Dua Perkara yang Membuat para Pelaku Taklid Tertipu

Dua Perkara yang Membuat para Pelaku Taklid Tertipu[1]

[ Beberapa Persoalan dan Syubhat Seputar Taklid dan Ittiba’ Bag 2 ]

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim -hafidzahullah-

Ketahuilah, para pelaku taklid tertipu dengan dua perkara yang mereka kira benar, padahal keduanya jauh dari kebenaran. Menduga kebenaran keduanya termasuk dalam kategori keumuman firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (Yunus:36)

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Iyyaakum wadhdhonna  fa innadh dhonna akdzaba al-haditsi

“Janganlah berprasangka, sebab prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta.”

Adapun perkara pertama, yaitu persangkaan mereka bahwa imam yang mereka ikuti itu pasti telah menelaah seluruh makna al-Qur’an dan tidak ada satu ayat pun yang terluput dari pengetahuannya, serta telah menelaah semua Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada satu pun yang terluput dari pengetahuannya

Karenanya, semua ayat dan hadits yang berseberangan dengan pendapat imam, mereka yakini bahwa sang imam pasti telah menelaah ayat itu dan mengetahui maknanya, serta telah menelaah hadits itu dan mengetahui maknanya. Sang imam tidak beramal dengan ayat dan hadits tersebut, karena dia mengetahui ada ayat atau hadits lain yang lebih kuat dan lebih rajih daripada ayat dan hadits terdahulu.

Karena itu, wajib mendahulukan yang lebih kuat  (menurut dugaan mereka) yang mereka bayangkan sebagai suatu wahyu yang ada di hadapan mereka. Tidak diragukan lagi, persangkaan ini dusta dan batil.

Para imam seluruhnya mengakui bahwa mereka tidak mengetahui semua nash, seperti penjelasan yang akan datang, insya Allah.

Pengakuan paling jelas adalah pengakuan yang dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Darul Hijrah, yang tidak disanksikan lagi kedalaman ilmu, kemuliaan dan kehormatannya. Saat Abu Ja’far al-Manshur (khalifah dari Bani Abbasiyyah) hendak memerintahkan kepada masyarakat untuk mengamalkan apan yang ia kumpulkan dalam al-Muwaththa’-nya, maka ia menolak keinginan Abu Ja’far. Imam Malik mengabarkan kepadanya bahwa para sahabat telah berpencar-pencar di berbagai penjuru negeri. Masing-masing memiliki ilmu yang tidak dimiliki sahabat lainnya.

Seluruh hadits tidak mungkin dikumpulkan dengan sempurna, kecuali setelah zaman imam yang empat tersebut. Karena para sahabat yang ada di berbagai penjuru dunia masing-masing meriwayatkan hadits yang tidak diriwayatkan oleh yang lainnya. Ketika itu tidak mudah untuk mengetahui secara keseluruhan, kecuali setelah beberapa waktu lamanya.

Jadi, banyaknya ilmu seorang alim bukan berarti ia mengetahui seluruhnya. Sebagai contoh, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tidak mampu memahami makna kalalah (yang tercantum dalam ayat) hingga wafat.

Ia pernah bertanya berkali-kali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna kalalah, dan beliau menjelaskannya kepadanya. Namun, masih saja ia tidak paham.

Dalam riwayat shahih dari Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Tidak ada masalah yang paling aku tanyakan kepada Rasulullah sh selain masalah kalalah,  hingga beliau menusuk dadaku dengan jarinya seraya bersabda: ‘Cukuplah bagimu ayat shaif yang tercantum di akhir surat an-Nisa’.”

Ini merupakan keterangan yang paling jelas, karena yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ayat shaif adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

يَسْتَفْتُونَكَ

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah).” (an-Nisa: 176)

Ayat ini menjelaskan makna kalalah dengan penjelasan yang cukup memadai. Karena ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalalah ialah seorang yang tidak memiliki anak dan orang tua.

Ayat ini menjelaskan bahwa kalalah adalah orang yang tidak punya anak, melalui dalil muthabaqah dalam firman-Nya:

إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ

“jika seorang meninggal dunia, sementara ia tidak mempunyai anak” (an-Nisa: 176)

Dan menjelaskan bahwa kalalah adalah orang yang tidak punya orang tua, melalui dalil iltizam dalam firman-Nya:

وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ

“dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya” (an-Nisa: 176)

Karena saudara perempuan mendapatkan waris, jika tidak ada anak.

Meski sedemikian jelasnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan dengan  ayat ini, tapi Umar radhiyallahu ‘anhu tetap belum memahaminya. Menurut riwayat shahih dari Umar bahwa masalah kalalah masih tetap mengganjal dalam hatinya.

Makna ini juga tidak dipahami secara meyakinkan oleh Abu Bakar. Ia berkata, “Aku mengatakan mengenai hal itu menurut pendapatku. Jika pendapatku benar, maka itu berasal dari Allah dan bila salah, maka itu berasal dari diriku dan dari setan. Menurutku, kalalah adalah seorang yang tidak memiliki anak dan orang tua.” Ternyata pendapat Abu Bakar ini sesuai dengan makna yang tercantum dalam ayat.

Jelasnya, jika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memahami ayat ini, tentunya ia tidak mengartikannya menurut pendapatnya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,”Cukup bagimu ayat shaif yang tercantum di akhir surat an-Nisa’.”

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan, ayat di atas sudah cukup sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan. Kesimpulan ini dapat diambil dari permintaan Umar radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah untuk menjelaskan ayat yang ditanyakannya. Dan, tentunya, tidak mungkin bagi orang seperti beliau mengundur-undur jawaban dari waktu yang diperlukan. Umar tidak mengalihkan ayat ini karena ayat ini berisikan penjelasan yang memadai.

Abu Bakar ash-Siddiq radhiyallahu ‘anhu juga sempat tidak mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan kepada seorang nenek 1/6 dari harta warisan, hingga ia diberitahu oleh al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Salamah bahwa Nabi pernah memberi nenek 1/6, lalu ia merujuk pada penuturan keduanya.

Umar juga tidak mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memutuskan tentang diyat janin, dengan memerdekakan seorang hamba laki-laki atau perempuan, hingga dia diberitahu oleh kedua sahabat terserbut.

Umar radhiyallahu ‘anhu tidak mengetahui, istri mewarisi diyat suaminya, hingga ia diberitahu oleh adh-Dhahhak bin Sufyan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat kepadanya yang isinya, “Istri Asyyam adh-Dhahhak mewarisi diyat suaminya.”

Umar tidak tahu kalau jizyah (upeti) juga dipungut dari orang-orang Majusi, hingga ia diberitahu oleh Abdurrahman bin ‘Auf bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memungut jizyah dari orang-orang Majusi di daerah Hajar.

Ia juga tidak tahu kalau adab meminta izin sebanyak tiga kali, hingga ia diberitahu oleh Abu Musa al-Atsari dan Abu Sa’id al-Khudri.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu tidak mengetahui kalau istri yang ditinggal mati suaminya masih memiliki hak tempat tinggal, hingga ia diberitahu oleh Qari’ah binti Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk tetap tinggal di rumah suaminya hingga selesai masa iddahnya.

Banyak sekali contoh-contoh seperti ini.

Khulafa’ur Rasyidin –padahal semua orang tahu siapa mereka– tidak mengetahui sejumlah kasus yang diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits-hadits beliau. Padahal mereka senantiasa menyertai beliau dan sangat antusias dalam mengambil hadits-hadits beliau. Apalagi orang yang lebih rendah keutamaan dan ilmunya dibandingkan mereka.

Jika demikian kondisi Khulafa’ur Rasyidin, lalu bagaimana halnya dengan selain mereka dari para imam yang belajar dan mendalami ilmu setelah para sahabat berpencar ke berbagai penjuru dunia? Kemudian orang-orang yang adil datang kepada mereka dari berbagai pelosok untuk meriwayatkan hadits-hadits darinya?

Kesimpulannya, menduga bahwa imam menguasai seluruh nash syar’i dan makna-maknanya adalah dugaan yang sama sekali tidak benar. Karena pasti ada sejumlah dalil yang tidak diketahuinya, tapi beberapa orang yang adil meriwayatkan hadits-hadits tersebut dari sahabat dengan sanad yang shahih. Karena itu, seorang imam memiliki udzur untuk tidak mengamalkan hadits yang tidak diketahuinya, padahal sudah mencurahkan segenap potensinya untuk mencari hadits-hadits. Itulah sebabnya ia mendapatkan satu pahala ijtihad, dan kekeliruan ijtihadnya dimaafkan.

Terkadang seorang imam mengetahui sebuah hadits. Tapi, hadits yang ia ketahui sanadnya lemah, sehingga ia tidak memakai hadits itu. Tetapi orang lain ada yang mengetahui hadits tersebut pada riwayat lain dengan sanad shahih. Jadi sang imam dimaafkan untuk tidak mengamalkannya. Karena ia tidak mengetahui kecuali hadits dengan sanad dhaif, sementara jalur riwayat lain yang shahih belum sampai kepadanya.

Terkadang sang imam meninggalkan sebuah hadits karena ada dalil yang diduganya lebih kuat. Tapi, kenyataannya, hadits itu ternyata lebih kuat dibandingkan dalil yang diduganya lebih kuat. Alasannya, karena ada dalil lain yang menguatkan hadits tersebut yang tidak diketahui sang imam. Atau dikarenakan sebab lainnya, sehingga sang imam tidak mengamalkan sebagian nash.

Dengan demikian, dugaan yang menyatakan bahwa para imam mengetahui semua hukum syar’i dan mengetahui seluruh maknanya adalah dugaan bathil. Semua imam menyatakan kebatilan dugaan ini, seperti akan Anda lihat pada penjelasan yang akan datang, insya Allah.

Yang seharusnya adalah sebagaimana yang dikatakan para imam itu sendiri bahwa mereka terkadang keliru,dan mereka melarang pengikutnya mengikuti semua pendapat mereka yang bertentangan dengan nash al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pengikut mereka yang hakiki adalah orang yang tidak mendahulukan pendapat siapa pun dibandingkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Adapun orang yang lebih mengedepankan pendapat seseorang daripada al-Qur’an dan sunnah yang shahih, maka dia sebenarnya menyelisihi dan tidak mengikuti mereka. Pengakuan dirinya sebagai pengikut imam adalah pengakuan dusta.

Perkara kedua, yaitu dugaan para pelaku taklid bahwa posisi mereka sama seperti para imam yang mendapat kemaafan apabila melakukan kekeliruan.

Sebagai penjelasan, mereka mengira bahwa jika seorang imam salah dalam menentukan sebagian hukum, lalu mereka mengikuti kesalahan tersebut, maka mereka pun mendapat kemaafan atas kesalahan tersebut dan mendapat satu pahala, seperti pahala yang diperoleh imam yang mereka ikuti. Alasannya,karena mereka mengikuti sang imam. Jadi, ketentuan yang berlaku untuk sang imam berlaku pula untuk mereka.

Ini adalah praduga yang jelas dusta dan bathil. Sebab imam yang mereka ikuti telah mengeluarkan segala potensinya untuk mempelajari al-Qur’an, sunnah Rasul, perkataan dan fatwa para sahabat. Ia sudah berhati-hati dan tidak melalaikan kewajibannya, yaitu mempelajari wahyu, mengamalkannya, dan mentaati Allah menurut aturan wahyu. Siapa saja yang demikian keadaannya, maka ia layak mendapatkan kemaafan untuk kesalahannya dan mendapatkan pahala untuk ijtihad yang dilakukan.

Adapun orang-orang yang bertaklid kepadanya, mereka tidak memperhatikan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta sama sekali tidak mau mempelajarinya, padahal hal itu mudah mereka lakukan. Mereka memposisikan pendapat para tokoh yang bisa salah dan bisa benar setingkat dengan wahyu yang diturunkan dari Allah subhaanahu wa ta’ala. Jadi, bagaimana mungkin posisi para imam sama dengan para pelaku taklid?

Tentu sangat jauh sekali perbedaannya. Ini sebagai bukti bahwa apabila mereka salah, mereka tidak mendapat pahala atas taklid buta yang mereka lakukan. Sebab tidak boleh mengikuti dan mencontoh selain yang hak. Para pelaku taklid juga tidak mendapat kemaafan, karena mereka mengabaikan apa yang wajib mereka pelajari berupa perintah dan larangan Allah berdasarkan wahyu yang diturunkan-Nya. Demikian juga mereka enggan mempelajari sesuatu yang perlu mereka amalkan, seperti hukum-hukum ibadah dan muamalah. Semua hal itu pada umumnya tercantum dalam nash-nash yang jelas, dan mudah dicerna dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kesimpulannya, orang yang berpaling dari Kitab Allah dan Rasul-Nya, yang lalai mempelajari agamanya; yaitu apa yang diturunkan Allah dan disunnahkan oleh Rasul-Nya, yang mengedepankan pendapat manusia ketimbang al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas tidak sama seperti imam yang tidak pernah berpaling dari al-Qur’an sunnah Rasul, tidak pernah mengedepankan ucapan siapa pun ketimbang al-Qur’an dan as-Sunnah, serta tidak pernah lalai dalam mempelajari perintah dan larangan yang terkandung dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sungguh, sangat jauh sekali perbedaannya!

Ia berjalan ke arah timur dan kamu berjalan ke arah barat

Sangatlah jauh jarak antara timur dan barat

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 61 -66 dengan adanya penyesuaian.


[1] Adhwa’ al-Bayan, asy-Syinqithi (VII/533-539)

Tag:, , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: