Hadits Arbain An Nawawi ke-2: Islam, Iman, dan Ihsan

2 < > 3

[1]Dari Umar radhiallahu ‘anhu pula berkata, pada suatu hari tatkala kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba tampak seorang laki-laki kepada kami yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat sedikitpun padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak ada di antara kami yang mengenalnya.

Lalu orang tersebut duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia merapatkan lututnya pada lutut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan meletakkan kedua tapak tangannya di atas paha Rasulullah, seraya bertanya, “Wahai Muhammad, beritahu aku tentang Islam!”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya”. Orang itu berkata, “Engkau benar”.

Maka kami pun heran, dia yang bertanya namun dia pula yang membenarkan jawabannya. Maka orang itu bertanya lagi, “Beritahu aku tentang iman!”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya (Rasul-Rasul-Nya), hari kiamat, dan kepada takdir yang baik dan buruk”. Orang itu berkata lagi, “Engkau benar”. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang ihsan!”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, namun jika engkau tidak bisa melihatnya, yakinlah bahwa Dia melihatmu!”.

Orang itu bertanya lagi, “Beritahu aku tentang hari kiamat!”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang ditanya tentang itu, tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Kemudian orang itu bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tandatandanya!”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu (jika) seorang budak wanita melahirkan majikan perempuannya (nyonyanya), dan (jika) engkau melihat orang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin dan penggembala kambing, mereka berlombalomba dalam meninggikan bangunan”. Kemudian orang itu beranjak pergi. Sedangkan ak (Umar) terdiam cukup lama. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?”. Aku menjawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Dia adalah Jibril, datang kepadamu untuk mengajarkan perkara agamamu”.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim.[2]

PENJELASAN HADITS

1. Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Umar radhiallahu ‘anhu ini, hanya dikeluarkan oleh Muslim saja dan tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari. Namun mereka berdua sepakat mengeluarkan hadits ini dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Dan Imam An-Nawawi radhiallahu ‘anhu memulai hadits-hadits Arba’in-nya dengan hadits Umar “Innamal a’maalu bin niyyaat“, yang merupakan hadits pertama dalam Shahih Al-Bukhari.

Dan Imam An-Nawawi menjadikan hadits Umar yang menjelaskan kisah Jibril ini sebagai hadits yang kedua dalam Arba’in-nya, yang merupakan hadits pertama dalam Shahih Muslim. Hal ini, telah dilakukan pula oleh orang sebelum Imam An-Nawawi, yaitu Imam Al-Baghawi dalam kedua kitabnya; Syarhus Sunnah dan Mashabihus Sunnah. Beliau (Imam Al-Baghawi) memulai kedua kirtabnya tersebut dengan kedua hadits ini.

Dan telah saya (Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad) pisahkan secara tersendiri dalam satu kitab dengan penjelasan yang lebih luas dari penjelasan di sini.

2. Hadits ini merupakan hadits yang pertama dalam Kitab Al-Iman dalam Shahih Muslim. Hadits ini dibawakan oleh Ibnu Umar dari ayahnya. Dan pada sebab beliau membawakan hadits ini terdapat kisah yang dibawakan oleh Muslim dipermulaan hadits ini dengan sanad-nya dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata, “Orang yang pertama kali berbicara (dan mempermasalahkan) tentang taqdir (mengingkari taqdir) di Bashrah adalah Ma’bad Al-Juhani. Kemudian aku dan Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari pergi (ke Mekkah) untuk melakukan ibadah haji atau umrah.

Kami berkata, “seandainya kita bertemu salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapat tanyakan tentang apa yang telah dikatakan oleh mereka tentang taqdir. Kemudian, kami diberi tawfiq (oleh Allah) untuk bertemu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, dan beliau sedang memasuki masjid. Maka saya (Yahya bin Ya’mar) dan teman saya (Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari) mendekati beliau. Salah satu dari kami dari sebelah kanannya, dan yang lain dari sebelah kirinya. Saya sudah mengira bahwa teman saya tersebut akan menyerahkan pembicaraan kepada saya.

Maka saya pun berkata, Wahai Abu Abdirrahman! Telah muncul dari daerah kami orang-orang yang membaca Al-Qur’an, dan mereka pun memperdalam (mencari hal-hal yang pelik) tentang ilmu”. Kemudian disebutkan tentang sifat dan keadaan mereka. “Dan mereka mengira bahwa tidak ada taqdir, dan segala perkara adalah baru (terjadi dengan sendirinya dan tidak ada kaitannya dengan taqdir Allah)”.

Abdullah bin Umar berkata, “Jika kamu bertemu dengan mereka, beritahu mereka bahwa saya berlepas diri dengan mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang dijadikan sumpah dengan-Nya oleh Ibnu Umar (yakni; demi Allah), jika salah satu dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu ia menginfakannya, Allah tidak akan pernah menerimanya sampai ia beriman dengan taqdir“.

Kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Telah mengkhabariku ayahku Umar bin Al-Khaththab…”. Kemudian beliau pun membawakan hadits ini (seluruhnya hanya) untuk berdalil dengannya atas (wajibnya) beriman kepada taqdir. Dan pada kisah ini terdapat penjelasan bahwa munculnya bid’ah Qadariyyah (orang-orang yang mengingkari taqdir) sudah ada di zaman sahabat, tepatnya pada masa Ibnu Umar masih hidup. Dan beliau wafat pada tahun 73 Hijriyah radhiallahu ‘anhuma. Sebagaimana didapatkan pada kisah ini bahwa para Tabi’in senantiasa mengembalikan perkara agama mereka kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan demikianlah seharusnya, kembali kepada ahlul ‘ilmi (para ulama) dalam setiap waktu, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ..

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.

[QS. An-Nahl: 43 dan Al-Anbiyaa’: 7].

Dan bid’ah Qadariyyah adalah seburuk-buruk bid’ah. Hal ini dapat dipahami dari perkataan yang keras dari Abdullah bin Umar. Dan juga hendaknya seorang mufti (yang ditanya dan memberikan fatwa atau jawaban) menyebutkan hukum dan dalilnya.

3. Dalam hadits Jibril ini terdapat dalil bahwa malaikat jika mendatangi manusia ia dapat berubah bentuk seperti manusia pula. Dan telah terdapat dalam Al-Qur’an bahwa jibril datang kepada Maryam dalam bentuk manusia. Demikian pula mereka (para malaikat) datang kepada Ibrahim dan Luth dalam bentuk manusia. Mereka dapat berubah bentuk dari bentuk mereka yang sesungguhnya ke bentuk manusia dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan tentang bentuk penciptaa mereka dalam firman-Nya,

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ رُسُلاً أُوْلِىٓ أَجۡنِحَةٍ۬ مَّثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَۚ يَزِيدُ فِى ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Fathir: 1].

Dan dalam Shahih Al-Bukhari (4857) dan Shahih Muslim (174) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril, dan ia memiliki enam ratus sayap.

4. Dalam kedatangan Jibril kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan duduknya di depan beliau terdapat penjelasan tentang sebagian etika penuntut ilmu di hadapan seorang guru. Dan hendaknya orang yang bertanya tidak hanya menanyakan tentang hukum yang tidak ia ketahuinya saja, akan tetapi ia juga boleh menanyakan hal-hal lainnya walaupun ia sudah mengatahui hukumnya, dengan tujuan agar orang-orang yang hadir dapat mendengarkan jawabannya pula. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menisbahkan ta’lim (pengajaran) ini kepada Jibril. Beliau bersabda “Dia adalah Jibril, datang kepadamu untuk mengajarkan perkara agamamu“. Padahal ta’lim tersebut berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliaulah yang langsung menjelaskannya. Namun disandarkan kepada Jibril, karena beliau itulah yang menyebabkan Rasulullah menjelaskan perkara tersebut.

5. Dalam hadits disebutkan; Wahai Muhammad, beritahu aku tentang Islam!”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya”.

Di sini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan Jibril tentang Islam dengan perkara-perkara yang zhahir. Dan tatkala Jibril bertanya tentang iman, nabi menjawabnya dengan perkara-perkara yang batin. Dan lafazh “Islam” dan “Iman” termasuk lafazh-lafazh yang apabila keduanya bergabung dalam penyebutan, maka keduanya memiliki perbedaan dalam makna. Dan di sini, kedua lafazh tersebut bergabung. Sehingga Islam ditafsirkan dengan perkara-perkara yang lahir. Dan inilah yang selaras dan sesuai dengan makna Islam yang artinya berserah diri dan tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. sedangkan Iman. Ia ditafsirkan dengan perkara-perkara yang batin. Dan ini pun sesuai dengan makna Iman yang artinya membenarkan dan meyakini. Namun, jika masing-masingnya berpisah dan berdiri sendiri, ia mencakup kedua makna tersebut sekaligus, baik perkara-perkara yang lahir maupun yang batin. Di antara dalil yang menunjukkan lafazh Islam yang berdiri sendiri adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Ali ‘Imran: 85].

Dan di antara dalil yang menunjukkan lafazh iman yang berdiri sendiri adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَـٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُ ۥ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

… dan barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. [QS. Al-Maidah: 5].

Dan yang semisal dengan masalah ini adalah dua kata “faqir” dan “miskin”, “al-birr” dan “at-takwa“, dan yang semisalnya. Dan perkara pertama tentang penafsiran Islam adalah syahadat laa ilaaha illallah, dan syahadat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kedua syahadat ini saling berkaitan (tidak terpisahkan). Dan kedua syahadat ini pun wajib diucapkan dan diyakini oleh jin dan manusia sejak diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat. Barangsiapa yang tidak beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kelak ia termasuk penghuni neraka, berdasarkan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangannya, tidaklah seorang pun mendengar tentang diriku dari umat ini, seorang Yahudi atau pun Nashrani, lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa-apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penghuni neraka. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (153).

Dan syahadat laa ilaaha illallah maknanya adalah laa ma’buuda haqqun illallah (Tiada sesembahan yang haq benar untuk disembah selain Allah). Dan kalimatul ikhlas (syahadat laa ilaaha illallah) ini mencakup dua rukun; peniadaan menyeluruh di awalnya, dan penetapan khusus di akhirnya. Di awalnya adalah peniadaan segala bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah. Dan di akhirnya adalah penetapan segala ibadah hanya untuk Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan khabar (predikat) huruf “Laa” yang bersifat menafikan segala jenis taqdir-nya adalah “haq“. Dan tidak benar jika di-taqdirkan “maujud” (ada). Karena masalahnya; tuhan-tuhan yang batil yang tidak berhak disembah itu kenyataannya ada, dan bahkan banyak. Yang ditiadakan adalah sifat ketuhanan yang haq (berhak untuk disembah satu-satunya). Sifat inilah yang tidak ada pada tuhan-tuhan selain Allah, dan hanya ada pada Allah saja.

Adapun makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah; beliau harus lebih dan paling dicintai dari semua makhluk. Dan beliau wajib ditaati dalam segala perintahnya, dan meninggalkan segala yang dilarangnya. Dan semua khabar yang datang dari beliau wajib dibenarkan, sama saja khabar-khabar yang sudah terjadi, atau yang belum terjadi di masa yang akan datang, atau pun yang sedang berlangsung. Walaupun khabar tersebut belum terlihat atau tersaksikan. Dan Allah wajib disembah sesuai dengan apa-apa yang beliau bawa berupa al-haq dan al-huda (kebanaran dan petunjuk).

Mengikhlaskan amal ibadah hanya untuk Allah dan mengikuti apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan konsekuensi syahadat laa ilaaha illallah, dan syahadat Muhammad Rasulullah. Setiap amal perbuatan apapun yang ditujukan untuk pendekatan diri kepada Allah (beribadah dengannya kepada Allah), maka itu harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika Ikhlas tidak terpenuhi, amal ibadah tidak akan diterima. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٍ۬ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَآءً۬ مَّنثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. [QS. Al-Furqan: 23].

Dan juga firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi,

… Aku Dzat Yang Mahakaya dari segala sekutu. Barangsiapa yang beramal sebuah amalan yang ia menyekutukan-Ku di dalamnya, pasti Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya itu. Diriwayatkan oleh Muslim (2985).

Demikian pula jika ittiba’ tidak terpenuhi, maka amal ibadah pun tidak akan diterima. Berdasarkan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

» مَنْ أَ حدْث فِي أََمْرِنَا هذا مَا لَيْسَ فِيه فَهُوَ رَد «

Barangsiapa yang mengada-ada perkara baru dalam agama kami yang bukan dari agama kami, maka perkara tersebut tertolak. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718). Dan dalam Shahih Muslim dengan lafazh,

» مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عليْه أَمْرُنَا فَهُوَ رَد «

Barangsiapa mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada (contohnya) dalam agama kami, maka amalan tersebut tertolak.

Dan kalimat dalam hadits ini lebih umum dari hadits yang pertama. Karena mencakup orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang pertama kali membuatnya, dan juga mencakup orang yang melakukannya karena hanya ikut-ikutan yang lainnya saja.

Adapun penjelasan tentang shalat, zakat, puasa, dan haji akan datang pada penjelasan hadits “Buniyal Islamu ‘ala khams“, yang akan datang langsung setelah penjelasan hadits ini (hadits yang ketiga).

2    3

Tag:, , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

One response to “Hadits Arbain An Nawawi ke-2: Islam, Iman, dan Ihsan”

  1. Refiza Souvenir says :

    Permisi Numpang Promo
    Refiza Souvenir menyediakan paket undangan pernikahan cantik nan elegan, paket yasin untuk souvenir acara pengajian tahlilan dan berbagai macam souvenir tasbih cantik dan elegan untuk oleh-oleh haji dan umroh. cek katalog kami di http://www.refiza.com

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: