Di Antara Akhlak Mulia Adalah Berbuat Baik dengan Tetangga, Anak Yatim, Orang Fakir, dan Ibnu Sabil

Sambungan dari tulisan sebelumnya…

oleh: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (rahimahullah)

Dan di antara akhlaq yang mulia juga: Berbuat baik dengan tetangga. Yang dimaksud dengan tetangga di sini ialah: mereka yang rumahnya saling berdekatan dengan anda. Dan yang rumahnya paling dekat dengan anda, mereka adalah tetangga yang paling berhak mendapatkan pergaulan baik dan perilaku mulia dari anda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًاا

“Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba
sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dir,” (QS. an-Nisaa’: 36).

Yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berbuat baik dengan tetangga yang dekat maupun tetangga yang jauh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر, فليكرم جاره

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya 1“.
Beliau juga bersabda:

إذا طبخت مرقة , فأكثر ماءها , وتعاهد جيرانك

“Jika engkau memasak sayur yang berkuah, maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada sebagian tetangga 2“.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

وما زال جبريل يوصيني بالجار حتى ظننت أنه سيورثه

“Dan malaikat jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik dengan tetanggaku, hingga aku mengira bahwa seorang tetangga akan mewariskan hartanya kepada tetangganya yang lain 3“.

Beliau juga bersabda:

والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن

“Demi Allah dia belum beriman, demi Allah dia belum beriman, demi Allah dia belum beriman”, para sahabat bertanya: Siapakah yang belum beriman wahai Rasulullah?, beliau menjawab:

الذي لا يأمن جاره بوائقه

“Yang tidak merasa aman tetangganya dari gangguannya 4“.
Yakni dari tindak kejahatan dan tipu dayanya.

Dan masih banyak lagi nash-nash yang menunjukan atas perhatian syari’at ini terhadap hak tetangga, perintah berbuat baik kepadanya dan juga anjuran untuk memuliakannya. Jika seorang tetangga beragama Islam dan sekaligus sebagai kerabat dekat kita, maka ia mempunyai tiga hak: haknya sebagai seorang muslim, haknya sebagai kerabat dekat, dan haknya sebagai tetangga.

Dan jika ia adalah seorang kerabat dekat sekaligus tetangga, maka baginya hanya dua hak saja:
haknya sebagai kerabat dekat, dan haknya sebagai tetangga. Sedangkan jika ia seorang muslim akan tetapi bukan kerabat dekat, maka baginya juga hanya dua hak saja: haknya sebagai seorang muslim, dan haknya sebagai tetangga. Akan tetapi, jika tetangga tersebut seorang yang kafir atau non muslim, maka baginya hanya satu hak saja, yakni haknya sebagai tetangga.

Dan di antara akhlaq yang mulia juga adalah: Berperilaku baik dengan tetangga secata muthlak, entah siapakah tetangga tersebut. Dan yang lebih dekat jaraknya, maka dia lebih utama untuk mendapat perlakuan yang baik.

Dan di antara fenomena yang sangat menyedihkan dari sebagian orang sekarang ini, mereka lebih banyak berbuat tidak baik dengan tetangga dari pada dengan yang lainnya. Terkadang kamu mendapatinya melampaui batas terhadap tetangganya dengan mengambil sebagian dari hak miliknya dan juga dengan mengusik ataupun mengganggunya.

Para fuqoha’ (ulama ahli fiqih -pent) telah menjelaskan pada akhir bab pembahasan ash-shulhu (berdamai atau perbuatan shalih -pent) sedikit tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah tetangga, silahkan anda periksa.

Dan di antara akhlaq yang mulia juga adalah: Berbuat baik kepada Al-Yataamaa, Al-Masaakiin dan Ibnus Sabiil.

“Al-Yataamaa” bentuk jamak dari kata “al-yatiim” yaitu: seorang anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum masa baligh. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada anak yatim, begitu pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menganjurkan kita juga untuk berperilaku baik kepadanya dalam beberapa haditsnya. Alasannya, karena seorang anak yatim akan merasa patah hatinya oleh sebab kematian ayahnya, sedangkan dia (dalam
usia tersebut) sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Dan berbuat baik kepada anak yatim sesuai dengan kondisi dan keadaannya.

Sedangkan “al-Masaakiin” mereka adalah fuqaraa’ atau orang-orang yang fakir. Dan kata miskin tersebut mencakup orang miskin dan orang fakir. Berbuat baik kepada mereka termasuk perkara yang diperintahkan oleh syari’at ini seperti yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak sekali. Dan agama juga telah memberikan kepada mereka hak-hak khusus dalam masalah harta fa’i (harta yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya peperangan -pent) ataupun masalah yang lainnya.

Sedangkan alasan diperintahkannya kita untuk berbuat baik kepada mereka ialah: karena kefakiran bisa membuat mereka hanya berdiam diri saja, bertambah lemah, juga membuat mereka patah hati dan hanya pasrah saja. Maka, di antara keindahan islam dan kemuliaan akhlaqnya adalah dengan memperlakukan mereka dengan baik demi menolong keadaan mereka yang sangat kurang dan mengobati patah hati yang sedang mereka rasakan.

Dan berbuat baik kepada mereka dapat dilakukan sesuai dengan keadaan dan kondisinya. Seandainya ia membutuhkan makanan, maka berbuat baik kepada mereka dalam keadaan seperti ini adalah dengan memberinya makanan. Jika ia membutuhkan pakaian, maka dalam kondisi seperti ini adalah dengan memberinya pakaian. Dan bisa juga dengan cara menganggapnya sebagai sahabat. Jika ia memasuki suatu majlis, maka sambut dan utamakanlah ia demi untuk
mengangakat harkat dan martabatnya. Dan karena kekurangannya inilah, yang mana telah Allah
Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan padanya dengan penuh kebijaksanaan-Nya, kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka.

Begitu pula dengan “ibnus sabiil” yakni “musafir atau orang yang sedang bepergian”. Dan yang dimaksud di sini adalah musafir yang kehabisan bekal safar-nya maupun yang belum kehabisan. Beda halnya dengan masalah zakat 5, karena seorang musafir akan merasa asing, dan orang yang merasa asing akan merasa kesepian, jika engkau beramah-tamah dengannya dengan memuliakan dan berbuat baik padanya, maka hal tersebut termasuk perkara yang diperintahkan oleh syari’at ini.

Jika ia singgah di rumahmu sebagai seorang tamu, maka di antara akhlaq yang mulia hendaklah anda memuliakannya dengan menjamunya. Akan tetapi sebagian ulama berkata: sesungguhnya tidak wajib memuliakan seorang tamu dengan menjamunya kecuali di pedesaan, sedang di perkotaan tidaklah wajib!. Maka kita katakan: bahkan hal tersebut wajib di desa maupun di kota, kecuali jika memang ada suatu sebab, seperti ruang rumah yang sempit, ataupun sebab-sebab lainnya yang bisa menghalanginya untuk menjamu tamunya. Akan tetapi bagaimanapun juga keadaannya, haruslah menolaknya dengan baik jika memang anda berudzur atau mempunyai alasan yang syar’i.

Sumber Bacaan:

Dari E-book berjudul Makarimul Akhlak, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah [Dialihbahasakan oleh : Abū Mūsâ al-Atsarî], hal. 49-54

Referensi:

1 Dikeluarkan oleh Bukhari, No (6019) di Kitaabul Adab, Muslim, No (77) di Kitaabul Iman, dan No (14), di Kitaabul luqatah.

2 Dikeluarkan oleh Muslim, No (142) di Kitaabul Bir Wash Shilah.

3 Dikeluarkan oleh Bukhari, No (6014 & 6015) di Kitaabul Adab, Muslim, No (140 & 141)
di Kitaabul Bir Wash Shilah.

4 Dikeluarkan oleh Bukhari, No (6016) di Kitaabul Adab.

5 Maksudnya, dalam masalah zakat, seorang musafir yang berhak mendapatkan zakat
adalah yang kehabisan bekal perjalanan pada saat sedang safar. Adapun yang masih
mempunyai bekal perjalanan, maka dia tidak berhak untuk menerimanya, wallahu a’lam –
pent.

Tag:, , , , , , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: