Obyek-Obyek Akhlaq Mulia (2)

[ Sambungan dari tulisan pertama ]

2. Bersopan santun dalam bermualamah dengan sesama makhluk.

Adapun berperilaku sopan dengan sesama makhluk, maka telah diartikan oleh sebagian ulama dengan definisi: Menahan gangguan, mengerahkan bantuan dan menampakkan keceriaan. Ada yang menyandarkan bahwa ini adalah perkataan al-Hasan al-Bashri 1.

1. Makna menahan gangguan.

Artinya adalah hendaknya seseorang menahan dirinya dari menyakiti yang lainnya, baik itu dengan harta atau dengan sesuatu yang berkaitan dengan jiwa, atau mungkin juga yang
berhubungan dengan kehormatan dirinya. Untuk itu, orang yang belum mampu menahan dirinya dari menyakiti sesama, maka dia belumlah berperilaku baik, akan tetapi sebaliknya dia adalah orang yang berperilaku buruk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberitakan tentang haramnya menyakiti seorang muslim dengan segala macam caranya. Pemberitahuan tersebut telah terjadi di suatu tempat yang paling agung, ketika umatnya berkumpul di sana, beliau bersabda

إن دماءكم، وأموالكم، وأعراضكم عليكم حرام، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا ، في بلدكم هذا

“Sesungguhnya darah-darah, harta-harta, dan kehormata-nkehormantan kalian adalah haram bagi sesama kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian
ini 2“.

Jika ada orang berbuat aniaya terhadap orang lain dengan mengambil hartanya, atau dengan menipunya, atau menghianatinya, atau memukulnya dan melakukan tindakan kriminal terhadapnya, mencelanya, menggunjingnya, atau mengadu domba dengan yang lainnya, tentu saja dia belum berakhlaq baik dengan sesama. Karena dia belum mampu menahan dirinya dari menyakiti yang lainnya. Dan akan semakin besar dosa perbuatan itu jika perlakuan tidak baik tersebut tertuju kepada orang yang memiliki hak yang lebih besar terhadap anda. Seperti perlakuan yang tidak baik terhadap kedua orang tua contohnya, tentu ini lebih besar dosanya dari pada perlakuan yang tidak baik terhadap selain keduanya. Dan berbuat tidak baik terhadap kerabat dekat tentu lebih besar dosanya dari pada berbuat tidak baik dengan selainnya. Dan berbuat tidak baik dengan para tetangga tentu lebih besar dosanya dari pada berbuat tidak baik dengan selain mereka.

Untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن

“Demi Allah dia belum beriman, demi Allah dia belum beriman, demi Allah dia belum beriman”,
Para sahabat bertanya: Siapakah yang belum beriman wahai Rasulullah?, beliau menjawab:

من لا يأمن جاره بوائقه

“Yang tidak merasa aman tetangganya dari gangguannya 3“.

2. Makna mengerahkan bantuan.

Yang dimaksud dengan bantuan di sini adalah kedermawanan dan kemurahan hati, artinya hendaklah engkau selalu mengerahkan sifat kedermawanan diri dan kemurahan hati. Dan arti
kedermawanan di sini bukanlah seperti yang disangka-sangka oleh sebagian orang, yaitu hanya memberikan harta saja. Akan tetapi arti sesungguhnya adalah rela memberikan jiwa,
kedudukan, harta dan ilmu pengetahuan.

Seandainya kita melihat ada seseorang membantu menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan orang lain, menolong mereka, mengurusi permasalahan-permasalahan mereka untuk
bisa sampai kepada orang-orang yang mereka tidak bisa sampai kepada orang-orang tersebut, menyebarkan ilmunya kepada manusia, dan memberikan hartanya kepada mereka, apakah kita mensifati orang tersebut bahwa dia adalah orang yang mempunyai adab yang baik? Tentu saja kita mensifatinya dengan figur yang mempunyai perilaku yang baik, karena dia
telah mengerahkan sifat kedermawanannya.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan ikutkanlah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik niscaya perbuatan yang baik tersebut akan menghapusnya, dan
pergaulilah manusia dengan akhlaq yang mulia 4“.

Dan di antara contoh adab pergaulan yang baik dengan sesama manusia adalah; seandainya anda dianiaya atau dipergauli dengan perlakuan yang tidak baik, maka anda mau memaafkan
dan mengampuninya (jika nantinya ia meminta maaf dan mengakui kesalahannya). Karena Allah Subhanahu wa Ta’alatelah memuji orang-orang yang bersifat pemaaf terhadap sesama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang penghuni surga:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.”(QS. Ali Imran: 134)

Dan Allah juga berfirman:

وَأَن تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan Pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Baqarah: 237)

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُو

“Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada.” (QS. an-Nur: 22)

Allah berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syuura’: 40)

Setiap orang pasti perlu berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Dan Tentu saja dia akan menerima dari mereka perlakuan yang tidak baik. Maka itu, sikap terbaik baginya terhadap perlakuan tersebut ialah hendaknya ia mau memaafkan dan mengampuninya. Dan hendaknya ia mengetahui dengan yakin bahwa sikapnya yang mau memberi maaf dan membalas perbuatan yang tidak baik tersebut dengan kebaikan, kelak permusuhan yang terjadi antara dia dengan saudaranya akan berubah menjadi sebuah persaudaraan, rasa cinta dan persahabatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolaholah telah menjadi teman yang sangat setia.”(QS. Fushshilat: 34)

Dan perhatikanlah wahai hamba yang faham dengan bahasa arab! Bagaimanakah hasil dari ucapan yang diungkapkan dengan menggunakan “ idza al-fuja iyyati ” karena ” idza al-fuja iyyati” menunjukkan suatu hasil yang terjadinya secara tiba-tiba,

فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

”Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)

Akan tetapi, tidak semua orang mendapatkan taufik untuk dapat menerimanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”(QS. Fushshilat: 35)

Dari ini semua, apakah kita memahami bahwa memberi maaf seseorang yang bersalah merupakan perbuatan terpuji secara mutlak dan perkara yang diperintahkan? Bisa saja sebagian orang memahami hal ini berdasarkan ayat di atas. Akan tetapi yang perlu diketahui bahwa memberi maaf akan lebih terpuji jika situasi dan kondisinya memang mendukung. Dan jika dalam suatu keadaan dengan membalas dendam lebih terpuji, maka tentu ini lebih utama.

Untuk itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”(QS. asy-Syuura’: 40)

Sikap memberi maaf terkadang tidak bisa menyelesaikan permasalahan atau tidak dapat mendamaikan. Karena bisa saja yang berbuat kesalahan dan lancang terhadap anda adalah
orang jahat yang memang suadah terkenal dengan kejelekan dan suka membuat kerusakan. Seandainya anda memaafkannya, dia akan terus-menerus berbuat kejahatan dan membuat kerusakan. Maka, yang lebih utama pada kondisi seperti ini adalah hendaknya anda membalas orang tersebut karena kelancangannya terhadap anda, karena hal tersebut merupakan perbuatan yang dapat mendamaikan.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

الإصلاح واجب، والعفو مندوب، فإذا كان في العفو فوات الإصلاح فمعنى ذلك أننا قدمنا مندوبًا على واجب، وهذا لا تأتي به الشريعة

“Berbuat baik merupakan suatu kewajiban, sedangkan memberi maaf merupakan perkara yang dianjurkan. Jika saja dalam memberi maaf tidak bisa mendamaikan, maka makna dari hal tersebut bahwa kita telah mendahulukan perkara yang dianjurkan dari pada yang diwajibkan, dan perkara tersebut tidaklah dibawa oleh syari’at ini”. Sungguhlah benar ucapan beliau.

Peringatan penting

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengingatkan sebuah permasalahan yang masih banyak dilakukan oleh sebagian besar manusia dengan tujuan untuk berbuat kebaikan. Masalah
tersebut adalah: suatu musibah yang terjadi pada seseorang dan menyebabkan terjadinya kematian bagi orang lain. Kemudian datanglah keluarga dari orang yang meninggal tersebut lalu menggugurkan bayaran dendanya dari si pelaku. Pertanyaannya, apakah sikap yang mereka ambil dengan menggugurkan denda tersebut merupakan perbuatan terpuji
dan termasuk perilaku yang baik? Ataukah dalam masalah ini perlu diperinci lagi ?

Jawabnya: Permasalahan tersebut perlu dirinci lagi. Kita harus mengamati dan memperhatikan keadaan pelaku yang telah terjadi musibah tersebut pada dirinya. Apakah dia termasuk orang yang terkenal suka mengacaukan suasana dan tidak punya rasa kepedulian? Apakah dia termasuk tipe orang yang berkata: Saya tidak peduli meskipun mencelakai seseorang karena bayaran dendanya sudah tersedia di dalam laci! – kita berlindung kepada Allah dari perkataan seperti ini -. Ataukah dia orang yang telah tertimpa musibah tersebut pada
dirinya, namun ia mampu menjaga kesempurnaan akal dan keseimbangan diri, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan pada tiap-tiap sesuatu kadar tertentu?.

Jika dia termasuk tipe orang yang terakhir, memaafkannya tentu lebih utama. Akan tetapi meskipun dia termasuk tipe orang yang berakal dan seimbang, sebelum kita memberi maaf
kepadanya wajib kita perhatikan: apakah si mayit mempunyai tanggungan hutang? Seandainya ia memilikinya, maka kita tidak mungkin memaafkannya begitu saja. Dan seandainya kita
memberi maaf, maka kata maaf dari kita tidak akan dianggap atau tidak sah. Inilah permasalahan yang kadang kala terlalaikan oleh kebanyakan orang. Dan kita sengaja mengungkapkan hal ini karena para ahli waris mempunyai wewenang untuk mengambil haknya, yaitu berupa bayaran denda akibat musibah yang telah menimpa si mayit. Dan hak
mereka tidak dapat ditolak kecuali setelah melunasi hutangnya jika memang si mayit dahulunya mempunyai hutang.

Oleh karena itu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang harta warisan Dia berfirman:

مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ

“(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.” (QS. an-Nisaa’: 11)

Kesimpulannya, termasuk dari akhlaq yang mulia: mau memaafkan antar sesama manusia, dan hal ini masuk dalam kategori mengerahkan bantuan atau kedermawanan. Karena
perilaku yang dermawan bisa dengan memberi, bisa juga dengan menggugurkan beban. Sedangkan memaafkan termasuk menggugurkan beban.

3. Makna menampakkan keceriaan.

Keceriaan wajah atau bermanis muka artinya berseri-serinya wajah ketika bertemu dengan yang lainnya, dan kebalikannya adalah bermuka masam. Untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam bersabda:

لا تحقرن من المعروف شيئًا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق

“Janganlah engkau meremehkan perbuatan yang ma’ruf sedikitpun, meskipun hanya dengan wajah yang ceria ketika bertemu dengan saudaramu 5“.

Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma bahwa dia pernah ditanya tentang arti berbakti lalu beliau menjawab:

وجه طلق ولسان ليّن

“Ceria pada wajah dan lembut dengan lidah”.

Para penyair pun telah menyusun syair tentangnya:

بني إن البر شيء هين *** وجه طليق ولسان لين

Duhai buah hatiku, berbakti itu perkara ringan
Wajah penuh keceriaan dan lembut pada lisan

Karena wajah yang ceria dapat membuat orang lain merasa gembira, bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan rasa cinta, dan juga dapat memberikan kelapangan dada pada diri anda
dan diri orang yang bertatap muka dengan anda. Akan tetapi sebaliknya, jika anda bermuka masam tentu mereka akan lari menjauh dari diri anda, mereka tidak akan merasa lapang jika duduk-duduk bersama anda atau ketika berdialog dengan anda. Dan mungkin saja anda bisa dihinggapi oleh problema-problema kejiwaan, atau barang kali anda akan terserang penyakit yang berbahaya yaitu tekanan jiwa. Maka, kelapangan dada dan bermanis muka termasuk ramuan yang paling berkhasiat untuk menerapi penyakit ini.

Oleh karena itu, para dokter menasehati orang yang terserang penyakit seperti ini agar ia menjauhi hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini dan yang bisa membuatnya emosi. Karena hal tersebut bisa memperparah penyakitnya. Maka, kelapangan dada dan bermanis muka dapat mengatasinya. Dan dengannya juga seseorang akan dicintai oleh
rekan-rekannya, mulia di hadapan mereka.

Inilah tiga dasar tempat berputarnya perilaku yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Dan di antara tanda-tanda perlakuan yang baik terhadap sesama adalah: hendaknya seseorang berbuat baik dalam bergaul dengan teman-teman dan para kerabatnya. Tidak merasa resah dengan kehadiran mereka dan tidak pula meresahkan mereka. Akan tetapi, ia berusaha membuat mereka senang sesuai kemampuannya dalam batasan-batasan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan harus dengan kata pengikat “dalam batasan-batasan syari’at Allah”. Karena di antara manusia ada yang tidak merasa senang kecuali dengan perkara yang mengandung maksiat kepada Allah –kita berlindung kepada Allah dari hal demikian-, maka hal ini tidak pantas untuk kita setujui. Akan tetapi, perlakuan yang baik terhadap orang yang bergaul dengan anda seperti teman-teman dan para kerabat adalah berusaha menyenangkan mereka
dalam batasan-batasan syari’at.

Untuk itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

خيركم لأهله , وأنا خيركم لأهلي

“Sebaik-baik kalian adalah yang berperilaku baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku 6“.

Kebanyakan manusia – sangat disayangkan sekali – terkadang berbuat baik terhadap orang lain, akan tetapi ia tidak berbuat demikian terhadap keluarganya. Ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan pemutarbalikan dari hakekat anjuran yang sebenarnya. Karena, bagaimana mungkin anda berbuat baik dengan orang yang jauh hubungan kerabatnya dengan anda, sedangkan dengan kerabat sendiri anda berperilaku tidak baik?

Terkadang seseorang menjawab: Karena kerabat dekat telah aku cukupi kebutuhan mereka 7.
Maka kita jawab: Ini bukanlah suatu alasan yang dapat mendorongmu untuk berperilaku buruk kepada mereka, karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dari anda dalam persahabatan dan pergaulan.

Untuk itu seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan yang baik dariku?, beliau menjawab: “Ibumu”, ia berkata: Kemudian siapa?, beliau menjawab: “Ibumu”, ia berkata lagi: Kemudian siapa lagi?, beliau menjawab: “Ibumu”, ia berkata lagi: Kemudian siapa lagi?, beliau menjawab: “Kemudian ayahmu 8“.

Dan terkadang juga masalah ini menjadi terbalik pada sebagian orang, kita mendapatinya tidak menggauli ibunya dengan adab yang baik, sedang dengan istrinya ia berlaku baik. Ia lebih
mengutamakan pergaulan baiknya dengan istrinya, yang mana kedudukannya pada hakekatnya adalah seperti seorang tawanan di sisi suaminya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

استوصوا بالنساء خيراً، فإنهن عوان عندكم

“Seringlah berwasiat baik yang baik terhadap kaum wanita, karena mereka adalah sebagai pembantu bagi kalian 9

Maksudnya, kedudukan mereka seperti layaknya para tawanan. Kesimpulannya, berlaku dan beradab baik dengan keluarga, sahabat dan para kerabat, semua ini adalah termasuk dari
akhlaq yang mulia.

Sumber Bacaan:

Dari E-book berjudul Makarimul Akhlak, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah [Dialihbahasakan oleh : Abū Mūsâ al-Atsarî]

_____________

1. Lihat kitab al-Adabusy Syar’iyyah (2 / 216). Selain dari itu ada juga beberapa pengertian dari Akhlak yang baik, di antaranya: menurut al-Wasithi: yaitu hendaknya ia tidak mau bermusuhan dan tidak pula mau dimusuhi oleh karena pengetahuannya yang dalam tentang Allah. Makna yang lain: menjauhkan diri dari perbuatan hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat utama. Arti yang lainnya: mengerahkan hal yang bagus dan menahan hal yang jelek. Sahl ditanya tentang hal itu kemudian ia menjawab: hal yang paling ringan darinya adalah kuat menanggung beban diri, tidak mau menerima upah, merasa belas kasihan terhadap orang yang didzalimi, memohonkan ampunan baginya, dan mau menolongnya dengan memberikan syafa’at padanya. Rujuklah kitab: Madaarijus Saalikiin karya Ibnul Qayyim (2 / 294), kitab Al-Ihyaa’ (3 / 53), dan kitab Al-Adabusy Syar’iyyah (2 /216).

2. Dikeluarkan oleh Bukhari, No (67) di Kitaabul ‘Ilmi dan No (1741) di Kitaabul Hajj juga No (4406) di Kitaabul Maghaazii. Dan dikeluarkan juga oleh Muslim, No (29 & 30) di Kitaabul Qiyaamah.

3. Dikeluarkan oleh Bukhari, No (67) di Kitaabul Adab dan ini merupakan lafadz Beliau. Dan dikeluarkan oleh Imam Muslim seperti rawayat tersebut, No (73) di Kitaabul Iimaan dengab lafadz:” Tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya “. Imam Nawawi berkata: Al-Bawaa-iq bentuk jamak dari Baaiqoh artinya hal yang berlebihan, bencana, atau serangan. Lihat kitab Shahih Muslim syarah oleh Imam Nawawi (2 / 207).

4. Dikeluarkan oleh Tirmidzi, No (1987) di Kitaabul bir Wash Shilah. Ia berkata: hadits hasan shahih. Ahmad di kitab Al-Musnad (4 / 153, 158, 236) dari hadits Abu Dzar dan Mu’ad bin Jabal – semoga Allah meridhai keduanya -. Dan hadits tersebut ada dalam kitab Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir, No (97).

5. Dikeluarkan oleh Imam Muslim, No (144) di Kitaabul Bir Wash Shilah, Tirmidzi, No (1833) di Kitaabul ath’imah dengan riwayat yang panjang.

6. Dikeluarkan oleh Tirmidzi, No (3895) di Kitaabul Manaaqib, Ibnu Hibban di kitab
Shahihnya Mawaarid, No (1312) dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Dan hadits ini ada dalam kitab Shahiihul Jaami’, No (3314). Dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah, No (1977) di Kitaabun Nikaah, dari hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu.

7. Maksudnya: aku telah memberi mereka kecukupan nafkah dan hal yang lainnya.

8. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (5971) di Kitaabul Adab, Muslim, No (1 & 2) di Kitaabul Bir Wash Shilah, dan Ibnu Majah, No (2706) di kitaabul Washaayaa.

Tag:, , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: