan kepadanya, ‘Demikian juga orang yang belajar dari gurumu, berarti ia telah mendapatkan ilmu gurumu dan ilmu guru-gurunya serta menggabungkannya dengan ilmunya sendiri. Tentu kamu wajib bertaklid kepadanya dan meninggalkan taklid kepada gurumu. Demikian juga kamu lebih layak bertaklid kepada dirimu sendiri daripada bertaklid kepada gurumu. Karena kamu telah menggabungkan ilmumu dengan ilmu gurumu dan ilmu orang yang mengajari gurumu.’

Apabila ia mengikuti pendapatnya sendiri, berarti ia telah menetapkan bahwa lebih utama bertaklid kepada orang yang lebih junior dan orang yang mendapatkan ilmu dari ulama yang lebih junior daripada bertaklid kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini berarti bahwa para sahabat, menurutnya, harus bertaklid kepada tabi’in dan tabi’in bertaklid kepada generasi di bawahnya. Demikian seterusnya; generasi yang lebih tua bertaklid kepada generasi yang lebih muda. Hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa taklid merupakan pemikiran yang rusak dan bathil.”

Setelah mengemukakan hal tersebut, Abu Umar (Ibnu Abdil Barr) rahimahullah menyatakan, “Dikatakan kepada orang yang membolehkan taklid, ‘Mengapa Anda berpendapat demikian, dan Anda menyelisihi salaf tentang hal itu; karena mereka tidak pernah bertaklid?’

Jika ia menjawab, ‘Aku bertaklid karena aku tidak mengetahui tafsir al-Qur’an dan tidak mengetahui Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam yang sedemikian banyak. Sementara orang yang aku ikuti adalah orang yang mengetahui hal itu, maka aku bertaklid kepada orang yang lebih berilmu daripada aku.’

Dikatakan kepadanya, ‘Adapun para ulama, jika mereka sepakat atas sebuah tafsir al-Qur’an dan suatu periwayatan dari Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sepakat atas suatu pendapat, maka tidak disangkal bahwa itu adalah kebenaran. Tetapi masalahnya, apa yang Anda ikuti itu adalah perkara yang diperselisihkan para ulama. Kemudian apa alasan Anda hanya bertaklid kepada pendapat seseorang dan mengabaikan pendapat lainnya? Padahal mereka semua adalah ulama, dan ulama yang Anda benci pendapatnya bisa jadi lebih dalam ilmunya daripada ulama yang Anda taklidkan itu.’

Jika ia menjawab, ‘Aku bertaklid kepadanya karena aku tahu bahwa ia benar.’

Dikatakan kepadanya, ‘Apakah Anda mengetahui kebenaran tersebut berdasarkan dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’?’

Jika ia menjawab, ‘Ya’, berarti ia telah membatalkan taklid. Dan karena itu, ia dituntut untuk mengemukakan dalil yang diklaimnya.

Jika ia menjawab, ‘Aku bertaklid kepadanya karena ia lebih berilmu daripada aku.’ Dikatakan kepadanya, ‘Kalau begitu Anda harus bertaklid kepada setiap orang yang lebih berilmu daripada Anda, dan Anda akan temukan banyak sekali orang yang jauh lebih berilmu daripada Anda. Lalu mengapa Anda mengkhususkan taklid hanya kepada satu orang saja? Padahal alasan Anda melakukan taklid karena ia lebih berilmu daripada Anda?

Jika ia menjawab, ‘Aku bertaklid kepadanya karena ia orang yang paling dalam ilmunya.’ Dikatakan kepadanya, ‘Kalau begitu ia juga lebih alim dari sahabat? Sungguh ini merupakan ucapan yang sangat buruk.’

Jika ia mengatakan, ‘Aku taklid kepada sebagian sahabat.’ Dikatakan kepadanya, ‘Apa alasan Anda hingga bertaklid hanya kepada sebagian sahabat saja dan yang lain Anda abaikan? Karena bisa saja pendapat sahabat yang Anda abaikan itu lebih benar daripada pendapat sahabat yang Anda taklidkan. Pendapat seseorang tidak dapat dibenarkan karena alasan keutamaan yang dimilikinya. Suatu pendapat dikatakan benar, jika ada dalil yang menjadi sandarannya.’

Ibnu Mazin menyebutkan dari Isa bin Dinar, dari al-Qasim, dari Malik, ia berkata, ‘Tidak semua pendapat seseorang itu harus diikuti, walaupun ia memiliki keutamaan, berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (Az-Zumar: 18)

Jika ia mengatakan, ‘Kekuranganku dan kedangkalan ilmuku memaksaku untuk bersikap taklid.’ Dikatakan kepadanya, ‘Adapun seorang yang bertaklid kepada seorang ‘alim yang sudah disepakati akan kedalaman ilmunya, berkenaan dengan hukum-hukum syariat, lalu ia menjalankan apa yang disampaikan orang ‘alim tersebut kepadanya, maka ia mendapat kemaafan. Karena ia telah menunaikan tugasnya, dan telah melakukan sesuatu yang harus ia lakukan untuk menghilangkan kejahilannya. Dalam kondisi seperti ini, orang tersebut harus bertaklid kepada seorang ‘alim tentang suatu perkara yang tidak ia ketahui. Menurut ‘ijma  kaum Muslimin bahwa orang yang tidak mampu menentukan arah kiblat boleh bertaklid kepada orang yang ucapannya bisa dipercaya.

Tetapi orang yang kondisinya seperti ini, apakah ia boleh memberikan fatwa mengenai syariat agama Allah? Sehingga ia memberikan fatwa kepada orang lain dengan menghalalkan seorang wanita, menghalalkan darah seseorang, memberi keputusan merdeka atas seorang hamba, atau menghilangkan hak milik dan memindahkannya kepada orang lain hanya berdasarkan pendapat yang tidak ia ketahui keshahihannya dan tidak berdasarkan dalil? Padahal ia sendiri mengakui bahwa pendapat ulama itu bisa benar dan bisa salah. Dan orang yang menyelisihinya bisa jadi benar dalam apa yang diselisihinya itu.

Apabila ia membolehkan fatwa bagi orang yang tidak mengetahui ushul dan makna tetapi hanya tahu masalah furu’ saja, seharusnya ia juga membolehkan orang-orang awam untuk melakukan hal yang sama. Cukuplah ini menunjukkan kejahilan dan penentangan terhadap al-Qur’an. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Al-Isra: 36)

“Ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 80)

Para ulama bersepakat bahwa sesuatu yang belum jelas dan belum meyakinkan bukanlah ilmu,  tetapi hanya dugaan. Dan dugaan itu tidak mengandung kebenaran sedikit pun.” Semuanya berasal dari kitab al-Jami’ karya Ibnu Abdil Barr rahimahullah.

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 70-74 dengan adanya penyesuaian.


[1] Jami’ al-Bayan al-Ilm wa Fadhlih

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: