Tafsir Surat Al-Baqarah: 11-13

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Al-Baqarah: 11-12)

Tafsir Ayat:

11. Yaitu apabila mereka (orang-orang munafik) dilarang merusak di atas bumi yaitu perbuatan kekufuran dan kemaksiatan, dan di antara perbuatan itu adalah menyebarluaskan rahasia-rahasia kaum mukminin kepada musuh-musuh mereka dan loyalitas mereka terhadap orang-orang kafir,

قالوا إِنَّما نَحنُ مُصلِحونَ

Mereka menjawab, ‘ Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.”

Merka menyatukan antara perbuatan merusak di muka bumi itu bukanlah suatu tindakan pengrusakan, akan tetapi hal itu adalah perbaikan, sebagai suatu hal pemutarbalikan fakta dan penyatuan antara perbuatan batil dan dengan keyakinan bahwa hal itu benar. Mereka itu lebih besar kejahatannya dari pada orang yang melakukan kemaksiatan dengan keyakinan akan keharamannya. Maka yang terakhir ini lebih dekat kepada keselamatan dan lebih diharapkan untuk bertaubat. Dan ketika perkataan mereka,

إِنَّما نَحنُ مُصلِحونَ

Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”, ini merupakan pembatasan terhadap perbaikan hanya dari pihak mereka  -dan termasuk  di dalamnya, bahwa kaum mukminin bukanlah dari orang-orang yang melakukan perbaikan-. Akhirnya Allah membalikkan anggapan mereka  atas mereka dengan firmanNya:

12. [ أَلا إِنَّهُم هُمُ المُفسِدونَ ] “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang berbuat kerusakan”, karena tidak ada yang paling besar pengrusakannya dari pada orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, menghalangi dari jalan Allah, mendustakan Allah dan wali-waliNya, dan mencintai orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, dan dengan itu semua dia mengklaim bahwa hal itu adalah perbaikan. Lalu apakah setelah kerusakan ini  ada kerusakan lagi?

Akan tetapi mereka tidak mengetahui ilmu yang bermanfaat bagi mereka walaupun mereka terkadang telah mengetahui  ilmu tersebut. Namun hal itu adalah tanda telah ditegakkan hujjah Allah atas mereka, sesungguhnya perbuatan dengan kemaksiatan di atas bumi adalah pengrusakan karena menjadi penyebab dari kerusakan segala hal yang ada di atas muka bumi berupa biji-bijian, buah-buahan, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, di mana terjadi kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh kemaksiatan, dan juga karena perbaikan di muka bumi adalah dengan memakmurkannya dengan ketaatan kepada Allah dan beriman kepadaNya.

Oleh kerena itu, Allah mnciptakan makhluk dan menetapkannya di bumi, menentukan rizki bagi mereka agar mereka memanfaatkannya untuk taat kepada Allah dan beribadah kepadaNya. Dan bila dilakukan di atas bumi ini hal yang bertentangan dengan itu, maka hal itu adakah usaha melakukan kerusakan padanya dan penghancuran baginya dari hal yang menjadi tujuan dia diciptakan.

_______________________

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.’ Mereka menjawab, ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah , sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (Al-Baqarah: 13)

Tafsir Ayat:

13. Yaitu bila dikatakan kepada kaum munafik, [ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ ] “Berimanlah seperti orang-orang beriman”, yaitu: seperti berimannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum, yaitu keimanan dengan hati dan lisan.

Lalu mereka berkata dengan sangkaan mereka yang batil, [ أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ] “Apakah kami akan beriman seperti berimannya orang-orang yang bodoh?” Maksud mereka adalah –semoga Allah mencela mereka- : para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Karena dugaan mereka bahwasanya kebodohan mereka yang mewajibkan mereka untuk beriman, meninggalkan negeri, dan memusuhi kaum kafir, sedangkan akal menurut mereka adalah berlawanan dengan hal itu.

Mereka menisbatkan para sahabat kepada kebodohan, dan yang termasuk dalam pengertian statement tersebut adalah bahwa mereka sendiri adalah para cendikiawan yang memiliki kecerdasan dan pikiran yang matang. Lalu Allah membalas mereka dan mengabarkan kepada mereka bahwasanya merekalah orang-orang bodoh yang sebenarnya, karena hakikat kebodohan itu adalah ketidaktahuan seorang manusia kepada kemaslahatan pribadinya dan perbuatannya kepada hal yang memudharatkannya. Hal inilah yang terbukti terjadi pada mereka (dan terjadi benar atas mereka) sebagaimana juga akal dan kecerdasan itu adalah pengetahuan seorang manusia kepada hal yang bermanfaat bagi dirinya dan berbuat apa yang berguna untuknya serta menghindar dari apa yang memudharatkan dirinya. Hal inilah yang terbukti terjadi pada para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan kaum mukminin. Maka patokannya adalah dengan (pemberian) sifat dan keterangan, tidak hanya sekedar sangkaan dan perkataan kosong belaka.

Sumber Rujukan:

1. Kitab Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir aas-Sa’di, Darul Hadits, Kairo, hal. 25-36

2. dengan terjemahannya: Tafsir As-Sa’di (1), cetakan Pertama, Pustaka Sahifa, Jakarta, hal.74-77

Tag:, , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: