[Menjawab Dua Syubhat Pelaku Taklid]

[ Beberapa Persoalan dan Syubhat Seputar Taklid dan Ittiba’ Bag 3 dan 4

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim ]

3. Syubhat: Dilarang Mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah Secara Mutlak Kecuali Mujtahid[1]

Ketahuilah, para ahli ushul muta’akhirin (yang datang belakangan), yang mengatakan tidak boleh mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah secara mutlak kecuali para mujtahid, mengatakan bahwa syarat-syarat ijtihad itu sebagai berikut:

a. Mujtahid itu sudah baligh, berakal, cerdas, menguasai dalil aqli (nalar), sehingga apabila ada masalah yang keluar dari asal, ia kembalikan kepada asalnya hingga datang dalil naqli (al-Qur’an dan as-Sunnah) yang memalingkan dari hukum asal.

b. Menguasai Bahasa Arab, seperti ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah yang disertai dengan penguasaan ilmu hakikat syar’i dan ‘urfi.

c. Sebagian menambahkan, seorang mujtahid juga memerlukan ilmu manthiq (logika), seperti: syara’ith al-hudud, rusum dan syara’ith al-burhan.

d. Menguasai ilmu ushul, dan menguasai dalil-dalil hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka tidak mensyaratkan harus menghafal nash-nash. Tapi, menurut mereka, cukup mengetahui letak nash-nash tersebut dalam mushaf al-Qur’an dan kitab-kitab hadits.

e. Mengetahui perkara-perkara ijma’ (yang disepakati) dan ikhtilaf (yang diperselisihkan).

f. Mengetahui syarat-syarat hadits mutawatir, ahad, shahih dan dhaif.

g. Mengetahui masalah nasikh (dalil yang menghapus ketentuan terdahulu) dan mansukh (ketentuan terdahulu yang dihapuskan dengan ketentuan baru).

h. Mengetahui asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya wahyu).

i. Mengetahui ihwal para sahabat dan kondisi para perawi hadits.

Mereka berselisih pendapat tentang syarat, tapi tidak mengingkari qiyas. Syarat-syarat yang mereka tetapkan ini tidak tercantum secara nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, (menurut mereka) tanpa syarat-syarat ini tidak sah mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan ijma’ ulama pun tidak ada yang menjelaskan seperti itu. Menurut dugaan mereka, syarat-syarat yang ditetapkan itu berdasarkan tahqiqul manath (penetapan ‘illah pada masalah yang tidak ada nashnya).

Penjelasan masalah ini, al-Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ kaum Muslimin seluruh menunjukkan, mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah tidak disyaratkan kecuali satu syarat saja. Yaitu mengetahui hukum yang dilakukan al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak ada syarat tambahan dalam mengamalkan wahyu selain mengetahui apa hukum mengamalkan, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari persyaratan ini.

Maksud para ahli ushul yang datang belakangan, dengan semua syarat-syarat yang mereka tetapkan tersebut, adalah tahqiqul manath. Karena, ketika ilmu tentang wahyu sebagai sandaran amal, mereka ingin merealisasikan sandaran ini. Yaitu menjelaskan metode-metode untuk mendapatkan ilmu yang merupakan sandaran amal. Mereka manetapkan syarat-syarat tersebut, dengan dugaan bahwa tidak mungkin mendapatkan ilmu wahyu dengan tanpa syarat-syarat itu.

Dugaan ini masih perlu untuk ditinjau ulang. Karena setiap orang yang memiliki pemahaman, jika ingin mengamalkan nash al-Qur’an danas-Sunnah, ia tidak dilarang untuk mengamalkan. Bukan suatu yang mustahil untuk mempelajari maknanya dan membahas: apakah nash tersebut mansukh, khusus, atau muqayyad, hingga ia mengetahuinya dan mengamalkannya.

Bertanya kepada ulama, misalnya, apakah nash itu nasikh, khusus, atau muqayyad, dan mereka mengabarkan akan hal itu, bukan termasuk jenis taklid. Tapi termasuk jenis ittiba’. Insya Allah, akan dijelaskan perbedaan antara taklid dan ittiba’ dalam masalah taklid yang akan datang.

Walhasil, tidak terhitung jumlah nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang mewajibkan semua mukallaf beramal dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sedikit pengkhususan pun untuk orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tersebut.

4. Syubhat: mengamalkan firman Allah, “Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan”

Ketahuilah bahwa salah satu argumen kaum yang bertaklid adalah mereka mengklaim mengamalkan firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl: 43)

Menurut mereka, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya kepada orang yang lebih tahu dari dirinya. Inilah dalil yang kami pegang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan, bagi yang tidak tahu seharusnya bertanya kepada orang yang lebih tahu. Beliau bersabda, dalam hadist yang menceritakan tentang orang terluka parah di kepalanya:

alaa sa-aluu idzlam ya’lamuu, fa innamaa syifaa-ul ‘iyyi as-su-aal

“Mengapa mereka tidak bertanya, ketika mereka tidak tahu. Ketahuilah obat kebodohan adalah bertanya.”[2]

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata,[3] “Adapun dalil mereka dengan ayat, ‘Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,’ adalah dalil yang tidak pada tempatnya. Sebab ayat ini tidak menunjukkan untuk melakukan taklid buta sebagaimana yang mereka lakukan, yaitu berpegang dengan seluruh pendapat seseorang dan mengabaikan semua pendapat selainnya.

Tidak syak lagi bahwa yang dimaksud dengan “ahli dzikir” yang tercantum dalam ayat adalah “ahli wahyu” yang mengetahui apa yang datang dari Allah subhaanahu wa ta’ala, seperti para para ulama al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka diperintahkan bertanya kepada ahli dzikir agar mereka mendapat fatwa yang ada dasarnya dari wahyu. Barangsiapa bertanya tentang wahyu, lalu ia diberitahu dan diberi penjelasan tentang wahyu tersebut, maka amalannya itu termasuk ittiba’ (mengikuti) wahyu, bukan taklid. Mengikuti wahyu adalah perkara yang sudah disepakati kebenarannya.

Meskipun ayat di atas, secara umum, menunjukkan salah satu jenis taklid, hanya saja taklid yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah taklid yang telah kita singgung, yaitu taklid yang tidak diperselisihkan di kalangan kaum Muslimin. Yakni taklidnya orang awam kepada kepada seorang ulama dalam masalah yang terjadi pada dirinya, dan ia mengamalkan apa yang difatwakan kepadanya tanpa mewajibkan dirinya menerima semua pendapat yang dikatakan orang alim tersebut dan mengabaikan pendapat selainnya.

Adapun dalil mereka dengan hadits yang menceritakan tentang seseorang yang terluka parah di kepalanya, kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada teman-temannya: apakah dalam kondisi seperti ini ia mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk bertayamum? Mereka menjawab, “Menurut kami, kamu tidak mendapatkan keringanan (untuk bertayamum), selama kamu mampu mendapatkan air.” Kemudian laki-laki itu mandi dan akhirnya mati. Kejadian berita ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

qotaluuhu qotalahumullaahu, alaa sa-aluu idzlam ya’lamuu, fa innamaa syifaa-ul ‘iyyi as-su-aal

“Mereka mencelakakannya, semoga Allah mencelakakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya, ketika mereka tidak tahu? Ketahuilah, obat kebodohan adalah bertanya.”

Berdalil dengan hadits ini juga tidak pada tempatnya. Hadits ini bukan hujjah bagi pelaku taklid, tapi hadits ini malah menghujat mereka.

Penulis I’lam al-Muwaqi’in menjelaskan sisi pendalilan dengan hadits itu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menunjukkan kepada orang-orang yang meminta fatwa, seperti laki-laki yang kepalanya terluka ini, agar bertanya tentang hukum dan sunnahnya. Lalu beliau bersabda, ‘Mereka mencelakakannya, semoga Allah mencelakakan mereka!’ Beliau mendoakan keburukan kepada mereka, karena mereka memberikan fatwa dengan tanpa ilmu. Dalam hadits ini berisikan pengharaman berfatwa dengan dasar taklid, karena ia bukanlah ilmu menurut kesepakatan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keburukan terhadap pelakunya, padahal doa doa seperti itu dilarang, dan itu salah satu bukti pengharaman. Dalil yang dijadikan hujjah bagi para pelaku taklid justru menjadi hujatan yang sangat kuat terhadap mereka.” Dinukil dari Adhwa’ al-Bayan.

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 66-70 dengan adanya penyesuaian.

Referensi:


[1] Adhwa’ al-Bayan, asy-Syinqithi (VII/477-479)

[2] Hadits ini akan disebutkan dalam masalah “mengusap sorban”dalam kitab ini.

[3] Adhwa’ al-Bayan (VII/510-511)

Tag:, , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: