Apa yang Terjadi pada Masyarakat Setelah Abad Keempat [?]

Setelah abad ini, kondisi masyarakat menjadi tidak menentu, dan muncul beberapa perkara di kalangan mereka, di antaranya:

Pertama, perdebatan yang sengit dalam ilmu fiqih dan perinciannya, sebagaimana dijelaskan oleh al-Ghazali, “Setelah zaman Khulafa ar-Rasyidin al-Mahdiyin, kekhalifahan diambil alih oleh orang yang sebenarnya tidak berhak memegangnyadan tidak memiliki keilmuan yang mapan untuk memberikan fatwa dan hukum. Sehingga, dalam keadaan bagaimana pun, mereka terpaksa membutuhkan para fuqaha yang senantiasa mendampingi mereka. Pada saat itu masih ada para ulama yang tetap teguh seperti generasi awal, dan tetap istiqamah dalam menjalankan agamanya. Tetapi mereka selalu menghindar dan berpaling setiap kali diminta untuk menjadi pendamping. Sehingga orang-orang pada masa itu memandang orang-orang yang bukan ulama, sementara para imam menghadap mereka dengan disertai penolakan. Mereka (para imam ini) melarang mencari ilmu sebagai batu loncatan untuk mendapatkan kedudukan dan kehormatan.”

Orang-orang sebelum mereka telah menulis berbagai buku tentang ilmu kalam yang kebanyakan isinya adalah “konon katanya”, pemaparan dan jawaban, membuka jalan perdebatan, dan akhirnya terjadilah apa yang terjadi.

Kedua, mereka merasa tenang dengan sikap taklid yang  mereka lakukan, sehingga tanpa disadari, sedikit demi sedikit meresap di dalam hati mereka. Inilah faktor timbulnya perdebatan sengit di kalangan para ulama fiqih. Setiap fatwa yang muncul, maka muncul pula fatwa yang membatalkan fatwa tersebut. Perdebatan tidak akan pernah berhenti hingga adanya pendapat yang jelas dari salah seorang salaf tentang masalah yang diperdebatkan. Demikian juga, ketika banyak para qadhi yang tidak dapat memegang amanah, maka fatwa mereka tidak akan diterima, terkecuali jika masyarakat tidak ragu akan kebenarannya karena pernah dijawab oleh orang-orang sebelumnya.

Mereka telah meringkas ucapan-ucapan para imam mereka berkenaan dengan seruan untuk menepis sikap taklid dan mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Tapi mereka menakwilkan perselisihan, dan tetap bersikukuh mengikuti pilihan para imam mereka. Muncullah, setelah itu, generasi-generasi yang bertaklid buta yang tidak mampu membedakan antara yang haq dan batil, antara debat dan istinbath. Pada gilirannya, tersebarlah di tengah-tengah mereka sikap fanatik kepada madzhab-madzhab yang merupakan faktor pemicu tercerai-berainya persartuan Islam. Suatu kelompok mengklaim kelompok lainnya sebagai sesat, hingga sebagian  dari mereka berpandangan bahwa keluarnya seseorang dari madzhab yang dianutnya –walaupun dalam satu masalah- seperti keluar dari agama. Seolah-olah orang yang dianutnya itu adalah seorang nabi yang diutus kepadanya, dan wajib ditaati. Pernah muncul suatu fatwa tentang ketidakbolehan orang yang bermadzhab Hanafi shalat di belakang seorang imam yang bermadzhab Syafi’i. Sementara sebagian lainnya lagi membolehkan laki-laki bermadzhab Hanafi menikah dengan perempuan bermadzhab Syafi’i karena diqiyaskan pada hukum menikahi wanita Ahli Kitab.

Dari bid’ah-bid’ah ini, muncullah empat “maqamat” (majelis) di Masjidil Haram.[i] Masing-masing orang yang bermadzhab  membela jama’ah madzhabnya sendiri. Ternyata dengan bid’ah-bid’ah seperti ini, iblis mencapai salah satu targetnya, yaitu mencerai-beraikan kaum Muslimin dan memecah persatuan mereka. Na’udzubillahi min dzalik.

Fitnah yang lebih besar muncul pada generasi selanjutnya. Sikap taklid semakin mendarah daging pada setiap penganutnya. Sehingga dengan alasan taklid tersebut, mereka merasa tidak perlu memperdalam urusan agama, sembari mengucapkan:

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّهْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesugguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Az-Zukhruf: 23)

Hanya kepada Allahlah tempat mengadu, dan Dialah yang dimohon pertolongan-Nya. Kepada-Nya kita menaruh kepercayaan, dan kepada-Nya kita bertawakal.

Meski demikian, Allah Subhaanahu wa Ta’ala tetap memiliki sekelompok hamba-Nya yang tidak mempedulikan siapa pun yang menghinakannya. Mereka adalah hujjah Allah di atas bumi-Nya, meski mereka minoritas. Kita memohon kepada Allah, semoga kita termasuk dalam golongan tersebut.

Sumber:

Shahih Fiqhis-Sunnah juz 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid, pada terjemahan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat, hal. 35-37


[i] Ini disebutkan oleh al-Matsumi dalam Hadiyyah as-Sulthan (hal. 48)

Tag:, , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

One response to “Apa yang Terjadi pada Masyarakat Setelah Abad Keempat [?]”

  1. dananghartanto says :

    Seperti mengadzani mayat diliang lahat ya akhi .
    Tar kalau mayatnya ikut solat gimana????

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: