[ Kewajiban Mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah: Bagian 2 ]

Berkata Penulis -hafidzahullah- :

Apabilla Anda telah mengetahui, jalan yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mengikuti wahyu, maka ketahuilah bahwa al-Qur’an menunjukkan: barangsiapa menaati beliau, berarti ia telah menaati Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ال

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (An-Nisa: 80)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu” (Ali Imron: 31)

Allah Subhaanahu wa Ta’ala tidak memberi  jaminan kepada seorang pun agar tidak tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, kecuali bagi orang yang mengikuti wahyu semata

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Ayat dalam surat Thaha ini menunjukkan bahwa seseorang tidak akan tersesat dan celaka, apabila mengikuti wahyu.

Sementara ayat dalam surat al-Baqarah menyebutkan, seorang yang mengikuti wahyu tidak akan pernah merasa takut dan sedih, yaitu dalam firman-Nya:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Al-Baqarah: 38)

Tidak diragukan lagi, penafian kesesatan, kesengsaraan, ketakutan, dan kesedihan dari orang yang mengikuti wahyu, seperti ditegaskan dalam al-Qur’an, tidak berlaku bagi orang yang bertaklid kepada seorang ulama yang tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan), yang tidak ia ketahui apakah orang yang diikutinya tersebut benar atau salah. Sementara, pada waktu yang sama, ia berpaling dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Apalagi jika ia menganggap, pendapat-pendapat seorang ulama yang diikutinya itu sudah memadai sehingga tidak butuh lagi keterangan dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan kewajiban mengikuti wahyu dan mengamalkannya, nyaris tak terhitung jumlahnya. Demikian juga hadits-hadits Nabi yang menunjukkan kewajiban mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hampir tak terhitung jumlahnya. Sebab menaati Rasul berarti menaati Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(Al-Hasyr: 7)

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Ali Imron:132)

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali Imron:32)

مَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,” (An-Nisa: 69)

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 71)

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa: 80)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (An-Nisa : 59)

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِي  13 وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِي 14

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa: 13-14)

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al-Maidah: 92)

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِي

“dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (al-Anfal: 1)

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (an-Nur: 54)

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (an-Nur:56)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 33)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 51 وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ 52

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (an-Nur: 51-52)

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (al-Ahzab: 21)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ال

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah” (at-Taubah: 71)

Tidak diragukan oleh seorang ulama pun bahwa menaati Allah dan Nabi-Nya yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas dan nash-nash wahyu lainnya, hanyalah beramal berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Semua nash al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan kewajiban untuk senantiasa merenungkan wahyu, memahaminya, mempelajari,vdan mengamalkannya.

Adapun mengkhususkan nash-nash tersebut seluruhnya, dengan dalih, mempelajari wahyu, memahami, dan mengamalkannya tidak sah dilakukan kecuali oleh para mujtahid saja yang telah memenuhin syarat-syarat ijtihad, seperti yang dikenal oleh para ulama ushul mutaakhirin, maka pengkhususan seperti ini memerlukan dalil khusus yang dapat dijadikan rujukan. Padahal tidak ada sama sekali dalil yang menunjukkan pengkhususan hal itu. Bahkan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan atas kewajiban mencermati wahyu, memahaminya, mempelajari, dan mengamalkan apa saja yang diketahuinya dari wahyu tersebut dengan ilmu yang benar,baik sedikit maupun banyak.

Demikian pula para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum, mereka  tidak mengesampingkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa Sallam karena pendapat seseorang, siapa pun pengucapnya. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma pernah berkata, “Hampir saja langit menghujani kalian dengan batu. Aku mengatakan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi kalian membantahnya dengan perkataan Abu Bakar dan Umar!”

Abu Bakar dan Umar, jika tidak memiliki ilmu dalam satu masalah, mereka bertanya kepada para  sahabat  lainnya tentang hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam. Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan sesuatu tentang nenek (berkenaan dengan jatah warisan).” Lalu dia bertanya kepada para sahabat. Setelah shalat Dzuhur, dia bertanya, “Siapakah di antara kalian yang pernah mendengar suatu fatwa dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang (jatah warisan) nenek?” Al-Mughirah bin Syu’bah menjawab, “Saya.” Abu Bakar kembali bertanya, “Apa yang beliau katakan?” Al-Mughirah menjawab, “Beliau memberikan jatah 1/6 untuk nenek.” Abu Bakar bertanya lagi, “Adakah orang selainmu yang mengatakan hal itu?” Muhammad biun Maslamah menjawab, “Benar apa yang dikatakan al-Mughirah.” Kemudian Abu Bakar memutuskan untuk memberikan bagian 1/6 kepada nenek.

Demikian juga kisah Umar Radhiyallahu ‘Anhu yang bertanya kepada para sahabat tentang masalah ghurrah (hamab sahaya laki-laki atau perempuan), kemudian beliau merujuk pada penuturan al-Mughirah. Umar juga pernah bertanya kepada para sahabat tentang masalah wabah penyakit sampar, dan dia merujuk pada penuturan Abdurrahman bin ‘Auf. Dan masih banyak kisah lainnya yang tercantum dalam kitab-kitab sunnah.

Sumber:

Shahih Fiqhis-Sunnah juz 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid, terbitan Maktabah at-fiqiyyah hal. 32-35 dan pada terjemahan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 41-45

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: