Ilmu Fikih pada Zaman Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum

Pada zaman ini para sahabat berpencar-pencar di berbagai daerah dan mereka menempati posisi sebagai panutan di daerah yang mereka tempati. Ketika muncul berbagai kasus dan masalah, mereka memberikan fatwa terhadap setiap kasus dan masalah tersebut. Masing-masing dari mereka memberikan jawaban sesuai dengan apa yang mereka hapal atau yang mereka simpulkan dari sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Jika mereka tidak menemukan jawaban yang cocok dari apa yang mereka hapal dan yang mereka simpulkan dari Nabi, maka mereka melakukan ijtihad dengan ra’yu mereka dan mencocokkannya dengan illah di mana Nabi menjalankan hukum padanya dan nash-nashnya. Dengan cara inilah mereka melakukan pengkiyasan hukum dengan berbagai masalah yang mereka dapati. Upaya ini mereka lakukan agar setiap permasalahan diselesaikan sesuai hukum yang diinginkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Sebab dan Bentuk Perbedaan Pendapat di Kalangan Sahabat

Ketika itulah terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat yang disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah:

Pertama, di antara sahabat ada yang pernah mendengar sebuah hukum dalam suatu kasus atau fatwa dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, sementara sahabat yang lainnya tidak mendengarnya, lalu dia berijtihad dengan pendapatnya mengenai hal itu. Mengenai hal ini ada beberapa bentuk:

a.       Hasil ijtihad mereka sesuai dengan hadits.

Contohnya, hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia pernah ditanya tentang seorang wanita yang ditinggal mati suaminya. Sementara suami wanita itu belum menetapkan berapa mahar yang akan diberikan kepada si istri. Ibnu Mas’ud menjawab, “aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi keputusan mengenai hal ini.” Mereka bolak-balik menemui Ibnu Mas’ud sebulan lamanya, dan mendesaknya untuk memberi keputusan. Akhirnya Ibnu Mas’ud melakukan ijtihad dengan pendapatnya dan memutuskan bahwa wanita tersebut berhak menerima mahar seperti mahar yang diberikan suaminya kepada istri yang lain, tidak lebih dan tidak kurang. Wanita itu juga memiliki masa ‘iddah, dan berhak mendapatkan harta warisan dari suaminya. Kemudian berdirilah Ma’qal bin Yasar dan bersaksi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memberi keputusan seperti itu terhadap salah seorang dari istri mereka. Mendengar pernyataan Ma’qal tersebut, Ibnu Mas’ud bergembira dengan kegembiraan yang belum pernah dirasakannya sejak keislamannya.

b.      Terjadi adu argumentasi antara kedua sahabat tersebut.

Hingga nyata baginya sisi pendalilan dari sebuah hadits, lalu mencabut hasil ijtihad yang dilakukannya dan kembali kepada hadits yang telah didengarnya.

Contohnya, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu termasuk salah seorang sahabat yang berpendapat, barang siapa yang pada pagi hari di bulan Ramadhan dalam keadaan junub, maka puasanya tidak sah. Pendapat ini tetap ia pegang, hingga ia mendengar hadits dari sebagian istri Rasulullah yang bertentangan dengan pendapatnya, lalu ia mencabut pendapatnya itu.

c.       Suatu hadits sampai kepada mereka.

Namun, menurut perkiraan mereka, kemungkinan besar tidak seperti itu. Bahkan mereka meragukan kebenaran hadits tersebut.

Contohnya, Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha memberikan persaksiannya di hadapan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia ditalak dengan talak tiga, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memutuskan bahwa dirinya tidak berhak lagi menerima nafkah dan tempat tinggal. Namun Umar menolak persaksiannya seraya berkata, “Tidak mungkin kita meninggalkan al-Qur’an hanya berdasarkan ucapan seorang wanita yang tidak diketahui: apakah ia berkata benar atau dusta.”

Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Fathimah, bertakwalah kepada Allah!” Yakni, berkenaan dengan ucapannya: tidak menerima nafkah dan tempat tinggal.

d.      Mereka tidak mendengar hadits sama sekali.

Contohnya, Ibnu Amr pernah memerintahkan kepada para istrinya, apabila mandi junub, agar membuka semua ikatan pintalan rambut. Mendengar hal itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sungguh aneh sekali Ibnu Amr ini. Ia memerintahkan agar wanita mambuka semua pintalan rambut ketika mandi junub. Mengapa tidak ia perintahkan saja para wanita untuk mencukur semua rambutnya? Padahal dahulu aku mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana, dan pada saat itu aku hanya menuangkan air ke kepalaku sebanyak tiga cidukan tangan, tidak lebih dari itu.

Kedua, para sahabat melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan suatu amalan, lalu sebagian sahabat ada yang menyimpulkan amalan tersebut sebagai qurbah (ibadah), dan sebagian yang lainnya menyimpulkannya sebagai kemubahan.

Contohnya, para sahabat melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlari kecil ketika melakukan tawaf. Mayoritas sahabat berpendapat, berlari kecil, ketika melakukan tawaf, hukumnya sunnah. Sementara Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berpendapat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan hal itu untuk maksud tertentu, yakni untuk membatalkan ucapan orang-orang musyrik, “orang-orang Islam telah dihancurkan oleh demam Madinah.” (jadi beliau lakukan itu untuk menunjukkan kekuatan kaum muslimin) bukan kerena disunnahkan.

Ketiga, ikhtilaf (perselisihan) karena faktor dugaan. Contohnya, para sahabat menyaksikan haji yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lalu sebagian sahabat mengira ketika itu beliau melakukan haji tamattu, sebagian lagi mengira beliau mengerjakan haji qiran, dan sebagian lainnya lagi mengira bahwa beliau mengerjakan haji ifrad.

Keempat, ikhtilaf karena lupa. Contohnya, riwayat yang menyebutkan, Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan umrah pada bulan Rajab.” Ketika mendengar hal itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkomentar bahwa Ibnu Umar lupa.

Kelima, ikhtilaf akibat kesimpulan yang kurang akurat. Contohnya, Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya mayat akan disiksa disebabkan keluarga yang menangisinya.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha memberikan komentar bahwa ini merupakan dugaan dari Ibnu Umar yang keliru dalam memahami hadits. Kisah sebenarnya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewati jenazah wanita Yahudi yang sedang ditangisi oleh keluarganya, maka beliau bersabda: “Mereka itu menangisinya, padahal mayat itu disiksa di kuburannya.”

Tapi, Ibnu Umar mengira, siksa tersebut disebabkan oleh tangisan, dan juga mengira hukuman tersebut umum untuk semua mayat.

Keenam, ikhtilaf dalam menentukan illah sebuah hukum.

Contohnya, masalah berdiri untuk jenazah. Sebagian berpendapat, berdiri ini dimaksudkan untuk menghormati para malaikat. Dengan demikian, hukum berdiri ini berlaku umum untuk jenazah mukmin dan kafir. Ada yang berpendapat, berdiri ini dilakukan karena mengingat dahsyatnya kematian. Berarti, hukum ini juga umum untuk jenazah mukmin dan kafir. Adapula yang berpendapat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri, ketika jenazah Yahudi melintas, karena beliau tidak suka kalau posisi jenazah tersebut lebih tinggi dari pada kepala beliau. Dengan demikian, hukum ini khusus untuk jenazah kafir saja.

Ketujuh, ikhtilaf dalam mengkompromikan dua pendapat yang berbeda.

Contohnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang menghadap kiblat ketika buang hajat, lalu suatu kaum berpendapat tentang keumuman hukum ini dan ketentuan ini tidak dimansukhkan. Jabir radhiyallahu ‘anhu pernah melihat beliau buang air kecil sambil menghadap kiblat, satu tahun sebelum beliau wafat, sehingga ia berpendapat bahwa hukum larangan sudah dimansukhkan. Sementara Ibnu Umar radhiyallahu anhu sendiri pernah melihat beliau buang hajat sambil membelakangi kiblat, sehingga ia membantah pendapat lain yang berlainan dengan hal itu.

Sumber:

Shahih Fiqhis-Sunnah juz 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid, cetakan Maktabah at-Taufiqiyah, hal. 19-21 [dan terjemahannya dari Pustaka at-Tazkia]

Tag:, , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: