Gambaran-Gambaran Kemuliaan Akhlaq

Di antara akhlaq yang mulia adalah: menyambung tali silaturrahmi dari orang yang hendak memutuskannya, seperti para saudara kerabat yang wajib bagi anda untuk menyambung tali persaudaraan dengan mereka. Jika mereka berusaha memutuskannya, maka sambunglah kembali tali tersebut. Dan janganlah berkata: “siapa yang mau menyambungnya aku pun akan menyambungnya juga!”, karena hal ini bukanlah cara untuk menyambung hubungan tali persaudaraan, sebagaimana yang telah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan:

ليس الواصل بالمكافئ إنما الواصل من إذا قطعت رحمها وصلها

“Bukanlah orang yang menyambung tali persaudaraan itu karena mengharapkan balasan, akan tetapi orang yang menyambung tali persaudaraan adalah yang terus menyambungnya dikala orang-orang memutuskannya [1]”

Ada seorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai saudara kerabat, aku terus menyambung tali persaudaraan dengan mereka sedang mereka malah memutuskannya, aku pun selalu berbuat baik akan tetapi mereka berlaku buruk kepadaku, aku juga menyantuni mereka sedangkan mereka tidak peduli denganku. Lalu beliau bersabda:

إن كنت كما قلت فكأنما تسفهم الملَّ ولا يزال معك من الله ظهير
عليهم ما دمت على ذلك

“Jika dirimu memang benar demikian, sepertinya engkau telah memasukkan rasa jemu pada diri mereka, dan akan terus ada bagimu penolong dari Allah Subhanahu wa Ta’ala selama engkau terus berbuat demikian [2]”.

Arti dari  “engkau telah memasukkan rasa jemu pada diri mereka” yakni: engkau seperti meletakkan debu atau abu panas di mulut-mulut mereka. Seandainya saja usaha untuk terus menyambung tali persaudaraan dari orang yang berusaha untuk memutuskannya termasuk perilaku akhlaq yang mulia, maka begitu pula usaha untuk menyambung tali persaudaraan dari orang yang menyambungnya juga masuk ke dalam kategori perilaku tersebut. Dan seseorang yang mau menyambung tali persaudaraan denganmu dan dia adalah saudara kerabatmu, maka baginya dua hak; pertama: Hak sebagai kerabat, kedua:
Hak untuk mendapat balasan.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

من صنع إليكم معروفًا فكافئوه

“Barang siapa berbuat ma’ruf kepadamu, maka berilah ia balasannya [3]”.

Dan begitu pula, engkau harus memberikan haknya pada orang yang menahannya, yakni mencegahnya. Dan janganlah anda berkata: ia tidak memberiku maka aku juga tidak akan memberinya. Kemudian, hendaknya anda mau memaafkan orang yang mendzalimi anda, yakni orang yang meremehkan atau mengurangi hak anda, baik dengan memusuhi anda ataupun
dengan tidak menunaikan kewajibannya kepada anda.

Dan kedzaliman itu berkisar pada dua perkara: pertama: Melampaui batas, kedua: Pengingkaran. Entah ia berlebih-lebihan terhadap anda dengan memukul, mengambil harta, dan mengkoyak-koyak kehormatan anda. Ataupun ia menyangkal anda, sehingga mencegah diri anda dari mengambil hak anda. Sedangkan kesempurnaan seseorang hendaknya ia mau memaafkan orang yang menganiayanya. Akan tetapi sikap tersebut diambil ketika ia mempunyai kemampuan untuk membalas dendam. Maka, anda rela memberinya maaf meskipun mempunyai kemampuan untuk membalas dendam karena disebabkan oleh beberapa perkara:

Pertama: Mengharapkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kasih sayang-Nya. Karena orang yang mau memberi maaf dan berusaha untuk damai atau berbuat baik, maka pahalanya akan ditanggung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kedua: Demi memperbaiki rasa cinta dan kasih sayang yang telah terjalin di antara anda dan sahabat anda. Karena, jika sendainya anda membalas kejahatannya dengan yang semisalnya, tentu akan terus berlangsung permusuhan di antara kalian berdua. Akan tetapi, kalau anda membalas kejahatanya dengan berbuat baik kepadanya, niscaya ia akan kembali berbuat baik kepada anda, dan tentunya juga ia akan merasa malu kepada anda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيم

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”(QS. Fushshilat: 34)

Maka, sikap mau memberi maaf di saat kita mempunyai kemampuan untuk membalas dendam, hal ini termasuk akhak yang mulia. Akan tetapi dengan syarat harus terdapat kemashlahatan di dalamnya. Jika saja sikap tersebut masih menyebabkan perbuatan jahat dari orang yang dimaafkan, maka dianjurkan baginya untuk tidak memaafkannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan syaratnya, seraya berkata:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ

“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik.”(QS. asy-Syuura’: 40)

Yakni terdapat kemashlahatan di dalamnya. Adapun jika hal tersebut dapat menimbulkan kejahatan padanya atau malah menjadi sebab tindak kejahatan lainnya, maka dalam hal ini kita katakan kepadanya: jangan memberinya maaf! Sebagai contoh memberi maaf orang yang fasik, jika ia dimaafkan bisa saja hal ini malah menyebabkannya terus-menerus mengulangi perbuatan fasiknya tersebut. Maka, tidak memberinya maaf dalam kondisi seperti ini tentu lebih utama, atau bahkan bisa menjadi suatu kewajiban bagi kita.

Dan di antara akhlaq yang mulia adalah: Berbakti kepada kedua orang tua, ini karena besarnya hak yang ada pada keduanya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menetapkan suatu hak bagi seseorang, yang mana hak tersebut berada di bawah hak-Nya dan hak Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara langsung kecuali bagi kedua orang tua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak” (QS. an-Nisaa’: 36)

Dan hak Rasul tersebut terkandung dalam perintah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, tidak akan terwujud dengan benar suatu ibadah sampai seorang hamba mau menunaikan haknya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam; yaitu dengan mencintai dan mengikuti jalan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan hal ini termasuk firman Allah:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibubapak” (QS. an-Nisaa’: 36)

Maka, bagaimanakah seorang hamba bisa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau tidak dari petunjuk Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?!.

Jadi, seandainya saja ia menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ia telah menunaikan haknya. Adapun setelahnya adalah hak bagi kedua orang tua. Kedua orang tua telah lelah dalam mendidik anaknya, terutama sang ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. al-Ahqaaf: 15).

Dan dalam ayat yang lainnya Allah juga berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”(QS. Luqman: 14).

Maka, seorang ibu rumah tangga sangatlah merasa lelah ketika mengandung anaknya, ketika melahirkan, dan setelah melahirkan. Dan ia pun lebih sayang kepada buah hatinya dari pada sang ayah. Oleh karena itu, dia adalah figur yang paling berhak memperoleh perlakuan yang baik dan kebaktian dari anaknya dari pada sang ayah.

Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakuan yang baik dariku?, Nabi menjawab: “Ibumu”, ia bertanya lagi: Kemudian siapa?, Nabi menjawab: “Ibumu”, ia kembali bertanya: Kemudian siapa lagi?, Nabi pun kembali menjawab: “Ibumu”, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata pada keempat kalinya: “Kemudian ayahmu [4]”.

Dan seorang ayah juga tentu merasakan keletihan ketika mendidik anak-anaknya. Ia akan merasa jemu dikala anak-anaknya merasa jemu, dan ia pun akan merasa bahagia dikala mereka bahagia. Ia akan terus berusaha dengan segala macam cara untuk mendapatkan kesenangan, ketenangan dan kelayakan hidup bagi buah hatinya. Ia rela melintasi jalan-jalan setapak di pegunungan dan gurun-gurun yang tandus demi mendapatkan sesuap nasi untuk dirinya dan untuk anak-anaknya.

Jadi, masing-masing dari keduanya sama-sama mempunyai hak. Meskipun engkau berbuat apa saja untuk membayarnya, niscaya engkau tidak akan dapat memenuhinya. Untuk itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik Aku waktu kecil”.”(QS. al-Israa’: 24).

Maka, hak mereka telah berlalu, dimana mereka berdua telah mendidikmu sewaktu masih kecil, ketika engkau dahulu belum mampu untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat ataupun yang berbahaya. Maka, kewajiban bagi dirimu sekarang adalah berbakti kepada keduanya. Dan berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah fardu ‘ain bagi setiap individu dengan ijma’ atau kesepakatan para ulama. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih mendahulukannya dari berjihad di jalan Allah, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud: Ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Wahai Rasulullah! Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Nabi bersabda:” Shalat tepat pada waktunya “, aku bertanya lagi: Kemudian apa?, Nabi menjawab:” Berbakti kepada kedua orang tua “, aku bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Nabi menjawab:” Berjihad di jalan Allah [5]”.

Kedua orang tua tersebut adalah bapak dan ibu. Adapun kakek dan dan nenek, mereka berdua juga mempunyai hak, akan tetapi hak tersebut tidaklah sama dengan hak kedua orang tua. Karena kakek dan nenek tidak terlalu merasa kelelahan, tidak ikut serta dalam menjaga dan memperhatikan mereka secara langsung sebagaimana yang telah dialami oleh kedua orang tua. Maka, berbakti kepada kakek dan nenek hanyalah sebatas menyambung tali persaudaraan saja. Adapun berbakti yang sesungguhnya, maka hal tersebut hanyalah milik kedua orang tua saja.

Lalu : Apakah yang dimaksud dengan berbakti? Berbakti artinya: Menyambung kebaikan dan mencegah tindak kejahatan sesuai dengan kemampuan. Menyambung kebaikan kepada mereka dengan memberi harta, dengan membantu dan dengan membahagiakan keduanya; seperti bermanis muka, berbaik tutur kata dan berperilaku utama serta dengan segala sesuatu yang bisa menyenangkan keduannya. Oleh karena itu, perkataan yang paling kuat dalam hal ini adalah wajib bagi seorang anak untuk membantu kedua orang tua jika memang tidak berbahaya bagi anak tersebut. Akan tetapi jika hal tersebut bisa membahayakannya, maka tidak wajib baginya untuk membantu keduanya,Allahumma. Kecuali dalam keadaan yang sangat penting saja.

Untuk itu kita katakan: Sesungguhnya taat kepada kedua orang tua merupakan suatu kewajiban, selama hal tersebut bermanfaat bagi keduanya dan tidak menimbulkan hal-hal yang berbahaya bagi si anak. Adapun jika dapat membahayakannya, entah hal tersebut bisa membahayakan agamanya; seperti kedua orang tua menyuruhnya untuk meninggalkan kewajiban dan melaksanakan sesuatu yang diharamkan, maka dalam hal ini tidak ada kewajiban taat pada keduanya. Atau mungkin bisa membahayakan raganya, maka dalam hal ini juga tidak wajib baginya untuk taat kepada keduanya.

Adapun berbakti kepada keduanya dengan harta, maka wajib bagi seorang anak untuk berbakti kepada kedunya dengan memberi harta pada keduanya, meskipun dengan jumlah yang banyak jika memang tidak berbahaya bagi si anak dan bukan merupakan harta yang ia butuhkan. Dan khususnya bagi seorang ayah, dia berhak mempergunakan sebagian dari harta anaknya sekehendaknya selama hal tersebut tidak berbahya dan berlebih-lebihan.

Dan jika kita mengamati keadaan manusia pada masa sekarang ini, tentu kita akan mendapati kebanyakan dari mereka tidak mau berbakti kepada kedua orang tuanya, bahkan ia malah durhaka terhadap keduanya. Sedangkan dengan sahabat-sahabatnya sendiri dia mau berbuat baik. Dia tidak bosan duduk-duduk dengan mereka. Akan tetapi jika ia duduk bersama ayah atau ibunya sesaat saja pada siang hari, maka engkau akan mendapatinya merasa bosan, seolah-olah ia duduk di atas bara api. Maka, anak seperti itu tidaklah berbakti, akan tetapi
anak yang berbakti adalah yang merasa lapang dadanya ketika bersama ibu dan bapaknya, ia mau membantu keduanya di hadapan mereka berdua, ia akan bekerja dengan antusias sekuat kemampuannya, demi mendapatkan ridha dari kedua orangtuanya.

Sebagaimana kebanyakan orang berkata: “Berbakti adalah suatu hutang”. Sesungguhnya anak yang berbakti disamping ia akan mendapatkan pahala yang besar di akhirat kelak, maka ia juga akan menerima balasanya di kehidupan dunia ini. Maka, berbakti dan durhaka sebagaimana yang dikatakan orang-orang merupakan ” suatu hutang “, Silahkan berhutang, tapi lunasi, jika engkau mempersembahkan bagi keduanya kebaktian, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu. Akan tetapi, jika engkau durhaka kepada mereka berdua, pasti anak-anakmu pun akan durhaka juga kepadamu.

Dan sangatlah banyak cerita-cerita yang mengisahkan tentang seseorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, maka anak-anaknya pun berbakti juga kepadanya. Dan begitu pula cerita-cerita tentang seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, yang semuanya menunjukan bahwa jika seseorang durhaka kepada ayah atau ibunya, niscaya anak-anaknya pun akan durhaka juga kepadanya.

Dan di antara akhlaq yang mulia juga yaitu: Silaturrahmi atau menyambung tali persaudaraan.

Ada perbedaan antara kedua orang tua dan saudara kerabat lainnya dalam menjalin hubungan dengan mereka. Adapun saudara kerabat, maka hak bagi mereka adalah dengan menyambung tali persaudaraan. Adapun bagi kedua orang tua, maka hak wajib bagi keduanya adalah dengan berbakti kepada mereka berdua. Dan tentu saja perilaku berbakti lebih tinggi kedudukannya dari pada hanya sekedar menyambung tali persaudaraan. Karena berbakti merupakan limpahan kebaikan, sedangkan menyambung tali persaudaraan tujuannya agar tidak terputus tali tersebut. Untuk itu, orang yang tidak berbakti disebut sebagai: orang yang durhaka, sedangkan orang yang tidak menyambung tali persaudaraan disebut sebagai: seorang pemutus!.

Namun, menyambung tali persaudaraan juga wajib hukumnya, sedang memutuskannya merupakan sebab datangnya laknat dan terhalangnya seseorang untuk masuk surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ <> أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?Mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(QS. Muhammad: 22 & 23)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لا يدخل الجنة قاطع

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan [6]”.

Dan silaturrahmi datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dengan bentuk Muthlak.

Dan segala sesuatu yang belum dibatasi oleh syari’at ini, seperti masalah tempat tuk penyimpan harta, maka dengan ‘urf-lah dibatasi. Sesuai dengan ini, maka dalam masalah tersebut harus dikembalikan pada ‘urf-nya. Jadi, apa-apa yang dinamakan oleh masyarakat sekitar sebagai cara untuk menyambung tali persaudaraan, maka hal tersebut termasuk silaturrahmi. Dan apa saja yang mereka sebut dengan pemutus tali persaudaraan, maka hal ini disebut sebagai pemutus silaturrahmi. Dan hal ini tentu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan situasi, kondisi, waktu, tempat, dan perbedaan umat-umat.

::: Jika saja masyarakat dalam keadaan fakir atau kekurangan, sedang anda orang yang berada, dan saudara kerabat anda adalah orang yang fakir juga. Maka cara menyambung tali persaudaraan terhadap mereka ialah dengan memberi mereka bantuan sesuai dengan keadaan dan kemampuan anda.

::: Dan seandainya masyarakat tersebut dalam keadaan yang mapan, mereka semua pun dalam keadaan baik perekonomiannya. Maka dengan mengunjungi mereka pada pagi hari atau sorenya, hal tersebut juga termasuk cara untuk menyambung tali persaudaraan.

Di zaman kita sekarang ini, hubungan silaturrahmi antara sesama manusia sangatlah jarang diterapkan. Hal tersebut disebabkan oleh sibuknya mereka dengan pekerjaan dan kebutuhan mereka sendiri, dan juga oleh sebab kesibukan mereka satu sama lain. Sedangkan menyambung hubungan silaturrahmi yang sempurna, hendaknya anda mencari kabar tentang mereka, bagaimana keadaan anak-anak mereka, dan memperhatikan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh mereka. Akan tetapi sangat disayangkan sekali, tindakan dan perbuatan seperti ini sudah hilang entah kemana. Sebagaimana perilaku berbakti secara sempurna juga telah hilang dari kebanyakan manusia.

Sumber Bacaan:

Dari E-book berjudul Makarimul Akhlak, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah [Dialihbahasakan oleh : Abū Mūsâ al-Atsarî]

_____________

1. Dikeluarkan oleh Bukhari, No (5991) di Kitaabul Adab.

2 .Dikeluarkan oleh Imam Muslim, No (22) di Kitaabul Bir Wash Shilah.

3. Dikeluarkan oleh Abu Daud, No (1672) di Kitaabuz Zakat, dan No (5109) di Kitaabul Adab. Dan Nasa’i, No (2566) di Kitaabuz Zakat, bab (72). Dan hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’, No (6021).

4. Dikeluarkan oleh Bukhari, No (5971), di Kitaabul Adab, Muslim, No (1 & 2) di Kitaabul Bir Wash Shilah.

5. Dikeluarkan oleh Bukhari, No (527) di Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah, Muslim, No (139) di Kitaabul Iimaan.

6. Dikeluarkan oleh Bukhari, No (5983) di Kitaabul Adab, Muslim, No (19) di Kitaabul Bir Wash Shilah.

Tag:, , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: