Apakah Seorang Muslim Wajib Mengikuti Salah Satu Madzhab?

Beberapa Persoalan dan Syubhat Seputar Taklid dan Ittiba’ Bag 1

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim -hafidzahullah-

Tidak diragukan lagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mewajibkan umat untuk memilih salah satu madzhab tertentu. Beliau hanya mewajibkan untuk mengikutinya. Karena kebenaran itu hanya terbatas pada ajaran yang dibawanya. Jika seorang penulis berpikir secara fair, maka ia akan mengetahui bahwa bertaklid kepada madzhab imam tertentu tanpa mengindahkan dalil adalah tindakan yang sangat bodoh dan petaka yang sangat besar. Bahkan sikap ini hanya berdasarkan hawa nafsu dan fanatik belaka. Sementara posisi para imam mujtahid sendiri berseberangan dengan sikap seperti ini, sebagaimana telah kita ketahui dari ucapan-ucapan mereka. Barangsiapa yang mengikuti dalil, maka ia telah mengikuti imamnya dan seluruh imam lainnya. Ini berarti ia mengikuti al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Bahkan ia disebut keluar dari madzhab imamnya, jika ia bersikap fanatik dan taklid tanpa mengindahkan dalil. Karena imamnya, jika mendengar hadits yang terbebas dari kontradiksi, dia langsung meninggalkan pendapatnya dan mengikuti hadits. Orang yang bersikap taklid ini berarti telah diperbudak hawa nafsunya serta mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.[1]

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya ?” (Al-Jatsiyah:23)

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (An-Nisa’: 59)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:[2] “Haram hukumnya bertaklid, dan tidak dihalalkan bagi siapa pun mengikuti pendapat seseorang, selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tanpa dalil. Hal ini berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al-A’raf:3)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.” (Al-Baqarah: 170)

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, memuji orang yang tidak bertaklid:

فَبَشِّرْ عِبَادِ – الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, [yaitu] yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”(Az-Zumar:17-18)

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (An-Nisa’: 59)

Di sini Allah tidak membolehkan seseorang mengembalikan perselisihan yang terjadi kepada siapa pun, selain al-Qur’an dan as-Sunnah. Sudah menjadi kesepakatan para sahabat, tabi’in dan para pengikut tabi’in seluruhnya, dari yang paling senior hingga yang paling junior, tentang terlarangnya seseorang mengambil semua pendapat manusia, baik pendapat orang yang ada di antara mereka maupun pendapat orang yang hidup sebelum mereka.

Ketahuilah, barangsiapa mengambil semua pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, atau semua pendapat Imam Ahmad, dan tidak mau meninggalkan perkataan imam yang diikutinya, serta tidak mau berpegang pada al-Qur’an dan as-Sunnah yang seharusnya memalingkan dirinya dari pendapat seorang insan, maka bisa dipastikan ia telah menyelisihi kesepakatan umat Islam seluruhnya dari dahulu hingga sekarang. Sikap seperti ini tidak ada tuntunannya dari orang-orang yang hidup pada tiga kurun pertama, dan berarti ia telah menempuh selain jalan yang ditempuh oleh orang-orang  beriman. Apalagi para fuqaha’ telah melarang sikap taklid, dan menentang orang-orang yang bertaklid kepada mereka.

Al-Ma’shumi berkata,[3] “Sungguh aneh sekali sikap mereka yang bertaklid kepada madzhab bid’ah yang tersebar dan orang-orang yang fanatik terhadap madzhab tersebut. Mereka begitu saja mengikuti pendapat madzhabnya padahal pendapat tersebut tidak memiliki dalil sama sekali. Seolah mereka meyakini bahwa imam mereka adalah Nabi yang diutus oleh Allah. Tentunya sikap ini menyimpang dari yang hak dan jauh dari kebenaran. Kami saksikan dan kami tes sendiri, orang yang bertaklid meyakini bahwa imam mereka tidak mungkin salah, dan apa saja yang diucapkan imam itu pasti benar. Bahkan mereka tanamkan dalam hati bahwa tidak boleh meninggalkan pendapat imam, walaupun ada hadits yang bertentangan dengan pendapat imam tersebut. Sikap seperti ini sama seperti yang tercantum dalam hadits riwayat  at-Tirmidzi dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (At-Taubah:31)

Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mereka tidak pernah menyembah pendeta-pendeta mereka,’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Apabila pendeta mereka menghalalkan sesuatu, maka mereka pun ikut menghalalkannya dan apabila pendeta mereka menharamkan sesuatu, maka mereka pun ikut mengharamkannya. Demikianlah cara mereka menyembah.”[4]

Dinukil dari Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau pernah berkata, “Barangsiapa bertaklid kepada seseorang dalam mengharamkan atau menghalallkan sesuatu, padahal ada hadits shahih yang bertentangan dengan pendapat tersebut, dan sikap taklidnya itu menghalanginya untuk mengamalkan sunnah, berarti ia telah menjadikan orang yang diikutinya itu sebagai tuhan selain Allah. Karena dia menghalalkan untuknya apa yang diharamkan atas apa yang dihalalkan Allah.”[5]

Al-Mawardi[6] menukil dari pernyataan Syaikhul Islam, “Barangsiapa mewajibkan untuk bertaklid kepada imam tertentu, maka ia harus dituntut untuk bertaubat. Jika ia tidak mau bertaubat, maka ia dijatuhi hukuman mati. Sebab mewajibkan seperti ini berarti menyekutukan Allah dalam hal menetapkan hukum syariat yang menjadi hak prerogatif Allah semata.”

Al-Kamal bin al-Hammam al-Hanafi menyebutkan, “Yang benar bahwa mengikuti madzhab tertentu bukanlah suatu keharusan. Karena mengikutinya memang tidak diwajibkan. Sebab tidak ada yang wajib kecuali apa yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Semantara Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewajibkan siapa pun agar bermadzhab dengan madzhab salah seorang imam, serta bertaklid kepadanya dalam semua permasalahan agamanya dan tidak mengindahkan selainnya. Padahal generasi tiga abad terbaik tidak pernah berpendapat tentang wajibnya bermadzhab dengan madzhab tertentu.”[7]

Al-Qarafi rahimahullah berkata, “Para sahabat bersepakat bahwa barangsiapa meminta fatwa kepada Abu Bakar dan Umar serta bertaklid kepada keduanya, maka tidak ada yang mengingkari  bahwa orang tersebut juga boleh meminta fatwa dari Abu Hurairah, Mu’adz bin Jabal dan selainnya, serta beramal dengan pendapat mereka.”[8]

Pada zaman sahabat, tidak ada seorang pun yang mengambil seluruh pendapat dan bertaklid kepada salah seorang sahabat tanpa ada satu pendapat pun yang ditinggalkannya, serta membuang semua pendapat sahabat lainnya hingga tidak ada satu pun pendapatnya yang diambil.

Hampir dapat dipastikan, hal ini belum terjadi pada zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in (para pengikut tabi’in). Jangan sampai kita ditipu oleh orang-orang yang melakukan taklid bahwa ada seseorang yang menempuh metode ini pada tiga abad terbaik yang ia ambil dari sabda Nabi. Sesungguhnya bid’ah seperti ini baru muncul pada abad keempat yang dicela oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[9]

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Imam Malik, Imam Darul Hijrah yang tidak disangsikan lagi kedalaman ilmu, kemuliaan dan keutamaannya. Saat Khilafah al-Manshur (dari Dinasti Abbasiyyah) hendak memerintahkan kepada masyarakat untuk mengamalkan apa yang dikumpulkan dalam al-Muwaththa’, beliau menolak keinginan khalifah tersebut

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 57-61 dengan adanya penyesuaian.


[1] Hadiyah ash-Shulthan ila Muslimi Bilad al-Yaban, al-Ma’shumi, tahqiq Salim al-Hilali, hal. 76

[2] Ucapan ini dinukil oleh ad-Dahlawi dalam Hujjatullah al-Balighah (I/154-155). Namun, aku tidak menemukan nukilan tersebut dari sumber utamanya, baik al-Muhalla maupun al-Ihkam.

[3] Hadiyah ash-Shulthan (hal. 52-53)

[4] Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani. Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Baihaqi (X/116) dengan sanad dhaif. Tetapi ada penguatnya dari hadits yang bersanad mauquf dari Hudzaifah dan riwayat lain dengan sanad mursal. Dengan kedua sanad tersebut Syaikh al-Albani menghasankan hadits ini dalam takrij hadits pada kitab Mushtalahat al-Arba’ah, hal. 18-20.

[5] Hadiyah ash-Shulthan (hal. 69)

[6] Al-Inshaf, al-Mawardi (XI/17)

[7] Hadiyah ash-Shulthan hal.56

[8] Adhwa’ al-Bayan (VII/488)

[9] Adhwa’ al-Bayan (VII/509)

Tag:, , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: