Tafsir Surat Al-Baqarah: 16-20

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyingkap hakikat dari kondisi mereka (orang-orang munafiq, -Ad),

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah:16)
____________________________

Tafsir ayat:

16. Mereka itulah; maksudnya orang-orang munafiq yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut, {الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ } “Orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk” maksudnya mereka suka terhadap kesesatan sebagaimana seorang  pembeli suka terhadap suatu barang dagangan, yang –di antara kesukaannya terhadap kesesatan itu- membuat ia mengeluarkan harta yang berharga untuk mendapatkannya, dan ini adalah suatu perumpamaan yang paling sesuai, karena Allah menjadikan kesesatan yang merupakan puncak dari segala kejahatan seperti barang dagangan dan Dia menjadikan petunjuk yang merupakan puncak dari segala kebaikan setingkat dengan harga barang, lalu mereka menyerahkan petunjuk karena tidak suka terhadapnya untuk mendapatkan kesesatan karena suka terhadapnya, maka inilah perdagangan mereka, sungguh jeleklah perdagangan mereka itu, dan inilah transaksi mereka, sungguh jeleklah transaksi mereka.

Apabila seseorang mengeluarkan dinarnya untuk mendapatkan uang dirham maka ia telah rugi, lalu bagaimanakah orang yang mengeluarkan permata untuk mendapatkan uang dirham? Dan bagaimanakah orang yang mengeluarkan petunjuk untuk mendapatkan kesesatan? Dan ia lebih memilih kesengsaraan dari pada kebahagiaan, serta lebih suka terhadap perkara-perkara yang tidak berarti dengan meninggalkan perkara-perkara yang berguna? Akhirnya tidak beruntunglah perdagangan tersebut, bahkan ia merugi dalam hal itu dengan kerugian yang paling besar, mereka itulah orang-orang yang rugi diri mereka dan keluarga mereka pada hari kiamat, camkanlah bahwa itulah kerugian yang nyata.[1] Dan firman-Nya { وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ } “Dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” sebagai penegasan akan kesesatan mereka dan bahwasanya mereka tidak mendapatkan sedikitpun petunjuk, maka inilah sifat-sifat mereka yang jelek, kemudian Allah menyebutkan perumpamaan mereka –yang  menyingkap hal itu dengan sejelas-jelasnya- seraya berfirman,

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 17-20)

____________________________

Tafsir ayat:

17. Yaitu perumpamaan mereka yang sesuai dengan kondisi mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, yaitu ia berada dalam kegelapan yang pekat, dan sangat membutuhkan api, lalu menyala dari selain dirinya dan ia sendiri tidak memiliki persiapan akan tetapi di luar kesiapannya, dan ketika api itu telah menerangi sekitarnya, dan ia mampu melihat tempat di mana ia berada dan segala yang rasakan berupa kekhawatiran, ia menenangkan diri dan memanfaatkan api tersebut, lalu tenanglah pandangannya, dan ia mengira bahwa ia menguasai kondisi itu.

Lalu ketika ia berada dalam kondisi seperti itu, Allah memadamkan cahaya-Nya hingga hilanglah cahaya dari api itu dan lenyaplah kebahagiaannya, lalu ia berada kembali dalam kegelapan yang pekat sedangkan api masih menyala-nyala namun karena hilang cahaya darinya dan tinggallah padanya api yang menyala-nyala, dan ia berada dalam kegelapan yang bermacam-macam; kegelapan malam, kegelapan awan, kegelapan hujan, dan kegelapan yang terjadi setelah adanya cahaya, maka bagaimanakah kondisi orang yang seperti ini?

Demikianlah juga orang-orang munafiq yang menyalakan api keimanan dari kaum mukminin namun tidak menjadi ciri bagi mereka, mereka menjadikannya penerangan untuk sementara waktu dan memanfaatkannya hingga terjagalah darah mereka dan selamatlah harta mereka, serta mereka mendapatkan suatu keamanan di muka bumi ini, lalu ketika mereka dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba kematian menyergap mereka, dan menghentikan pemanfaatan mereka terhadap cahaya tersebut, hingga terjadilah kegundahan, kebimbangan, dan siksaan, dan mereka mendapatkan kegelapan kubur, kegelapan kekufuran, kegelapan kemunafiqan dan kegelapan kemaksiatan dengan segala perbedaan coraknya, lalu kemudian setelah itu kegelapan api neraka; dan itulah seburuk-buruk kediaman, oleh karena itu Allah berfirman tentang mereka.

18. { صُمٌّ } “Mereka tuli” maksudnya tuli dari mendengarkan kebaikan, { بُكْمٌ  } “bisu” maksudnya bisu dari membicarakannya, {  عُمْيٌ } “dan buta” dari melihat kebenarannya. { فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ } “Maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar” karena mereka meninggalkan kebenaran setelah mereka mengetahuinya, lalu mereka tidak kembali kepadanya, berbeda dengan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan, karena sesungguhnya ia tidak berfikir dan ia lebih dekat untuk kembali daripada mereka.

19. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, { أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ } “Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit” yaitu yang terkena hujan, dia adalah hujan yang mengalir, yaitu turun dengan derasnya, { فِيهِ ظُلُمَاتٌ } “disertai gelap gulita” kegelapan malam, kegalapan awan, dan kegelapan hujan yang ada padanya, { وَرَعْدٌ } “guruh” yaitu suara yang terdengar dari awan dan juga ada padanya { وَبَرْقٌ } “kilat” yaitu cahaya yang menyala dan terlihat dari awan.

20. { كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُم } “Setiap kali kilat itu menyinari mereka” kilat dalam kegelapan-kegelapan tersebut, { مَّشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا } “Mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti” yaitu mereka diam, seperti itulah kondisi orang-orang munafiq ketika mereka mendengarkan al-Qur’an, perintah-perintahnya, larangan-larangannya, janji dan ancamannya. Mereka meletakkan jari-jemari mereka pada telinga-telinga mereka dan mereka berpaling dari perintahnya, larangannya, janjinya dan ancamannya, lalu ancamannya menggetarkan mereka, janji-janjinya mengganggu mereka, dan mereka berpaling darinya dengan sekuat apapun, hingga membuat mereka lebih kokoh, mereka membencinya seperti seorang yang terkena hujan dan ia mendengar guruh lalu meletakkan jari-jemarinya pada kedua telinganya karena takut dari kematian, orang ini masih mempunyai kemungkinan saja memperoleh keselamatan. Adapun orang-orang munafiq, dari manakah mereka memperoleh keselamatan, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengawasi mereka baik dengan kemampuan maupun pengetahuan [-Nya] dan mereka tidak akan lepas dari-Nya dan tidak mampu melemahkan-Nya, bahkan Dia menjaga perbuatan-perbuatan mereka, lalu memberikan balasan atasnya dengan balasan yang setimpal.

Dan ketika mereka diuji dengan ketulian, kebutaan dan kebisuan maknawi serta tertutupnya  pintu-pintu keimanan bagi mereka , Allah berfirman { وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ } “Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka” yaitu yang bersifat nyata, dalam hal ini merupakan sebuah tindakan menakut-nakuti mereka, dan peringatan dari hukuman dunia, agar mereka berhati-hati lalu mengambil pelajaran dari sebagian kejahatan dan kenifaqan mereka. { إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  } “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu” Dia tidaklah lemah terhadap apapun, dan di antara kekuasaan-Nya adalah bahwa apabila Dia menghendaki sesuatu, niscaya Dia lakukan tanpa ada penghalang dan tanpa ada perintang.

Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya ada sebuah jawaban terhadap al-Qadariyah yang berpendapat bahwasanya perbuatan-perbuatan mereka tidaklah termasuk dalam kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, karena perbuatan-perbuatan mereka termasuk bagian dari hal-hal yang masuk dalam firman-Nya, { إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ } “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu

Sumber Penulisan:

1. Kitab Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Darul Hadits, Kairo hal. 26-27. Dan dcocokkan ulang pada kitab yang sama dari cetakan Darul Ibnu Hazm hal. 29 kolom ke-3

2. dengan terjemahannya: Tafsir As-Sa’di (1), cetakan Pertama, Pustaka Sahifa, Jakarta hal. 78-83

Catatan kaki:


[1] قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS.az-Zumar [39]: 15)

Tag:, , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: