Sikap Terhadap para Imam Panutan

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim -hafidzahullah-

Ketahuilah, sikap kita terhadap para imam, baik empat imam maupun selainnya, adalah sikap sebagaimana ditunjukkan kaum Muslimin yang obyektif terhadap mereka. Yakni mencintai mereka, memuliakan, menghormati, dan memberikan pujian kepada mereka karena kedalaman ilmu dan ketakwaan mereka, keteguhan mereka dalam mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta mendahulukan keduanya daripada pendapat mereka sendiri. Anda mempelajari pendapat-pendapat mereka sebagai sarana untuk mencapai kebenaran, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun masalah-masalah yang tidak ada nashnya, sikap yang benar adalah memperhatikan hasil ijtihad yang mereka lakukan. Sebab, bisa jadi, mengikuti ijtihad mereka lebih dekat kepada kebenaran dari pada mengikuti hasil ijtihad kita sendiri. Karena mereka lebih berilmu dan lebih bertakwa dari pada kita. Tetapi kita harus melihat dan bersikap hati-hati dalam memilih pendapat yang paling besar kemungkinannya untuk meraih keridhaan Allah, lebih aman dan lebih jauh dari subhat.[i]

Untuk melakukan pendekatan sikap ini, penulis ingin memberikan sedikit keterangan mengenai beberapa perkara berikut ini:

1. Ketahuilah, para imam –rahimahumullah- bukanlah orang-orang yang terlepas dari kekeliruan (ma’shum). Masing-masing mereka mengalami kekeliruan  dalam beberapa masalah. Menurut para ulama, yakni yang menyelisihi sunnah.

Abu Hanifah rahimahullah adalah imam yang paling banyak mengalami kekeliruan, karena dia adalah imam imam yang paling banyak mengandalkan pendapat. Misalnya, ia tidak beramal dengan hadits yang memutuskan kasus kepemilikan harta berdasarkan saksi dan sumpah, serta hadits yang isinya mengasingkan pezina yang masih gadis atau perjaka, dan selainnya.

Kekeliruan imam Malik rahimahullah seperti pengingkarannya tentang disunnahkannya puasa enam hari di bukan Syawwal, dan menganggap baik puasa pada hari Jum’at walaupun puasa tersebut dikhususkan untuk hari itu. Hal ini terjadi karena ia belum mendengar hadits yang berkaitan dengan kedua masalah tersebut. Imam Malik juga tidak mengamalkan hadits tentang khiyar majlis (pembeli-penjual berhak memilih selama masih berada di tempat jual beli), padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan selainnya.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah keliru dengan pendapatnya yang mengatakan sekedar menyentuh wanita tanpa pelapis dapat membatalkan wudhu. Padahal pendapat ini bertentangan dengan sunnah. Hanya saja ia mempunyai jawaban atas hadits ini.

Imam Ahmad rahimahullah keliru dengan pendapatnya yang mengatakan, untuk berhati-hati, boleh puasa “pada hari yang diragukan” menjelang Ramadhan. Padahal, ada nash yang melarang berpuasa pada hari yang diragukan tersebut. Dan kekeliruan-kekeliruan lainnya.

Bukanlah maksud kita di sini mencerca para imam dan mengumbar kekeliruan yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang telah mencurahkan segala potensinya untuk mempelajari apa yang datang dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala melalui lisan Rasul-Nya. Kemudian mereka berijtihad menurut kemampuan yang mereka miliki. Jika mereka benar, maka mereka mendapatkan pahala ijtihad yang dilakukan dan hasil ijtihad mereka yang benar (jadi mereka mendapatkan dua pahala). Sebaliknya, jika mereka keliru, mereka mendapatkan pahala atas ijtihad yang dilakukan dan kesalahan mereka dimaafkan. Tetapi tujuan kami di sini, di samping mengakui kedudukan mereka yang besar, adalah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan Sunnah Nabi wajib didahulukan dari pendapat-pendapat mereka, karena mereka bukan orang-orang yang terjaga dari kesalahan.[ii]

2. Harus diketahui bahwa tidak ada seorang pun dari para imam yang mendapat penerimaan secara umum di tengah umat ini yang sengaja menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dalam masalah kecil maupun besar. Karena mereka telah bersepakat tentang wajibnya mengikuti sunnah Rasul, dan bahwa setiap orang bisa diambil serta ditinggalkan pendapatnya kecuali pendapat Rasulullah. Tetapi jika salah seorang dari mereka memiliki pendapat yang bertentangan dengan hadits shahih, maka wajib meninggalkan pendapat imam tersebut.[iii]

3. Ada tiga alasan mengapa pendapat para imam bertentangan dengan sunnah:[iv]

Pertama, tidak meyakini bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakannya. Dalam hal ini terdapat beberapa sebab:

  1. Hadits tersebut sama sekali tidak sampai kepadanya. Jika hadits tidak sampai kepada seseorang, maka ia tidak dibebani untuk mengetahui hukunm yang terkandung dalam hadits itu. Jika hadits tidak sampai kepadanya, dan ia berpendaoat tentang suatu kasus berdasarkan zhahir ayat atau hadits lain, atau dengan dasar qiyas dan istishhab, maka sekali tempo, pendapatnya sesuai dengan hadits yang belum sampai kepadanya, dan pada tempo yang lain, bertentangan dengan hadits tersebut. Inilah sebab umum adanya pendapat-pendapat salaf yang bertentangan dengan sebagian hadits. Karena pada saat itu tidak ada seorang imam pun yang menguasai seluruh hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[v]
  2. Mungkin hadits tersebut sampai kepadanya, tetapi ia menganggap hadits tersebut tidak shahih.
  3. Dengan ijtihadnya ia meyakini, hadits tersebut dhaif, baik keyakinannya  ini benar atau keliru. Sementara imam lain menyimpulkan bahwa hadits tersebut shahih karena mendapatkan jalur sanad yang lain.
  4. Ia menetapkan kriteria untuk hadits ahad, yaitu perawinya sseorang yang adil dan kuat hafalannya. Sementara imam lain tidak menetapkan kriteria ini. Contohnya, jika hadits tersebut bertentangan dengan kaidah qiyas, maka hadits tersebut diterima, jika perawinya seorang yang faqih. Dan lain-lain.
  5. Suatu hadits sudah sampai kepadanya dan shahih menurutnya, tapi ia lupa hadits tersebut.

Kedua, tidak meyakini bahwa dalam hadits itu ada jawaban untuk masalah tertentu. Mengenai hal ini ada beberapa sebab, di antaranya:

a. Tidak mengetahui “pengertian yang ditunjukkan” suatu hadits. Mungkin karena lafal hadits tersebut asing (gharib) baginya, dan para ulama juga berselisih dalam menafsirkan hadits tersebut. Terkadang ia mengetahui makna hadits tersebut menurut bahasanya dan adat-istiadatnya, bukan maknanya menurut bahasa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terkadang lafal yang tercantum dalam hadits memiliki beberapa makna (musytarak) atau bersifat global (mujmal), atau masih bimbang antara makna hakiki dan majazi. Kemudian ia memilih salah satu makna yang lebih dekat, menurut pemahamannya, padahal makna yang lainnyalah yang dimaksud. Seperti terjadi pada sebagian sahabat yang pada awalnya memahami, bahwa yang dimaksud “benang putih dan benang hitam” adalah tali. Dan lain-lain.

Terkadang  dalil yang ditunjukkan suatu nash tidak jelas. Karena pendalilan dari beberapa pendapat terlalu luas, sementara kemampuan untuk memahami persoalan itu bertingkat-tingkat.

b. Ia meyakini, pada dasarnya tidak ada suatu dalil pun dalam hadits itu. Perbedaan antara yang kedua ini dengan yang pertama, bahwa yang pertama tidak mengetahui arah pendalilan hadits tersebut, sementara yang kedua mengetahuinya tetapi tidak meyakininya sebagai dalil yang shahih.

c. Ia meyakini, dalil tersebut bertentangan dengan dalil yang menunjukkan bahwa bukan itu yang dimaksud. Misalnya, pertentangan antara dalil yang bersifat umum (‘am) dengan dalil yang bersifat khusus (khash), mutlak dengan muqoyyad, perintah mutlak dengan dalil yang tidak mewajibkan, atau pertentangan-pertentangan lainnya (yang sebenarnya tidak dikatakan bertentangan).

Ketiga, ia meyakini, hadits itu bertentangan dengan dalil yang menunjukkan ke-mansukh-annya atau tafsirannya yang tidak diyakini oleh selainnya, atau pada hakikatnya tidak benar-benar bertentangan.

Sebab-sebab inilah dan sebab yang lainnya merupakan alasan mengapa pendapat para imam yang bertentangan dengan hadits dapat dimaafkan. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala merahmati mereka.

4. Jika masalah ini sudah jelas, maka kita tidak boleh berpaling dari pendapat yang hujjahnya jelas berdasarkan hadits shahih yang disetujui oleh segolongan ulama, kepada pendapat ulama lain yang memiliki alasan untuk menolak hujjah ini, walaupun ia lebih alim daripada ulama sebelumnya. Sebab kesalahan yang terjadi karena berpegang kepada pendapat ulama kemungkinan lebih banyak daripada berpegang dengan dalil syariat. Karena dalil syariat adalah hujjah Allah atas seluruh hamba-Nya, berbeda halnya dengan pendapat seorang ulama. Dalil syar’i tidak mungkin keliru, jika tidak ada dalil syar’i lain yang menentangya. Sementara pendapat seorang ulama tidak demikian. Maksudnya, seorang ulama terkadang memiliki alasan untuk meninggalkan suatu hadits, dan kita sendiri juga memiliki alasan untuk meninggalkan pendapat imam yang meninggalkan hadits.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 134)

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)” (An-Nisa: 59)

Apabila para ulama meninggalkan hadits karena alasan-alasan yang telah disinggung, berarti jika datang hadits shahih yang berisikan penghalalan, pengharaman atau suatu hukum, maka kita tidak boleh meyakini, orang yang meninggalkan hadits itu –dari kalangan ulama yang telah disebutkan sebab-sebab mereka meninggalkannya—akan mendapatkan siksa. Karena ia menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, atau memutuskan dengan selain hukum yang dirturunkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Demikian juga, meskipun ada hadits yang berisikan ancaman, kutukan, kemurkaan, atau siksaan atas suatu perbuataan, kita tidak boleh mengatakan: bahwa ulama yang membolehkan atau melakukan hal ini termasuk dalam kategori ancaman tersebut.

Ucapan ini tidak pernah beredar di kalangan umat ini, kecuali ucapan yang pernah dilontarkan sebagian kelompok Mu’tazilah di Baghdad. Barangsiapa yang tidak sampai kepadanya hadits pengharaman, lalu ia membolehkannya dengan bersandarkan pada dalil syar’i, tentunya ia lebih berhak mendapatkan kemaafan. Dan, karena itu, ia justru mendapatkan satu pahala karena ijtihad yang telah dilakukannya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman,” (Al-Anbiya: 78)

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا

“maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (Al-Anbiya: 79)

Allah hanya memberikan pemahaman kepada Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salaam, tapi Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberikan pujian kepada Nabi Daud ‘Alaihis Salaam dan Nabi Sulaiman karena mereka berdua memiliki ilmu dan keahlian dalam memutuskan hukum.

Dalam hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا جْتَهَدَ الْحَاكِمُ  فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim melakukan ijtihad dan ternyata hasilnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala; dan apabila ia berijtihad dan ijtihadnya salah, maka ia mendapatkan satu pahala.”[vi]

Jelaslah bahwa seorang mujtahid, walaupun ijtihadnya keliru, tetap mendapatkan satu pahala, yakni pahala yang diberikan atas ijtihad yang dilakukannya dan kekeliruannya dimaafkan. Sebab untuk mendapatkan kebenaran dalam semua hukum adalah mustahil atau sukar.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj:78)

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

5. Para imam bersepakat tidak membolehkan bertaklid kepada pendapat mereka, taklid buta, yaitu sikap fanatik terhadap pendapat imam yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikut imam tersebut. Mereka berpegang dengan pendapat dan madzhab mereka seolah-olah pendapat dan madzhab tersebut turun dari langit.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al-A’raf: 3)[vii]

[ Insya Allah pada kesempatan yang lain, akan kami lanjutkan dengan mengemukakan ucapan para Imam yang melarang takild buta]

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 45-51


[i] Adhwa’ al-Bayan (VII/555)

[ii] Adhwa’ al-Bayan (VII/556-576)

[iii] Raf’ al-Malam ‘an A’immah al-A’lam, dari Majmu’ al-Fatawa (XX/232)

[iv] Raf’ al-Malam ‘an A’immah al-A’lam, dari Majmu’ al-Fatawa (XX/231-290)

[v] Lihat contoh-contph terjadinya masalah tersebut di kalangan sahabat dan selainnya dalam referensi yang lalu (20/234-238)

[vi] Shahih, diriwayatkan oleh al-bukhari dan Muslim

[vii] Raf’ al-Malam dari al-Fatawa (XX/250-252) dengan sedikit gubahan.

Tag:, , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: