Obyek-Obyek Akhlaq Mulia

Banyak manusia yang memahami bahwa akhlaq mulia merupakan hak khusus yang hanya diterapkan dalam bermuamalah atau berinteraksi dengan sesama mahkluk saja, dan tidak diterapkan ketika bermuamalah dengan Khaliq (Allah yang Maha Pencipta). Tentu saja pemahaman seperti ini kurang sempurna, karena sesungguhnya akhlaq yang mulia sebagaimana harus diterapkan pada sesama, tentu saja wajib diterapkan juga pada Allah Sang Pencipta. Jadi, obyek penerapan akhlaq yang mulia adalah dalam bermuamalah dengan Khaliq dan juga dalam bermuamalah dengan sesama makhluk. Dan masalah ini harus diwaspadai oleh kita semua

1. Berakhlaq mulia dalam bermuamalah dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Berakhlaq mulia dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup tiga perkara:
1. Mengambil kabar-kabar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara membenarkannya.
2. Mengambil hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara melaksanakan dan menerapkannya.
3. Menerima takdir baik dan buruk-Nya dengan penuh sabar dan ridha.

Di atas tiga perkara inilah poros berputarnya sikap akhlaq yang
baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Pertama: Mengambil kabar-kabar dari Allah dengan membenarkannya: Dimana tidak terbesit pada diri seseorang keraguan dan kebimbangan dalam membenarkan kabar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena kabar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala datang dengan ilmu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah Dzat yang paling benar perkataan-Nya. Sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan tentang diri-Nya:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?” (QS. an-Nisaa’: 87).

Dan konsekuensi dari membenarkan kabar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut adalah mempercayai kabar tersebut, membelanya, dan berjuang di jalannya. Yang mana tidak akan mungkin masuk ke dalam kabar-kabar Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kabar-kabar Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
suatu keraguan dan kerancuan apapun juga. Seandainya seorang hamba menghiasi dirinya dengan akhlaq ini, akan sangat memungkinkan baginya untuk menolak kerancuan apapun yang akan disisipkan oleh orang-orang yang mempunyai misi tertentu ke dalam kabar-kabar Allah, baik dari golongan kaum muslimin yang telah berbuat bid’ah dalam agama Allah dengan sesuatu yang bukan dari Islam, maupun dari golongan orang-orang non muslim yang dengan lancang melontarkan kerancuan-kerancuan tersebut ke dalam hati kaum
muslimin dengan tujuan memfitnah dan menyesatkan mereka.

¤ Akan kami berikan anda contohnya, (Hadits Lalat):
Telah tsabit (tetap) dalam shahih Bukhari hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إذا ولغ الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم ليطرحه فإن في أحد جناحيه داء
وفي الآخر الدواء

”Jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang dari kalian, maka hendaklah ia mencelupkannya (ke dalam air minumannya) kemudian mengangkatnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat racun dan pada yang lainnya terdapat penawarnya”.1

Kabar tersebut telah datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam perkara-perkara yang ghaib tidak mungkin berbicara dengan hawa nafsunya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak berbicara melainkan dengan apa-apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan kepadanya. Karena beliau juga adalah seorang manusia, sedangkan manusia tentu tidak mengetahui perkara yang ghaib. Bahkan Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah berkata padanya:

قُل لَّا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti
kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”” (QS. al-An’aam: 50)

Kabar tersebut wajib kita terima dengan perlakuan yang istimewa. Dan cara berakhlaq mulia terhadap kabar seperti ini bisa ditempuh dengan menerima dan tunduk terhadapnya. Maka, kita pastikan dengan tegas, bahwa apa yang telah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam katakan dalam hadits ini adalah haq dan benar, meskipun ada orang yang menolaknya ataupun mengkritisinya. Juga kita mengetahui dengan yakin, bahwa setiap perkara yang menyelisihi apa-apa yang telah sah datangnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka hal tersebut adalah batil. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

“Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus: 32)

¤ Contoh lain, (Kabar Tentang Hari Kiamat):
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberitakan: ”Bahwa matahari akan berada dekat dengan seluruh makhluk pada hari kiamat dengan jarak satu mil”.2 Entah arti dari mil tersebut milul makhalah (yakni alat celak mata, maksudnya sejarak alat untuk celak mata, wallahu ‘alam -pent) atau milul masaafah (jarak satu mil), maka sesungguhnya jarak antara matahari dan kepala manusia sangatlah dekat.

Meskipun seperti itu, manusia tidak akan terbakar dengan lautan api matahari tersebut. Adapun di dunia sekarang ini, seandainya saja matahari dekat dengan bumi sejarak satu ruas jari, pasti akan terbakar bumi ini dan terbakar juga siapa saja yang berada di atasnya.

Terkadang ada orang berkata: Bagaimana bisa matahari dekat dengan kepala semua makhluk dengan jarak seperti ini, lalu sekejap kemudian mereka masih tetap ada tanpa terbakar ?! Maka kita katakan kepadanya: Kamu harus berakhlaq yang baik terhadap hadits tersebut. Berakhlaq baik terhadap hadits shahih seperti ini dapat dilakukan dengan cara menerima dan membenarkannya. Tidak terdapat rasa sesak, sempit dan keragu-raguan pada dada-dada kita.

Kemudian hendaknya kita mengetahui bahwa apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kabarkan pada hadits tersebut adalah sebuah kebenaran. Akan tetapi, dalam masalah di atas terdapat suatu perbedaan besar antara keadaan manusia di dunia ini dengan keadaan mereka di akhirat nanti. Yang mana tidak mungkin bagi kita untuk membanding-bandingkan keadaan dunia dengan keadaan akhirat karena adanya perbedaan yang sangat jelas tersebut.

Kita semua mengetahui, bahwa manusia pada hari kiamat kelak akan berdiri selama lima puluh tahun lamanya!!. Seandainya saja diukur dengan keadaan dunia, apakah mungkin ada orang yang mampu berdiri selama lima puluh ribu jam? Bahkan, apakah mungkin seseorang berdiri selama lima puluh ribu
menit?!. Jawabnya: tidaklah mungkin hal tersebut. Jadi, perbedaannya sangatlah jelas. Kalau memang demikian keadaanya, maka seorang mukmin harus menerima kabar seperti ini dengan lapang dada dan penuh ketenangan, dan dia
harus mampu memahaminya, serta terbuka hatinya akan apa yang ditunjukan olehnya.

Kedua: Di antara bermuamalah yang baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hendaknya setiap manusia mengambil hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara menerima, melaksanakan, dan menerapkannya.

Dia tidak menolak sedikitpun dari hukumhukum tersebut. Jika ia menolaknya, maka perlakuan yang demikian merupakan adab yang tidak baik terhadap Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Entah alasan dari penolakannya karena mengingkari hukumnya atau karena memang ia sombong untuk mengamalkannya, atau juga karena terlalu meremehkan dalam mengamalkannya. Maka, tindakan semua ini me-nafi-kan atau membatalkan akhlaq yang baik dalam bermuamalah dengan
Allah Subhanahu wa Ta’ala .

¤ Contohnya, (Puasa):
Tidak diragukan lagi, berpuasa sangatlah terasa berat bagi diri kita. Karena ketika berpuasa seseorang meninggalkan hal-hal yang telah menjadi kebiasaan bagi dirinya, seperti makan, minum, dan ber-jima’ atau bersetubuh. Dan tentu saja hal ini merupakan perkara yang berat baginya. Akan tetapi, seorang mukmin yang baik budi pekertinya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu ia akan menerima beban seperti ini. Atau dengan ungkapan lain: ia akan menerima kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Karena sesungguhnya hal ini merupakan suatu kenikmatan dari-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin tentu mau menerima kenikmatan yang berupa suatu beban tersebut dengan lapang dada dan penuh
ketenangan, yang bisa menjadikan lapang juga jiwanya. Maka, kamu akan mendapatinya berpuasa selama berhari-hari di musim panas yang menyengat.

Dan dengannya ia akan merasa ridha dan lapang dada, karena dia berupaya beradab baik terhadap Tuhannya. Akan tetapi sebaliknya, orang yang beradab
buruk terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala , ia akan menyambut ibadah seperti ini dengan penuh kejemuan dan rasa kebencian. Seandainya saja ia tidak takut dengan suatu perkara yang tidak baik balasan akhirnya (yakni balasan dan dosa bagi orang yang tidak menunaikan puasa -pent), tentu ia tidak akan melaksanakan puasa tersebut.

¤ Contoh kedua, (Shalat):
Begitu pula dalam masalah shalat, tidak diragukan lagi bahwa perkara shalat pun terasa berat bagi sebagian orang, terutama bagi orang-orang munafik. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

أثقل الصلاة على المنافقين : صلاة العشاء وصلاة الفجر

”Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh”.3

Akan tetapi perkara shalat bagi seorang mukmin tidaklah berat, Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ [] الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”(QS. al-Baqarah: 45 & 46).

Maka, shalat bagi mereka bukanlah perkara yang berat, akan tetapi sangat mudah dan ringan. Untuk itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

و جعلت ُقرة عيني في الصلاة

”Telah dijadikan sebagai penyejuk mataku ketika shalat”.4

Shalat merupakan penyejuk mata bagi orang mukmin, dan bekal kesehariannya yang ia siapkan untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk itulah ia mengagungkan kedudukan shalat dan memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Karena shalat adalah tiang agama, dan juga merupakan amalan pertama seorang hamba yang akan dihisab atau dihitung kelak pada hari kiamat.

Maka itu, beradab baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara shalat ialah dengan cara melaksanakannya, sedang hati anda dalam keadaan penuh kelapangan dan ketenangan, mata anda terasa sejuk, merasa senang ketika sedang menunaikannya, dan selalu menunggunya jika telah tiba
waktunya. Jika anda telah selesai dari shalat dzuhur, maka anda selalu rindu dengan shalat ashar. Dan jika anda sudah menunaikan shalat ashar, anda pun akan rindu dengan shalat maghrib. Begitu pula jika anda telah selesai dari shalat maghrib, maka anda akan merasa rindu dengan shalat isya’. Dan setelah menunaikan shalat isya’, anda akan merindukan shalat subuh.

Karena itulah, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berkata kepada Bilal: “Wahai Bilal, hiburlah kita dengan shalat 5“. beliau berkata: “hiburlah kita dengannya”, karena ketika sedang shalat ada rasa nyaman, ketenangan jiwa dan kelapangan. Tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang:
Hiburlah kita dengan selain shalat!, karena shalat terasa berat bagi mereka dan menyusahkan diri-diri mereka.

Dan demikianlah seterusnya, engkau jadikan hatimu selalu bergantung dengan shalat-shalat tersebut. Maka, tidak ragu lagi hal ini termasuk adab yang baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala .

¤ Contoh ketiga, (Pengharaman Riba):
Contoh ini merupakan masalah muamalah. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan riba bagi kita dengan pengharaman yang sangat keras. Dan Ia telah halalkan bagi kita jual beli. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang
masalah ini:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), ‘Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,’ padahal Allah
Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. al-Baqarah: 275).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam orang yang kembali lagi mengulangi perbuatan riba setelah sampai kepadanya penjelasan tentangnya sedang ia telah mengetahui hukumnya dengan kekekalan di dalam api neraka – kita memohon perlindungan kepada Allah darinya -. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancamnya di dunia ini dengan ketegasan akan memeranginya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ [] فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu.”(QS. al-Baqarah: 278 & 279).

Hal ini menunjukan akan besarnya tindakan dosa ini, dan bahwasanya hal tersebut termasuk dosa besar dan perbuatan yang dapat membinasakan.
Maka, seorang mukmin harus menerima hukum ini dengan rasa penuh kelapangan, keridhaan, dan kepatuhan. Adapun non mukmin, maka ia tidak akan menerimanya dan dadanya pun akan terasa sempit. Barang kali juga dia terus melakukannya, tetapi ia tutup-tutupi dengan beraneka ragam tipu muslihat.
Meskipun kita mengetahui – secara sekilas – bahwa perbuatan riba merupakan usaha yang sangat meyakinkan dan tidak terdapat di dalamnya bahaya apapun juga. Akan tetapi, pada hakekatnya riba merupakan suatu usaha bagi seseorang dan sekaligus merupakan kedzaliman bagi yang lainnya. Karena
itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. al-Baqarah: 279)

Ketiga: Di antara adab yang baik dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menerima takdir baik dan buruk-Nya dengan penuh keridhaan dan kesabaran.

Kita semua mengetahui bahwa takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah Ia tetapkan bagi makhluk-Nya tidak semuanya sesuai dengan keinginan hamba-Nya. Maksudnya, bahwa di antara takdir tersebut ada yang sejalan dengan kemauan manusia, akan tetapi juga ada di antaranya yang tidak sejalan dengan kemauannya.

Penyakit contohnya; Ini tentu tidak sesuai dengan sifat manusia, karena semua orang pasti ingin menjadi orang yang sehat dan selamat. Begitu pula kekurangan harta; ini pun tidak sesuai dengan sifatnya. Karena setiap manusia pasti ingin menjadi orang yang kaya. Kebodohan juga tidak sesuai dengan sifat manusia,
karena ia pasti ingin jadi orang yang pandai. Akan tetapi takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat beranekaragam karena hikmah yang hanya diketahui oleh-Nya saja. Di antaranya ada yang sesuai dengan sifat manusia, maka dia pun merasa lega karena sesuai dengan tuntutan tabiatnya. Akan tetapi, di antaranya juga ada yang tidak sesuai dengan kemauannya.

Maka itu, apakah yang dimaksud dengan beradab sopan terhadap Allah akan takdir-takdir-Nya?
Berakhlaq baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala akan takdir-Nya, maksudnya: hendaknya anda rela terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri anda, dan hendaknya anda juga merasa tenang dengannya. Anda pun
harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menetapkan takdir tersebut melainkan di baliknya terdapat hikmah yang agung dan tujuan yang terpuji, yang mana dengan hikmah tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak
memperoleh pujian dan ucapan rasa syukur. Atas dasar semua ini, sesungguhnya berperilaku sopan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala akan takdir-Nya: hendaknya seseorang rela, tunduk dan merasa tenang.

Untuk itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang sabar. Allah
berfirman:

ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [] الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan berilah berita gembira bagi orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”” (QS. al-Baqarah: 156)

Dari E-book berjudul Makarimul Akhlak, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah [Dialihbahasakan oleh : Abū Mūsâ al-Atsarî]

_________

1. Dikeluakan oleh Bukhari, No (5782) di Kitaabut Thib, dan Abu Daud seperti itu juga, No (3844) di Kitaabul Ath’imah. Dan juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah, No (3505) di Kitaabuth Thib, dan oleh Imam Ahmad di kitabnya Al-Musnad (2 / 246, 263, 340, 355).

2. Dikeluarkan Muslim, No (62) di Kitaabul Jannah wa Na’iimiha, dan Tirmidzi, No (2421) di Kitaabuz Zuhd.

3. Dikeluarkan oleha Bukhari, No (633) di Kitaabul Adzaan, Muslim, No (251, 252, 253) di Kitaabul Masaajid, Tirmidzi, No (217) di Abwabush Shalaah, Abu Daud, No (548) di Kitaabush Shalaah, Nasa’I, No (848) di Kitaabul Qiblah, dan Ibnu Majah, No (791) di Kitaabul Masaajid.

4. Dikeluarkan oleh Nasa-i, No (3949 & 3950) di Kitaabu ‘Isyratin Nisaa’, Ahmad di kitab Al-Musnad (3 / 128, 199, 280), dan hadits tersebut ada di kitab Shahiihul Jaami’, No (3134).
5. Dikeluarkan oleh Abu Daud, No (4985) di Kitaabul Adab, Ahmad di kitab Al-Musnad (5 /364) dari jalan Mas’ar bin Kidam, dari ‘Amr bin Murroh, dari Salim bin Al-Ja’d, dari seseorang dari Bani Aslam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan isnad hadits tersebut shahih, adapun tidak diketahuinya seorang sahabat tersebut tidak berpengaruh buruk. Hadits ini juga terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’ karya Imam Al-Albani, No (7892).

Tag:, , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: