Hadits Arbain An-Nawawi Kelima: Kemungkaran dan Kebid’ahan

HADITS KELIMA [1]

Dari Ummul Mu’minin Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang tidak ada asalnya, maka hal itu tertolak.”  Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim [2]

Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka amalan itu tertolak.” [3]

PENJELASAN HADITS [3]

1- Hadits ini merupakan pokok yang mendasar dalam menimbang seluruh amalan yang zhahir. Dan amalan apapun tidak akan dianggap kecuali jika sesuai dengan syariat. Sebagaimana hadits “innamal a’maalu bin niyyat“, merupakan pokok yang mendasar dalam menimbang seluruh amalan batin. Dan semua amalan apapun yang dijadikan taqarrub (ibadah) kepada Allah harus dilakukan dengan ikhlas hanya untuk Allah, dan harus benar dengan niatnya.

2- Jika wudhu, mandi janabat, shalat, dan ibadah-ibadah lainnya dilakukan dengan tidak sesuai syariat, maka ibadah-ibadah tersebut tertolak dan tidak dianggap. Dan segala sesuatu yang diperoleh dengan akad yang rusak, wajib dikembalikan kepada pemiliknya
dan tidak boleh dimiliki. Dan yang menunjukkan hal ini adalah kisah seorang pekerja sewaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ayahnya,

.ِ»… أَما اَلْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ فَرَد عَلَيْكََ …«

Adapun budak wanita dan kambing, maka itu dikembalikan kepadamu… Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2695) dan Muslim (1697).

3- Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang melakukan perbuatan bid’ah, yang sama sekali tidak ada asal usulnya dalam syariat ini, maka itu tertolak, sekaligus pelakunya terancam dengan ancaman (dari Allah dan Rasul-Nya). Sungguh Nabi telah bersabda
tentang keutamaan kota Al-Madinah,

.ِ»… مَنْ أَ دَْثَ فَِيهَا حدثًا، أَوْ آَوَى مْحدِثًا، فعليْه لَعْنَةُ الله وَالْمَلاَئِكَةِ وَالناسِ أجْْعِين …«

Barangsiapa mengada-ada sebuah amalan di dalamnya, atau memberi tempat tinggal kepada orang yang mengada-ada tersebut, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia…
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1870), dan Muslim (1366).

4- Riwayat kedua yang terdapat dalam Shahih Muslim lebih umum dari riwayat yang terdapat pada Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim). Karena riwayat dalam Shahih Muslim ini mencakup seluruh orang yang melakukan bid’ah. Sama saja orang tersebut yang pertama kali mengadakan bid’ah ataupun ia hanya mengikuti pendahulunya dalam melakukan bid’ah tersebut.

5- Makna sabdanya “raddun” dalam hadits ini artinya “marduudun ‘alaihi” (tertolak kepada si pelakunya). Dan ini (dalam bahasa Arab) disebut penamaan objek dengan kata dasar. Seperti “khalqun” penciptaan) artinya “makhluuqun” (yang diciptakan). Atau “naskhun
(penghapusan hukum) artinya “mansuukhun” (hukum yang dihapuskan).

6- Tidak masuk ke dalam hadits segala sesuatu yang justru membantu dan membuat kemaslahatan dalam menjaga agama Islam. Atau yang menbantu dalam memahamkan dan mengetahui agama Islam. Seperti mengumpukan Al-Qur’an dalam mus-haf. Menulis ilmu-ilmu bahasa dan nahwu. Dan yang semisalnya.

7- Hadits ini, secara umum menunjukkan bahwa semua amalan yang menyelisihi syariat pasti tertolak. Walaupun maksud pelakunya baik. Dan dalil yang menunjukkan hal ini adalah kisah seorang sahabat yang menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat ‘Idul Adh-ha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat ini,

.ِ» شَاتُكَ شَاةُ لْحمٍ «

Kambing sembelihanmu kambing sembelihan biasa saja (yakni; hanya sembelihan biasa saja). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (955) dan Muslim (1961).

8- Hadits ini, secara lafazhnya menunjukkan bahwa setiap amalan yang tidak ada perintah syariat padanya maka tertolak. Dan secara pemahamannya, menunjukkan bahwa amalan yang padanya terdapat perintah syariat, maka tidak akan tertolak. Makna (ringkasnya); setiap amalan yang berada dalam koridor hukum-hukum syariat Islam dan sesuatu dengannya, maka ia diterima. Dan yang keluar darinya, maka tertolak.

9- Pelajaran dan faidah hadits:
a. Haramnya berbuat bid’ah dalam agama.
b. Setiap amalan yang terbangun di atas bid’ah, maka ia tertolak atas pelakunya.
c. Setiap larangan (untuk melakukan sesuatu) mengandung kerusakan (pada sesuatu tersebut).
d. Sesungguhnya amalan yang shalih, jika dilakukan tidak sesuai dengan syariat, seperti melakukan shalat sunnah di waktu yang terlarang dan tanpa ada sebabnya, dan berpuasa pada hari ‘Id, dan yang semisalnya, maka amalan ini batil dan tidak dianggap sama sekali.
e. Penghukuman seorang hakim tidak dapat merubah perkara sesungguhnya, berdasarkan sabdanya “suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah kami“.
f. Sesungguhnya perdamaian atau akad yang rusak (hukumnya) batil, dan barang apapun yang diambil di atas akad yang rusak tersebut harus dikembalikan. Sebagaimana dalam hadits seorang pekerja sewaan.

Catatan kaki:

1. Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali dari kitab Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr -hafizhahullah-, cetakan Daar Ibnul Qayyim & Daar Ibnu ‘Affan, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H/ 2003 M. Hadits ke-5, halaman 38 sampai 40.
2. HR Al-Bukhari (2697), Muslim (1718), dan lain-lain.
3. HR Muslim (1718).

Syarah lain dari hadits ini:

Imam Nawawi

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin

Tag:, , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: