[Pernyataan Para Imam Untuk Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Taklid Buta]

[Judul dari Admin -Ad]

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim -hafidzahullah-

Di sini akan kami kemukakan kepada Anda sebagian dari ucapan-ucapan mereka yang berkaitan dengan masalah ini.[1]

I. Imam Abu Hanifah rahimahullah

Imam yang paling senior di antara mereka adalah Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit rahimahullah. Diriwayatkan dari sebagian murid-murid beliau berbagai pernyataan dan ungkapan. Semuanya mengarah kepada satu maksud, yaitu waijb berpegang dengan hadits dan tidak bertaklid pada pendapat para imam yang bertentangan dengan hadits tersebut.

1. Apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.

2. Tidak halal bagi seseorang mengambil pendapat kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.

Dalam suatu riwayat: Siapa yang tidak mengetahui dalilku, haram baginya berfatwa dengan pendapatku.

Dalam riwayat lain: Kami hanyalah seorang manusia. Hari ini kami berpendapat seperti ini, dan esok hari mungkin pendapat itu kami cabut kembali.

Dalam riwayat lain: Celaka kamu, wahai Ya’qub (yakni Abu Yusuf)! Jangan kamu tulis semua yang kamu dengar dariku! Sebab hari ini aku berpendapat begini, dan mungkin besok aku meninggalkannya. Besok aku berpendapat begitu, dan mungkin lusa pendapat tersebut sudah aku tinggalkan.

3. Apabila aku mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah pendapatku itu!

II. Imam Malik bin  Anas rahimahullah

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

1. Aku hanyalah seorang manusia yang terkadang salah dan terkadang benar. Karena itu, telitilah pendapatku. Semua pendapatku yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, ambillah, dan semua pendapatku yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, tinggalkanlah.

2. Tidak ada seorang pun sesudah Nabi melainkan pendapatnya dapat diterima atau ditolak, kecuali ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Ibnu Wahb menuturkan, “Aku pernah mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari-jari kaki dalam wudhu, maka dia menjawab, ‘Hal itu tidak perlu dilakukan’. Aku membiarkannya hingga tempat tersebut sunyi, lalu aku katakan kepadanya, ‘Kami memiliki hadits tentang masalah itu’. Malik bertanya, ‘Mana hadits itu?’ Aku katakan, ‘al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Harits menceritakan kepada kami dari Yazid bin ‘Amr Al-Ma’afiri, dari ‘Abdurrahman Al-Habli, dari al-Mustaurid bin Syaddad al-Qurasyi, ia berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosok-gosokkan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kedua kakinya’. Maka, Malik berkomentar, ’ Hadits ini hasan, dan aku tidak pernah mendengarnya sama sekali kecuali kali ini.’ Kemudian, setelah itu, ia ditanya tentang perkara yang sama, maka dia memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari kaki.”

III. Imam asy-Syafi’i rahimahullah

Riwayat-riwayat yang dinukil orang dari Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus, serta pengikutnya lebih banyak yang melaksanakan pesannya dan lebih beruntung. Di antaranya:

1. Setiap orang harus bermadzhab kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku.

2. Seluruh kaum Muslimin bersepakat, orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak halal baginya meninggalkan sunnah tersebut guna mengikuti pendapat seseorang.

3. Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlawanan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkan pendapatku.

4. Bila suatu Hadits shahih, itulah madzhabku.

5. Kalian lebih tahu tentang hadits dan para perawinya daripada aku. Apabila ada hadits shahih, beritahukanlah kepadaku dari mana pun hadits itu diriwayatkan, baik hadits orang-orang Kuffah, Bashrah, atau Syam, agar aku berpendapat dengan hadits itu, jika memang hadits tersebut shahih.

6. Bila suatu masalah ada haditsnya yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut ahli hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik semasa hidupku maupun sepeniggalku.

7. Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang menyalahi hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa itu berarti akalku sudah hilang.

8. Setiap perkataanku bila bertentangan dengan riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi lebih utama untuk diikuti, dan kalian jangan bertaqlid kepadaku.

9. Setiap hadits yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka itulah pendapatku, sekalipun kalian belum pernah mendengarnya langsung dariku.

IV. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah

Ahmad bin Hanbal rahimahullah merupakan seorang imam yang paling banyak menghimpun hadits dan berpegang teguh padanya, sampai-sampai dia tidak suka menulis  kitab-kitab yang memuat masalah furu’ dan pendapat. Karena itu, dia menyatakan:

1. Janganlah bertaqlid kepadaku atau kepada Malik, asy-Sayfi’i, al-Auza’i dan ats-Tsauri, tetapi ambillah dari mana mereka mengambilnya.

Dalam riwayat lain, Janganlah bertaqlid kepada siapapun mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah ambillah. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).

Pada kesempatan lain, dia berkata , ittiba’ adalah mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kemudian yang datang dari para tabi’in boleh dipilih.

2.  Pendapat al-Auza’i, Malik dan Abu Hanifah semuanya ra’yu (pendapat). Bagiku, semua ra’yu itu sama saja. Tetapi  yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsarnya (haditsnya)

3. Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berada di jurang kehancuran.

Demikianlah pernyataan para imam dalam memerintahkan untuk berpegang teguh pada hadits dan melarang mengikuti mereka tanpa ilmu. Pernyataan mereka itu sudah jelas, tidak dapat dibantah atau diputarbalikkan lagi. Mereka mewajibkan berpegang pada semua hadits shahih, sekalipun bertentangan dengan sebagian pendapat mereka.  Sikap semacam itu tidak dikatakan menyalahi madzhab dan keluar dari metode mereka, bahkan sikap itulah yang disebut mengikuti mereka dan berpegang teguh pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Akan tetapi tidaklah demikian halnya orang yang meninggalkan hadits shahih hanya karena menyelisihi pendapat mereka. Bahkan orang yang berbuat demikian telah durhaka kepada mereka dan melanggar pesan-pesan mereka terdahulu. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

Maka demi Rabbmu, mereka  (pada hakekatnya) tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yangdiperselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. [An-Nisa’ : 65]

ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” [An-Nur : 63]

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

“Kewajiban orang yang telah menerima dan mengetahui perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyampaikan kepada ummat, menasihati, dan menyuruh mereka untuk mengikutinya, sekalipun bertentangan dengan pendapat mayoritas ummat. Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti dibandingkan dengan pendapat tokoh mana pun yang menyelisihihi perintahnya, yang terkadang pendapatnya itu salah. Karena itulah para sahabat dan para tabi’in selalu menentang setiap orang yang menyalahi hadits shahih, dan terkadang  dengan penolakan yang keras. Hal itu mereka lakukan bukan karena kebencian kepadanya, tetapi karena mereka mencintainya dan menghormatinya. Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mereka cintai, dan perintah beliau jauh lebih tinggi dibandingkan perintah selainnya.

Jika perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertetangan dengan perintah yang lain, maka perintah Nabi lebih layak untuk  didahulukan dan diikuti. Sikap ini tidak menjadi halangan untuk menghormati orang yang menyelisihi perintah beliau, jika ia termasuk orang yang diberi ampunan (karena tidak sengaja menyelisihinya). Bahkan orang yang menyelisihi (sunnah) tapi mendapatkan ampunan ini, sebenarnya tidak merasa benci bila pendapatnya ditinggalkan, jika memang pendapat tersebut bertentangan dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penulis berkata (Mungkin maksudnya adalah penulis Shifah Shalah an-Nabi, asy-Syaikh al-Albani –Ad): Bagaimana mungkin para imam membenci sikap tersebut, padahal mereka sendiri menyuruh para pengikutnya untuk bersikap demikian, seperti yang telah dikemukakan di atas, dan mereka mewajibkan para pengikutnya untuk meninggalkan pendapat-pendapat mereka yang  bertentangan dengan hadits. Bahkan Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyuruh para muridnya untuk menisbatkan hadits shahih kepada dirinya, walau dia tidak berpegang dengannya atau bahkan pendapatnya menyelisihinya. Karena itu, ketika Ibnu Daqiq Al-’Id menghimpun permasalahan di mana madzhab masing-masing dari empat imam bertentangan dengan hadits shahih, salah satunya atau semuanya, dalam sebuah buku besar, dia mengatakan dalam muqoddimahnya,

“Mengatasnamakan kepada imam mujtahid tentang berbagai masalah yang bertentangan dengan hadits shahih adalah perbuatan haram. Para ahli fiqih yang taqlid kepada mereka wajib mengetahui bahwa tidak boleh mengatasnamakan masalah itu kepada mereka. Karena ini berarti berdusta atas nama mereka.”

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 51-56

Untuk bisa melihat takhrij dari perkataan para Imam di atas, bisa dilihat pada sub judul yang terkait di sini.


[1] Muqoddimah Shifah Shalah an-Nabi shallallahu alaihi wa sallam, al-Allamah Syaikh al-Albani rahimahullah, hal. 36-57

Tag:, , , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

3 responses to “[Pernyataan Para Imam Untuk Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Taklid Buta]”

  1. Admin Perisai Islam says :

    Bismillah … assalamu’alaykum ….
    Kunjungan Resmi dari admin PERISAI ISLAM … http://abahnajibril.wordpress.com/
    link antum sudah kami pasang mohon dipasang balik ya …

    sekedar saran, ahsan dibuatkan 1 halaman khusus buku tamu agar bisa saling sapa antara pembaca …

    terima kasih … barakallahu fik

    wa’alaikumus salaam warohmatullaah. Blog antum telah dipasang balik di http://linkfavorit.wordpress.com/ pada kolom “ikhwan”

    Halaman khusus untuk pengunjung:
    http://blogpribadisaya.wordpress.com/tulisan-pengunjung/
    dan bisa dilihat pada deretan halaman di atas bah, tapi tentunya bisa terlihat via pc aja. Syukron jazaakallaahu khairan udah mampir di sini.Wa fiikum baarokallaah

  2. Bang Uddin says :

    Mari kita tes!

    1. Kalau lihat ada yang kritis terhadap partai, maka dikatakan sebagai kader tidak tsiqoh dan tidak taat

    2. Kalau ada berita apapun yang tidak enak langsung disebut fitnah

    3. Lalu kalau ternyata benar, disebut ghibah, kemudian dilabeli membongkar aib

    4. Setelah itu, kalau ia masih terus gencar bertanya, maka ia disebut sebagai kader yang hasad dan barisan sakit hati karena tdk diberi jabatan

    5. Kalau masih bertanya juga, maka kita menyebutkan bahwa jamaah ini bukan jamaah malaikat tapi jamaah manusia. Lalu memaklumi kemaksiatan/penyimpangan yang terjadi dalam tubuh jamaah.

    6. Kalau dia masih mengkritik lagi, maka akan ditanyakan kepada sang pengkritik SUDAH HAFAL BERAPA JUZ? SUDAH BERAMAL APA DIBANDINGKAN JAMAAH KAMI? SIAPA SIH KAMU DIBANDINGKAN PETINGGI-PETINGGI KAMI YANG LULUSAN UNIV ISLAM TERKEMUKA?

    7. Kalau masih mengkritik habis-habisan, maka akan menyerang pribadi sang pengkritik, bukan membantah argumen yg dijadikan bahan kritikan..

    8. Jika sudah tidak ada alasan untuk berkilah, maka berbagai peristiwa yang dikritik, dianggap sebagai jebakan atau konspirasi untuk menghancurkan jamaah.

    Jika anda seperti itu, apapun yang ingin anda katakan, saya katakan kepada anda, bahwa anda adalah orang yang TAKLID BUTA..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: