Sumpah untuk Selain Allah, Bisakah?

‎Bismillah….
Kemarin ana membaca sebuah blog yang menamakan dirinya sebagai pembela aqidah Ahlus Sunnah, di sana tertulis:
“Pernyataan Salafy:Bersumpah atas nama selain Allah, seperti bersumpah atas nama Nabi, atas nama amanah dan lain-lain. Nabi saw bersabda : “Barang siapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka sesungguhnya ia telah kafir atau syirik” (HR Tirmidzy) dan dihasankannya.”

Lalu Habib yang ia idolakan memberi gambaran –yang lebih tepat disebut syubhat– seperti ini, di tulisan selanjutnya:

“Puluhan hadits riwayat shahih Bukhari yang menjelaskan para sahabat bersumpah dengan ayah dan ibunya, Demi ayah ibuku, atau Demi ayahku, Demi engkau wahai Rasulullah dan Demi Ibuku”. Ucapan ucapan seperti ini sering diucapkan oleh Abubakar shiddiq ra, Umar ra, dan banyak lagi para sahabat lainnya teriwayatkan pada Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lainnya.”

Saudara kami fillah Abu Yazid Nurdin -Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan- memberi jawaban atas syubhat di atas. Berikut kata beliau:

Syubhat seperti ini dapat dibantah dari 3 sisi:

1. Dari sisi bahasa.
Lafazh “بأبي أنت و أمي” ini sebenarnya bukan sumpah. Suatu kekeliruan yang nyata jika diterjemahkan dengan “Demi ayahku, demi engkau ya Rasulallaah, dan demi ibuku”. Tidak serta merta huruf “bi” berfungsi sebagai sumpah (demi). Para pakar bahasa menjelaskan bahwa huruf jar (بِ) berkaitan dengan kata yg dihilangkan (mahdzuf) dengan dua kemungkinan takdir (perkiraan). Kemungkinan yang pertama adalah kata yg dihilangkan itu berupa ism (kata benda) takdirnya “مفدى” (mufadda). I’rabnya marfu’ sebagai khabar. Dengan demikian, maka kalimat lengkapnya adalah “أنت مفدى بأبي و أمي” (Engkau ditebus dengan ayahku dan ibuku).
Kemungkinan yang kedua adalah kata yg dihilangkan itu berupa fi’il (kata kerja) takdirnya “أفديك” (afdiik), sehingga lafazh”بأبي و أمي” i’rabnya “fii mahalli nasb” sebagai maf’uul bih. Dengan demikian, maka kalimat lengkapnya adalah “أفديك بأبي أنت و أمي”.

Baik ditakdirkan dengan kemungkinan yg pertama maupun yg kedua, lafazh “بأبي و أمي” itu diterjemahkan yg benar dalam bahasa Indonesia adalah “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu ya Rasulallah” atau “Engkau ditebus dengan ayah dan ibuku” dan yang semisalnya. (Lihat Lisaanul ‘Arab, pada maddah أ ب ى, dan Syarh Shahih Muslim oleh An-Nawawi, kitabul Iman, Bab: Dalil yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal di atas tauhid, pasti masuk surga). Semoga Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

2. Dari sisi aqidah
Jika sudah menjadi ketetapan dan kesepakatan ahlus sunnah wal jama’ah bahwa bersumpah dengan selain Allah itu merupakan suatu kesyirikan, maka kalau ada pernyataan yang bertentangan dengan dasar keyakinan ini, seharusnya pernyataan tersebut tertolak. Yakinlah bahwa jika pernyataan tersebut muncul dari nash-nash yang shahih dan tsabit, maka yang keliru bukan nashnya, tetapi pemahaman terhadap nash tersebut perlu ditinjau kembali dan diluruskan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من حلف بغير الله فقد أشرك أو كفر

“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sesungguhnya ia telah syirik atau kufur” (HR. At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini hasan, dan Al-Hakim, beliau mengatakan hadits ini shahih, begitu pula Adz-Dzahaby mengatakan hadits ini shahih). [Lihat Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, sy Abdurrahman bin Hasan, tahqiq Dr. Al-Walid Alu Furayyan, hal.490, Penerbit: Dar Ibnul Atsiir, cetakan ke-12)

3. Dari sisi sejarah.
Sejarah membuktikan bahwa lafazh “بأبي أنت و أمي” bukan sumpah. Hal ini sekaligus membantah orang-orang yang menyatakan bahwa itu adalah sumpah namun diucapkan oleh para shahabat sebelum turun larangan bersumpah dengan selain Allah.
Sisi pendalilannya adalah pada hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu mendatangi jenazah Rasulullah membuka penutup wajahnya kemudian menciumnya, lalu berkata:

بأبي أنت و أمي طبت حيا و ميتا

“Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, sungguh engkau selalu dalam keadaan yang baik, ketika hidup dan setelah meninggal.” (Lihat shahih Al-Bukhari, no. 3667)
Dengan adanya hadits shahih ini, apakah masih bisa dikatakan bahwa Abu Bakr bersumpah dengan bapak dan ibunya? Bukankah hadits ini jauh setelah adanya hadits larangan bersumpah dengan selain Allah? Apakah Abu Bakr tidak mengetahui adanya hadits larangan bersumpah dengan selain Allah?
Jawabnya, tentu tidak mungkin itu terjadi pada seorang Abu Bakr, wahai saudaraku. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua. Washallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

Lalu apa maksud secara harfiah dari kalimat, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu”?

Beliau melanjutkan, “Lafazh tersebut diucapkn untuk mengungkapkan tingginya kedudukan orang yang diajak bicara. Sampai-sampai lebih berharga daripada kedua orangtuanya. Begitulah orang Arab mengungkapkan rasa.

Masih banyak lafazh yan lain dalam bahasa arab yg susah dicari padanannya dalam bahasa kita, seperti: (ثكلتك أمك), (تربت يداك), (رغم أنفك), (لا أم لك) atau (لا أب لك), dan lain sebagainya. Menurut ana, lafazh-lafazh seperti ìtu diterjemahkn sebagaimana mestinya asal tidak menyimpang dari maksud orang arab itu sendiri. Wallähu a’lam.”

Tag:, , , , , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: