Antara Taklid dan Ittiba’

Antara Taklid dan Ittiba’[1]

[ Beberapa Persoalan dan Syubhat Seputar Taklid dan Ittiba’ Bag 6

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim ]

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa suatu hal yang patut untuk diketahui  adalah perbedaan antara taklid dan ittiba’. Tidak boleh bertaklid dalam hal-hal yang mengharuskan ittiba’.”

Penjelasannya, tidak boleh bertaklid dalam setiap hukum yang memiliki dasar yang jelas dari al-Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau ijma’. Sebab setiap ijtihad yang bertentangan dengan nash syar’i adalah ijtihad batil, dan tidak boleh melakukan taklid kecuali pada permasalahan yang dibolehkan untuk berijtihad. Karena al-Qur’an dan as-Sunnah adalah hakim atas setiap mujtahid. Tidak seorang pun dari mereka yang boleh menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah.

Tidak boleh bertaklid pada pendapat  yang bertentangan dengan al-Qur’an, as-Sunnah atau ijma’ ulama. Sebab tidak boleh mengikuti selain yang hak. Tidak ada suatu masalah yang ada petunjuknya dari nash kecuali wajib untuk diikuti. Tidak ada ijtihad dan taklid dalam perkara yang ada nashnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah, yang tidak bertentangan dengan nash lainnya.

Perbedaan antara taklid dan ittiba’ adalah perkara yang sudah dimaklumi di kalangan ulama. Tiada seorang ulama pun yang berselisih dalam menentukan maknanya.

Pada pembahasan yang lalu telah disinggung ucapan Ibnu Khuwaiz Mandad yang dinukil Ibnu Abdil Barr dalam kitab al-Jami’-nya. Ia mengatakan, “Taklid, menurut syariat, adalah mengikuti pendapat yang tidak memiliki hujjah atau dalil. Dan ini adalah perbuatan yang dilarang dalam syariat. Adapun ittiba’ adalah mengikuti pendapat yang memiliki dasar dalil.”

Pada tempat lain dalam bukunya, ia berkata, “Setiap pendapat yang kamu ikuti tanpa ada landasan dalil, berarti kamu telah melakukan taklid, dan taklid dalam agama Allah adalah perbuatan yang tidak benar. Setiap pendapat yang kamu ikuti karena ada dalil yang mewajibkannya, berarti kamu melakukan ittiba’. Ittiba’ dalam agama itu dibolehkan, sedangkan taklid adalah perbuatan yang dilarang.”

Ibnu al-Qoyyim rahimahullah berkata dalam I’lam al-Muwaqi’in, “Imam Ahmad rahimahullah membedakan antara taklid dan ittiba’. Abu Dawud berkata, “Aku pernah mendengar Ahmad berkata, ‘Ittiba’ adalah seseorang yang mengikuti apa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari para sahabatnya. Adapun tabi’in boleh diikuti dan boleh juga tidak’.”

Ibnu al-Qayyim melanjutkan, adapun beramal dengan wahyu disebut ittiba’ bukan taklid, dan ini perkara yang sudah dapat dipastikan. Banyak sekali ayat yang menamakannya sebagai ittiba’, seperti firman Allah subhaanahu wa ta’ala berikut ini:

قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِن رَّبِّي ۚ هَٰذَا بَصَائِرُ مِن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Rabbku kepadaku. Al-Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Rabbku, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-A’raf: 203)

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (al-A’raf:3)

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” (az-Zumar: 55)

قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِن تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah, ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat)’.” (Yunus: 15)

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (al-An’am: 155)

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabbmu; tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (al-An’am: 106)

قُلْ مَا كُنتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُّبِينٌ

“Katakanlah, ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan’.” (al-Ahqaf: 9)

Dan ayat-ayat semisal ini cukup banyak dan sudah dikenal.

Jadi, beramal dengan wahyu adalah ittiba’, sebagaimana telah ditunjukkan oleh ayat-ayat di atas.

Seperti sudah diketahui dan tidak disanksikan lagi, mengikuti wahyu yang diperintahkan dalam ayat-ayat tersebut, mengandung arti bahwa ijtihad tidak sah jika bertentangan dengan wahyu tersebut. Dan, tidak boleh pula bertaklid dengan sesuatu yang jelas bertentangan dengannya.

Jelaslah sudah perbedaan antara ittiba’ dan taklid, dan tidak boleh melakukan ijtihad dan taklid pada permasalahan ittiba’. Karena itu, nash-nash shahih yang menunjukkan dengan jelas tentang hukum suatu masalah dan tidak bertentangan dengan nash-nash lainnya, sama sekali tidak boleh disertai dengan ijtihad dan taklid. Sebab, sebagaimana sudah dimaklumi, mengikuti dan menaati nash tersebut hukumnya wajib atas setiap orang, siapa pun orangnya.

Dengan demikian, Anda tahu bahwa syarat-syarat mujtahid yang ditetapkan oleh ahli ushul hanyalah disyaratkan untuk ijtihad. Sementara perkara ittiba’ bukanlah perkara ijtihad. Menjadikan syarat-syarat mujtahid untuk pelaku ittiba’ (muttabi’) adalah sebuah kerancuan. Karena, seperti Anda lihat, terdapat perbedaan yang mencolok antara ijtihad dan ittiba’. Lagi pula objek ittiba’ tidak sama dengan objek ijtihad.

Kesimpulan akhirnya bahwa ittiba’ wahyu tidak disyaratkan apa pun kecuali mengetahui apa yang diamalkannya dari wahyu yang diikutinya. Karena itu, ia boleh mengikuti hadits dan mengamalkannya, serta mengetahui ayat dan mengamalkannya. Untuk mengamalkan itu semua, tidak perlu harus memenuhi semua syarat ijtihad (yang ditetapkan oleh ahli ushul). Dengan demikian, setiap mukallaf (orang yang sudah terbebani hukum syar’i) wajib mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah untuk suatu amalan yang dibutuhkan lalu  mempraktikkannya sesuai dengan pengetahuan yang telah dikuasainya, sebagaimana telah dilakukan oleh generasi awal terbaik umat ini.

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Abu Ihsan al-Atsary, diterbitkan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 74-76 dengan adanya penyesuaian seperlunya.


[1] Adhwa’ al-Bayan, asy-Syinqithi (VII/ 547-550)

Tag:, , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: