Ilmu Fikih Pada Zaman Tabi’in

Secara umum, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Nabi, sedangkan para tabi’in mengambil pendapt-pendapat tersebut dari para sahabat. Mereka menghafal apa yang mereka dengar berupa hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan pendapat-pendapat para sahabat sekaligus memahaminya, mengumpulkan apa saja yang diperselisihkan di kalangan sahabat, dan mentarjih sebagian pendapat atas sebagian yang lainnya. Dalam pandangan mereka, suatu pendapat, meskipun berasal dari para sahabat senior bisa lenyap (tidak berlaku), semisal pendapat tersebut menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur di tengah-tengah mereka

Dengan demikian, masing-masing ulama tabi’in memiliki madzhab yang dianutnya, sehingga masing-masing memiliki imam panutan, seperti: Sa’id bin al-Musayyib dan Salim bin Abdullah bin Umar di Madinah. Lalu ulama Madinah yang terkenal setelah mereka adalah az-Zuhriy, Yahya bin Sa’id dan Rabi’ah bin Abdurrahman, Atha’ bin Abi Rabah di Makkah, Ibrahim bin an-Nakha’i dan as-Sa’bi di Kufah, al-Hasan di Bashrah, Thawus bin Kaisan di Yaman dan Makhul di Syam.

Allah subhaanahu wa Ta’ala menjadikan orang-orang haus akan ilmu mereka, ingin mendapat ilmu serta mengambila darinya hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, fatwa dan ucapan para sahabat, serta mengambil madzhab dan penelitian para ulama tersebut. Dan juga meminta fatwa, dan mengajukan berbagai kasus yang berkembang di tengah-tengah mereka kepada para ulama tersebut.

Ibnu al-Musayyib, Ibrahim an-Nakha’i, dan ulama yang setingkat mereka telah mengumpulkan berbagai masalah fikih. Sa’id bin al-Musayyib dan murid-muridnya berpendapat, penduduk Madinah dan Makkah adalah orang-orang yang paling paham dalam masalah fikih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fikih berdasarkan fatwa ‘Utsman, Umar, dan keputusan-keputusan kedua sahabat tersebut, serta fatwa-fatwa Ibnu Umar, Aisyah, Ibnu Abbas, dan keputusan para ulama Madinah.

Sementara an-Nakha’i dan murid-muridnya berpendapat bahwa Ibnu Mas’ud dan murid-muridnya adalah orang-orang yang paling paham tentang ilmu fikih. Karena itu, mereka meletakkan landasan ilmu fikih mereka berdasarkan fatwa-fatwa Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib, serta fatwa Syuraih dan ulama-ulama negeri Kufah lainnya.

Jadi, masing-masing kelompok memiliki pandangan sendiri tentang suatu masalah menurut hasil penilaian dan penelitian yang mereka lakukan. Namun, perkara yang sudah menjadi kesepakatan para ulama, mereka pegang dengan kuat. Adapun masalah-masalah ikhtilaf, mereka pilih mana yang terkuat dan paling rajih. Apabila tidak menemukan jawaban atas suatu persoalan dari hadits-hadits yang mereka hafal, mereka tidak serta merta menggunakan pendapatnya, tetapi terlebih dahulu memperhatikan isyarat dan petunjuk (dari dalil-dalil yang mereka hafal). Dengan cara itu, mereka mendapatkan permasalahan yang cukup banyak dalam setiap bab fikih.

Sumber:

Shahih Fiqhis-Sunnah juz 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid, cetakan Maktabah at-Taufiqiyah, hal. 21-22 [dan terjemahannya dari Pustaka at-Tazkia]

Tag:, , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: