Kondisi Masyarakat pada Abad Pertama dan Kedua

Kondisi Masyarakat pada Abad Pertama dan Kedua

Ketahuilah bahwa masyarakat yang hidup pada abad pertama dan kedua tidak bertaklid kepada satu  madzhab tertentu. Abu Thalib al-Makki, dalam Qut al-Qulub, berkata, “Buku-buku dan kumpulan-kumpulan adalah perkara baru. Sedangkan berpendapat dengan pendapat-pendapat manusia, berfatwa berdasarkan madzhab seseorang, berpegang dengan pendapatnya, menukil segala sesuatu darinya, dan mendalami ilmu fiqih berdasarkan madzhabnya saja, belum pernah terjadi  pada masyarakat yang hidup pada abad pertama dan kedua.”

Ibnu Hammam, dalam at-Tahrir, berkata, “Mereka meminta fatwa kepada seseorang, sekali waktu, dan pada waktu yang lain, mereka meminta fatwa pada selainnya, tanpa berkomitmen dengan satu fatwa saja.”

Adapun para ulama, pada saat itu, ada dua tingkatan

Pertama, ulama yang benar-benar meneliti dan memperhatikan al-Qur’an, as-Sunnah, dan atsar, sehingga mereka memiliki kemampuan untuk memberikan fatwa kepada masyarakat dan memberikan jawaban atas berbagai peristiwa yang terjadi. Di mana mereka lebih banyak memberikan jawaban daripada mendiamkannya, dan golongan ini dinamakan mujtahid.

Kedua, ulama yang memperoleh pengetahuan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah yang memungkinkan mereka mengetahui prinsip-prinsip fiqih dan pokok-pokok permasalahannya dengan dalil-dalilnya secara terperinci. Mereka memiliki pandangan secara umum tentang permasalahan lainnya dari dalil-dalilnya, dan mendiamkan yang lainnya. Berkenaan dengan hal itu, mereka berkonsultasi dengan para ulama, karena mereka tidak memiliki perlengkapan yang sempurna sebagaimana yang dimiliki mujtahid mutlak. Jadi, mereka adalah mujtahid di suatu persoalan, tapi bukan mujtahid di persoalan lainnya. Diriwayatkan secara mutawatir dari sahabat dan tabi’in, jika mereka mendengar sebuah hadits, mereka langsung mengamalkannya tanpa memperhatikan syarat apa pun.

Munculnya Sikap Bermadzhab pada Para Mujtahid Setelah Abad Kedua

Setelah abad kedua, muncullah di tengah-tengah mereka sikap bermadzhab pada mujtahid tertentu, dan jarang sekali ada orang yang tidak berpegang pada madzhab  mujtahid tertentu. Sehingga orang yang mendalami ilmu fiqih tidak terlepas dari dua keadaan:

Pertama, kemauannya yang terbesar ialah mengetahui berbagai persoalan yang pernah dijawab oleh para  mujtahid sebelumnya, yaitu dalil-dalil terperinci , menelitinya kembali, memperbaiki, dan mentarjih dalil yang satu atas dalil yang lainnya. Ia berkeharusan untuk membetulkan sedikit dari pendapat-pendapat yang pernah dikemukakan imamnya, dan memberikan sedikit koreksian. Jika koreksi yang dilakukannya lebih sedikit dibandingan pendapatnya yang sejalan (dengan pendapat imam madzhab), maka ia dikategorikan sebagai “Ashab al-Wujuh” dalam madzhab tersebut. Sebaliknya, apabila koreksi yang dilakukannya lebih banyak dibandingkan pendapatnya yang sejalan (dengan pendapat imam madzhab), maka penyendiriannya itu tidak dikategorikan sebagai “satu aspek” (wajh) dalam madzhab tersebut. Meski demikian,  ia masih bernisbat kepada pendiri madzhab secara umum,  berbeda dengan orang yang lebih terpengaruh oleh imam lain dalam masalah ushul dan furu’. Dari kondisi seperti ini, sebagian mujtahid memberikan jawaban atas suatu masalah yang belum pernah ada sebelumnya. Sebab, kasus demi kasus muncul silih berganti, dan pintu ijtihad masih terbuka lebar. Mereka mengambil jawabannya dari al-Qur’an, as-Sunnah dan atsar para salaf, tanpa harus bersandar pada imam madzhabnya. Tetapi itu hanya sedikit, bila dibandingkan dengan persoalan-persoalan yang sudah dijawab sebelumnya. Orang seperti inilah yang disebut sebagai al-Mujtahid al-Mutlak al-Muntasib (mujtahid mutlak tepi masih berbisbat kepada madzhabnya).

Kedua, atau kemauannya yang terbesar ialah mengetahui permasalahan yang ditanyakan kepadanya oleh orang-orang yang meminta fatwa kepadanya dari hal-hal yang belum pernah dibicarakan oleh mufti sebelumnya. Orang seperti ini lebih membutuhkan imam yang dianutnya dalam ushul yang membuka jalan dalam semua permasalahan, dibandingkan kebutuhan tipe orang pertama. Sebab masalah fiqih adalah masalah yang cukup ruwet dan rumit, furu’nya berkaitan erat dengan induknya. Jika ia memulai dengan cara meneliti madzha b-madzhab para imam dan memilah-milah pendapat mereka, dapat dipastikan ia tidak akan mampu melakukannya, dan penelitian ini tidak akan selesai sepanjang usianya. Tidak ada jalan lain, kecuali ia harus melihat kembali kaidah yang lalu dan beralih dari pembahasan-pembahasan furu’. Terkadang tipe orang seperti ini memberikan sejumlah koreksi terhadap pendapat imamnya, dengan al-Qur’an, as-Sunnah, atsar para salaf, dan qiyas. Tetapi ia hanya sedikit, jika dibandingkan dengan madzhab imam yang disetujuinya. Orang seperti ini disebut al-Mujtahid fi al-Madzhab (mujtahid dalam madzhab).

Sumber:

Shahih Fiqhis-Sunnah juz 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid, pada terjemahan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 33-35 ]

Tag:, , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: