Perkara-perkara yang Membatalkan Wudhu

Perkara-perkara
yang Membatalkan Wudhu

Penulis: Syaikh Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim
hafidzahullah

Ringkasan Hal-hal yang Membatalkan Wudhu:
1. Keluarnya Air Seni, Tinja, atau Angin dari Dua Jalan
2. Keluarnya Mani, Wadi, dan Madzi
3. Tidur yang Lelap Hingga Tidak Sadarkan Diri
4. Hilangnya Akal disebabkan Mabuk, Pingsan atau Gila
5. Menyentuh Kemaluan Tanpa Alas, Baik dengan 
Syahwat Maupun Tanpa Syahwat
6. Di antara yang Dapat Membatalkan Wudhu adalah 
Memakan Daging Unta, -ed.

1.       Keluarnya Air Seni, Tinja, atau Angin dari Dua Jalan
Adapun air seni dan kotoran, dasarnya adalah firman Allah Subhânahu wa Ta’âla:

أو جاء أحد منكم من الغائط

Atau kemabli dari tempat buang air (kakus).” (al-Maidah: 6)

Kata al-gha’ith adalah kinayah untuk tempat buang hajat, baik buang air kecil ataupun buang air besar. Para ulama bersepakat tentang batalnya wudhu disebabkan keluarnya sesuatu dari dua jalan: qubul dan dubur.[i]

Adapun jika keduanya keluar dari selain qubul dan dubur –seperti keluar dari luka di kantung kemih atau perut- maka para ulama berselisih pendapat. Barangsiapa yang mempertimbangkan bahwa yang menyebabkan batalnya itu adalah karena keluarnya semata –seperti Abu Hanifah, ats-Tsauri, Ahmad, dan Ibnu Hazm- maka mereka berpendapat wudhunya batal disebabkan oleh setiap najis yang mengalir dari tubuhnya, dari jalan manapun najis itu keluar.

Barangsiapa yang mempertimbangkan tempat keluarnya najis itu –seperti asy-Syafi’i- maka ia akan berpendapat wudhunya batal jika sesuatu keluar dari dua jalan itu, walaupun yang keluar bukan benda najis, seperti batu atau selainnya.[ii]

Adapun angin yang keluar dari dubur, baik dengan suara maupun tidak, maka hal ini membatalkan wudhu menurut ijma’, berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

 لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتي يتوضا

Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kamu, jika dia berhadats hingga ia berwudhu.”

Seorang laki-laki dari Hadramaut berkata: “Apakah hadats itu, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Kentut atau buang angin.”[iii]

Apabila angin keluar dari qubul, jumhur ulama[iv] mengatakan wudhunya batal. Adapun menurut Abu Hanifah, dan disepakati oleh Ibnu Hazm, tidak batal wudhunya. Karena kentut dan buang angin adalah istilah yang disebutkan untuk angin yang keluar dari dubur.[v]

Penulis berkata: Apabila angin yang keluar itu diketahui sebagai kentut, maka wudhunya batal, baik keluar dari qubul maupun dubur. Jika tidak, maka hanya yang keluar melalui dubur saja.

Catatan: Terkadang wanita merasakan sesuatu seperti angin yang keluar dari kemaluannya, ini adalah ikhtilaj –yaitu gerakan atau gejolak- bukan angin yang keluar. Tidaklah batal wudhunya, karenanya ini seperti bersendawa dan sejenisnya. Namun jika wanita itu mifdhah –yaitu tercampur antara tempat buang air kecil dan tempat buang air besarnya- maka ia harus berwudhu sebagai bentuk kehati-hatian karena dikhawatirkan angin itu keluar dari dubur. Wallahu A’lam.

2.       Keluarnya Mani, Wadi, dan Madzi

Keluarnya mani membatalkan wudhu menurut ijma’ dan mewajibkan mandi –seperti akan dijelaskan-. Semua perkara yang mewajibkan mandi membatalkan wudhu menurut ijma’[vi]. Keluarnya madzi juga membatalkan wudhu, berdasarkan hadits Ali bin Abu Tholib radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan, “Aku adalah seorang laki-laki yang banyak mengeluarkan madzi, maka aku memerintahkan seseorang untuk menanyakan kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, karena putri beliau adalah istriku. Maka orang itu menanyakannya, dan Nabi menjawab:

توضأ واغسل ذكرك

Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu’.[vii]

Demikian pula halnya dengan wadi, wajib baginya mencuci kemaluannya dan berwudhu.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Mani, wadi, dan madzi. Mani itulah yang menyebabkan mandi. Adapun wadi dan madzi, Nabi bersabda, ‘Cucilah kemaluanmu –atau daerah sekitarnya- lalu berwudhulah seperti wudhu untuk shalat’.”[viii]

Faidah: Barangsiapa yang terkena penyakit salisul baul (terus menerus mengeluarkan air seni), salisul madzi (terus menerus mengeluarkan madzi), atau terus menerus mengeluarkan sesuatu, seperti telah disebutkan sebelumnya, hingga hal itu menyulitkannya- diakibatkan penyakit pada badan- maka ia harus mencuci apa yang mengenai pakaian dan badannya lalu berwudhu setiap kali hendak shalat –seperti wanita yang terkena istihadhah, yang akan segera dijelaskan (insya Allah,-ed)-. Lalu tidaklah mengapa segala yang keluar dalam shalat, atau antara wudhu dan shalatnya.

3.       Tidur yang Lelap Hingga Tidak Sadarkan Diri

Atsar-atsar yang ada dalam masalah ini saling berselisih tentang wudhu karena tidur, dan zhahirnya saling bertentangan. Ada hadits-hadits yang secara zhahir menjelaskan tidak wajibnya wudhu karena tidur, sementara hadits-hadits lainnya secara zhahir mewajibkan wudhu, karena sesungguhnya tidur adalah hadats. Dalam hal ini, ulama terbagi dalam dua pendapat: madzhab yang menempuh jalan kompromi dan madzhab tarjih. Barangsiapa yang berpendapat dengan madzhab tarjih, maka ada dua kemungkinan: Pertama, ia menggugurkan kewajiban berwudhu karena tidur secara mutlak, dengan alasan tidur bukan hadats. Kedua, ia mewajibkan wudhu secara mutlak, dengan alasan tidur adalah hadats.

Sebaliknya, barangsiapa memilih madzhab yang menempuh jalan kompromi, ia berpendapat bahwa tidur bukanlah hadats, melainkan hanya dugaan kuat adanya hadats. Mereka berselisih tentang sifat tidur yang mewajibkan wudhu. Inilah tiga cara yang ditempuh ulama, dan ketiganya bercabang menjadi delapan pendapat[ix] berikut ini:

Pertama, tidur tidak membatalkan secara mutlak. Ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya Ibnu Umar dan Abu Musa al-Asy’ari. Ini juga pendapat Sa’id bin Jubair, Makhul, Ubaidah as-Salmani, al-Auza’i dan selainnya. Hujjah mereka adalah:

a. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Shalat sudah diiqamati, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik dengan seseorang. Beliau masih terus berbisik dengan seseorang hingga para sahabat tertidur. Kemudian beliau datang lalu shalat mengimami mereka.”[x]

b. Diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata, aku mendengar Anas berkata, “para sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah tidur, kemudian mereka bangun mengerjakan shalat tanpa berwudhu.” Perawi berkata, “Aku berkata, ‘Apakah engkau mendengar dari Anas?’ Qatadah menjawab, ‘Ya, demi Allah’.”[xi]

Dalam suatu redaksi, “Mereka menunggu shalat hingga mengantuk dan tertunduk kepala mereka, lalu mereka bangkit untuk mengerjakan shalat.”

c. Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku tidur di rumah bibiku, Maimunah, lalu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat dan aku pun berdiri untuk shalat dan aku pun berdiri di sisi kirinya. Beliau memegang tanganku dan memindahkanku di sebelah kanannya. Jika aku tertidur, beliau memegang daun telingaku.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Saat itu beliau shalat sebelas raka’at.”[xii]

d. Hadits Ibnu Abbas tentang tidurnya di rumah Maimunah, yang di dalamnya disebutkan, “Kemudian beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidur hingga aku mendengar dengkurnya, lalu beliau bangkit dan keluar untuk shalat.”[xiii] Dalam suatu redaksi lain, “Kemudian beliau bangkit untuk shalat dan tidak berwudhu.”

Kedua, tidur membatalkan wudhu secara mutlak.

Tidak ada perbedaan antara tidur sebentar dan lama. Ini adalah pendapat Abu Hurairah, Abu Rafi’, ‘Amr bin az-Zubair, ‘Atha’, al-Hasan al-Bashri, Ibnu al-Musayyab, az-Zuhri, al-Muzani, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Hazm, dan pendapat yang dipilih oleh al-Albani. Dalil mereka adalah:

a. Hadits Shafwan bin ‘Assal, ia berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami mengusap sepatu-sepatu kami jika bepergian jauh, dan tidak perlu melepasnya selama tiga hari karena buang air besar, buang air kecil dan tidur, kecuali karena jinabat.”[xiv] Menurut mereka, Rasulullah menyamakan semua tidur, tidak mengkhususkan yang sebentar dari yang lama, dan suatu kondisi dari kondisi yang lain, serta beliau menyamakan dengan buang air besar dan buang air kecil.

b. Berdasarkan riwayat Ali bin Abu Thalib radhiyallâhu ‘anhu, dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

العينان وكاء السه ، فمن نام فليتوضا

“kedua mata adalah pengikat bagi dubur; barangsiapa yang tidur, maka hendaklah ia berwudhu.”[xv] Namun, hadits ini dha’if.

c. Hadits dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian mengantuk pada saat sedang shalat, maka hendaklah ia tidur hingga hilang kantuknya. Sebab apabila salah seorang dari kalian mengerjakan shalat dalam keadaan mengantuk, maka ia tidak sadar barangkali ia ingin minta ampunan tapi ternyata ia mencaci maki dirinya sendiri.”[xvi]

Imam al-Bukhari rahimahullah berdalil dengan hadits ini dalam Shahih-nya akan wajibnya berwudhu karena tidur. Yang tampak jelas bagi penulis adalah bahwa pengambilan dari hadits ini perlu ditinjau ulang. Karena illat (alasan) meninggalkan shalat guna untuk tidur adalah karena dikhawatirkan ia akan berdoa mengutuk dirinya sendiri atau tidak mengerti apa yang diucapkannya, serta tidak dapat menghadirkan hatinya dalam shalatnya sehingga tiada kekhusu’an. Ini semua tidak ada kaitannya dengan wudhu karena habis tidur. Bahkan hadits ini bisa menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwa tidur tidak membatalkan wudhu. Silakan menelitinya kembali.

d. Mereka mengatakan, para ulama telah sepakat akan wajibnya wudhu bagi orang yang hilang akal karena gila, pingsan, atau segala kondisi yang menyebabkan hilangnya akal, termasuk tidur.

Ketiga, tidur lama membatalkan wuduhu dan tidur sebentar tidak. Ini adalah pendapat Imam Malik dan satu riwayat dari Ahmad. Ini adalah pendapat yang dipilih az-Zuhri, Rabi’ah dan al-Auza’i. Mereka memahami hadits Anas tentang tidurnya para sahabat sebagai tidur sebentar. Mereka berargumen dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

من إستحق النوم فقد وجب عليه الوضوء

Barangsiapa yang tidur hingga terlelap, maka ia wajib berwudhu.”[xvii]

Tapi yang shahih, hadits ini mauquf pada Abu Hurairah. Mereka juga berargumen dengan hadits Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhuma:

وجب الوضوء علي كل نائمن إلا من خفق رأسه خفقة أو خفقتين

Wudhu diwajibkan atas setiap orang yang tidur, kecuali orang yang tetunduk-tunduk kepalanya, sekali atau dua kali saja.”[xviii]

Keempat, tidak batal wudhunya, kecuali jika ia tidur sambil bertelekan pada sesuatu atau bersandar. Adapun orang yang tidur dalam rupa orang yang shalat, seperti ruku, sujud, berdiri, atau duduk, maka tidak batal wudhunya, baik itu dalam shalat maupun di luar shalat. Ini adalah pendapat Hammad, ats-Tsauri, Abu Hanifah dan rekan-rekannya, Dawud dan asy-Syafi’i. Hujjah mereka adalah:

a. Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ليس علي من نام جالساً وضوء حتي يضع جنبه

Tidak ada kewajiban berwudhu atas orang yang tidur sambil duduk hingga ia meletakkan badannya.”[xix] Akan tetapi haditsnya dhaif.

b. Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

إذا نام  العبد في سجوده باهي الله تعالي به الملائكة يقول: انظروا إلي عبدي روحه عندي وجسده في طاعتي

Apabila seorang hamba tidur dalam sujudnya, maka Allah Subhânahu wa Ta’âlamembanggakannya di hadapan malaikat seraya mengatakan, ‘Lihatlah hamba-Ku itu! Ruhnya ada dalam genggaman-Ku, sedangkan jasadnya dalam ketaatan pada-Ku’.”[xx]

Lalu mereka menganalogikan seluruh bentuk orang yang shalat pada sujud. Penulis berkata: Hadits ini dhaif sanadnya. Al-Baihaqi berkata, “Kemudian tidak disebutkan dalam hadits tersebut bahwa ia tidak keluar dari shalatnya, tapi maksudnya –jika haditsnya shahih- adalah pujian bagi hamba yang terus mengerjakan shalat hingga tertidur.”

Kelima, tidak membatalkan wudhu, kecuali tidur seperti orang yang ruku dan sujud. An-Nawawi menisbatkannya kepada perkataan Ahmad. Mungkin alasannya adalah bahwa tidur dalam posisi ruku dan sujud diduga kuat dapat membatalkan wudhu (karena angin mudah keluar dari dubur).

Keenam, tidak membatalkan wudhu, kecuali tidur seperti orang yang sujud. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Ahmad.

Ketujuh, tidur pada saat sedang shalat tidak membatalkan wudhu, sedangkan tidur di luar shalat membatalkan wudhu. Ini diriwayatkan dari Abu Hanifah, berdasarkan hadits yang telah lalu pada pendapat keempat.

Kedelapan, tidak membatalkan wudhu, jika ia tidur sambil duduk dengan mantap pada tempat duduknya, baik itu di dalam shalat maupun di luar shalat, baik lama maupun sebentar.

Ini adalah madzhab asy-Syafi’i, karena tidur menurutnya bukanlah hadats itu sendiri, tetapi tidur adalah penyebab terbesar keluarnya hadats. Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Karena orang yang tidur sambil duduk bertumpu pada lantai, nyaris segala sesuatu yang keluar dari dirinya pasti disadarinya.” Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh asy-Syaukani. Penulis berkata: Mereka berpendapat dengan pendapat ini membawakan hadits Anas tentang kisah tidurnya para sahabat bahwa mereka tidur sambil duduk. Al-Hafizh telah membantahnya dalam al-Fath (1/251), “Namun dalam Musnad al-Bazzar dengan sanad yang shahih tentang hadits ini, ‘Maka mereka menyandarkan tubuh mereka, di antara mereka ada yang tertidur. Kemudian mereka bangkit untuk mengerjakan shalat’.”[xxi]

Pendapat yang rajih: Tidur yang lelap hingga tiada kesadaran lagi dan ia tidak mendengar suara, jatuhnya sesuatu dari tangannya, keluar air liurnya atau yang lainnya, maka itu membatalkan wudhu karena diduga kuat menyebabkan hadats. Tidak ada bedanya dalam masalah ini, baik tidur dalam keadaan berdiri, duduk, bersandar, ruku, maupun sujud. Jika pada pendapat pertama yang mereka maksud dengan tidur adalah tidur yang seperti ini, maka kami sependapat dengan mereka. Jika tidak, maka tidur sebentar, yaitu mengantuk di mana seorang masih merasakan sesuatu, seperti yang disebutkan di atas, maka hal itu tidaklah membatalkan wudhu dalam semua kondisi tidur; berdasarkan hadits tentang tidurnya para sahabat sehingga kepala mereka tertunduk, dan hadits Ibnu Abbas tentang shalatnya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, semua dalil yang ada dalam masalah ini dapat dikompromikan. Alhamdulillah.

Faidah: Karena tidur adalah penyebab utama keluarnya hadats yang mewajibkan wudhu, maka perkara batal atau tidaknya wudhu diserahkan kepada yang bersangkutan sesuai dengan kondisi tidurnya, dan yang paling dominan menurut dugaannya. Jika ia ragu apakah tidurnya membatalkan wudhu atau tidak, maka secara zhahir wudhunya tidak batal, karena thaharah ditetapkan berdasarkan keyakinan dan tidak hilang karena keraguan. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Fatawa (XXI/230).

4.       Hilangnya Akal disebabkan Mabuk, Pingsan atau Gila

Hal ini membatalkan wudhu menurut ijma’[xxii], karena hilangnya akal pada perkara-perkara ini lebih berat daripada tidur.

5.       Menyentuh Kemaluan Tanpa Alas, Baik dengan Syahwat Maupun Tanpa Syahwat

Mengenai batalnya wudhu karena memegang kemaluan, terdapat empat pendapat ulama. Dua pendapat dengan tarjih dan dua pendapat dengan jalan kompromi:

Pertama, menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Malik. Ini juga pendapat yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat[xxiii]. Mereka berargumen dengan dalil-dalil berikut:

a. Hadits Thalaq bin Ali, seseorang bertanya kepada Nabi tentang orang yang memegang kemaluannya setelah berwudhu. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هل هو إلا بضعة منك

Bukankah kemaluan itu bagian dari tubuhmu?”[xxiv]

Dalam redaksi lain bahwa orang yang bertanya tersebut mengatakan, “Ketika aku sedang shalat, tiba-tiba aku menggaruk paha dan tanganku menyentuh kemaluanku.” Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انما هو منك

Sesungguhnya itu adalah bagian dari tubuhmu.”[xxv]

b. Menurut mereka, tidak ada perselisihan ketika kemaluan bersentuhan dengan paha, tidak mewajibkan wudhu. Sementara tidak ada perbedaan antara tangan dan paha. Kemudian mereka mengomentari hadits Basrah[xxvi] –akan segera disebutkan- yang berisikan perintah berwudhu karena memegang kemaluan.

Kedua, menyentuh kemaluan membatalkan wudhu secara mutlak. Ini adalah pendapat Malik –dalam riwayat yang paling masyhur darinya- asy-Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm, dan riwayat dari mayoritas sahabat.[xxvii] Hujjah mereka adalah:

a. Hadits Basrah binti Shafwan, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من مس ذكره فليتوضا

Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.”[xxviii]

b. Hadits Ummu Habibah radhiyallâhu ‘anhâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من مس فرجه فليتوضا

Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.”[xxix]

Diriwayatkan juga hadits yang semakna dengan keduanya dari Abu hurairah, Arwa binti Unais, Aisyah, Jabir, Zaid bin Khalid, dan Abdullah bin ‘Amru.

Menurut mereka, hadits dari Bashrah lebih rajih daripada hadits Thalaq, berdasarkan perkara-perkara berikut ini:

  1. Hadits Thalaq cacat, dan telah dinyatakan kecacatannya oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim. Bahkan Imam an-Nawawi menyatakan dalam al-Majmu’ (2/42) bahwa para penghafal hadits telah sepakat mengenai kedhaifan hadits ini.
  2. Apabila hadits itu shahih, maka tentunya hadits hadits Abu Hurairah –yang semakna dengan hadits Basrah- harus lebih didahulukan karena Thalaq tiba di Madinah ketika pembangunan Masjid Nabawi, sedangkan Abu Hurairah masuk Islam saat peperangan Khaibar, yaitu enam tahun setelah itu. Jadi, hadits Abu Hurairah ini menghapuskan hadits Thalaq.[xxx]
  3. Hadits Thalaq sesuai dengan hukum asal, dan hadits Basrah memindahkan dari hukum asal. Hadits yang memindahkan dari hukum asal harus lebih didahulukan, karena hukum-hukum syari’at sifatnya memindahkan dari perkara-perkara asal.
  4. Para perawi yang meriwayatkan batalnya wudhu karena memegang kemaluan lebih banyak dan haditsnya lebih masyhur.
  5. Ini merupakan pendapat mayoritas sahabat.
  6. Hadits Thalaq itu bisa diartikan bahwa ia menggaruk pahanya dan terkena kemaluannya yang beralaskan kain. Hal ini ditunjukkan dari riwayatnya yang menyebutkan bahwa pada saat itu ia sedang shalat.

Ketiga, membatalkan wudhu, jika menyentuh kemaluan dengan syahwat. Dan tidak membaalkannya, jika menyentuhnya dengan tanpa syahwat. Ini salah satu riwayat dari Malik, dan pendapat yang dipilih Syaikh al-Albani.[xxxi] Mereka membawa hadits Basrah kepada makna: jika memegangnya dengan syahwat, dan membawa hadits Thalaq kepada makna: jika memegangnya dengan tanpa syahwat. Menurut mereka, “Hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kemaluan itu bagian dari tubuhmu.” Jika seseorang menyentuh kemaluan dengan tanpa syahwat, maka hukumnya sama dengan menyentuh bagian tubuh lainnya.

Keempat, berwudhu karena memegang kemaluan adalah perkara mustahab secara mutlak dan bukan wajib. Ini adalah pendapat Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya, dan pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sepertinya, inilah pendapat yang dipilih Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Namun, dia menganjurkan berwudhu bila menyentuhnya dengan tanpa syahwat, dan menegaskan kewajibannya bila menyentuhnya dengan syahwat untuk kehati-hatian[xxxii]. Mereka membawa hadits Basrah kepada makna istihbab, dan hadits Thalaq kepada makna pertanyaan tersebut yaitu tentang wajib tidaknya berwudhu.

Dalil-dalil yang dijadikan argumen oleh dua pendapat terakhir yang menempuh cara penggabungan adalah sebagai berikut:

a. Bahwa klaim pengahapusan hadits Thalaq karena ia masuk Islam lebih dahulu daripada Basrah perlu ditinjau kembali. Karena ini bukanlah dalil yang menunjukkan penghapusan, menurut para ahli tahqiq dari kalangan ulama ushul. Karena ada kemungkinan orang yang lebih dahulu masuk Islam mendapatkan hadits dari sahabat yang lainnya.

b. Bahwa hadits Thalaq memiliki ‘illat yang tidak dapat dihilangkan, yaitu bahwa kemaluan adalah bagian dari tubuh manusia. Jika hukum itu dikaitkan dengan ‘illatnya, maka tidak mungkin ‘illat-mua dihilangkan, sehingga otomatis hukumnya tidak hilang. Dalam hal ini, tidak mungkin terjadi penghapusan hukum.

c. Kemudian kita tidak boleh memilih cara penghapusan hukum, kecuali jika tidak mungkin lagi untuk dikompromikan. Apalagi penghapusan hukum tersebut tidak sah, sebagaimana telah dijelaskan.

Penulis berkata: Pendapat terakhir adalah yang paling kuat, jika hadits Thalaq bin Ali shahih. Namun hadits ini tidak dapat diterima secara bulat, bahkan pendapat yang mendhaifkannya lebih diterima. Maka tinggallah pendapat yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan dapat membatalkan wudhu secara mutlak, baik itu dengan syahwat maupun dengan tanpa syahwat. Karena sesungguhnya syahwat itu tidak ada batasannya, dan tidak ada dalil yang menunjukkan perincian hal tersebut. Wallahu a’lam.

Beberapa hal yang bertalian dengan penjelasan yang telah lalu:

1). Apabila seorang wanita menyentuh kemaluannya, maka ia harus berwudhu juga. Dasarnya adalah hadits ‘Amru bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من مس ذكره فليتوضا وايما امراة مست فرجها فليتوضا

Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu. Dan barangsiapa dari kaum wanita yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu.”[xxxiii]

Hal ini dikuatkan lagi oleh perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Jika seorang wanita menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu.”[xxxiv] Pada asalnya wanita disamakan dengan pria dalam masalah hukum. Ini adalah madzhab asy-Syafi’i dan Ahmad, berbeda dengan madzhab Abu Hanifah dan Malik.

2). Menyentuh kemaluan orang lain (menurut penulis tidak membatalkan wudhu, -ed). Jika seorang suami menyentuh kemaluan istri atau sebaliknya, jika istri menyentuh kemaluan suaminya, maka tidak ada dalil yang menyatakan batalnya wudhu salah satu dari keduanya. Kecuali jika ia mengeluarkan madzi atau mani, maka batallah wudhunya karenanya, bukan karena menyentuhnya. Asy-Syafi’i dan Malik berpendapat wajib berwudhu.[xxxv] Hal ini didasarkan madzhab mereka yang menyatakan wajib berwudhu jika menyentuh wanita. Namun akan segera disebutkan bahwa pendapat yang rajih berbeda dengan pendapat keduanya.

Demikian juga seorang wanita atau pria yang menyentuh kemaluan anak kecil atau selainnya, maka hal itu tidaklah membatalkan wudhu. Ini juga merupakan pendapat Malik, az-Zuhri dan al-Auza’i.[xxxvi]

3). Dalam masalah menyentuh kemaluan ini, disamakan orang yang keliru (tidak sengaja) dan orang yang sengaja.[xxxvii] Ini adalah madzhab al-Auza’i,asy-Syafi’i, Ishaq dan Ahmad.

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang membatalkan wudhu hanyalah menyentuhnya dengan sengaja. Di antaranya adalah Makhul, Jabir bin Zaid, Sa’id bin Jubair, dan ini merupakan madzhab Ibnu Hazm. Mereka berdalil dengan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla:

وليس عليكم جناح فيما أخطأتم به ولكن ما تعمدت قلوبكم

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.” (Al-Ahzab: 5)

Namun, pendapat yang paling jelas adalah pendapat pertama. Ibnu al-Mundzir berkata: “Bagi siapa yang menganggap sama memegang kemaluan dengan hadats yang mewajibkan wudhu, seharusnya ia menyamakan juga ketidaksengajaan dan kesengajaan, seperti halnya hadats-hadats lain.”

Penulis berkata: kekhilafan atau lupa –yang berkaitan dengan syarat dan rukun- hanyalah menghapuskan dosa, bukan hukumnya. Wallahu a’lam.

4). Menyentuh kemaluan beralaskan pakaian tidak membatalkan wudhu. Karena hal itu tidaklah disebut menyentuh, seperti telah dijelaskan. Hal ini didukung oleh hadits marfu’ dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu:

إذا أفضي أحدكم بيده إلي ذكره ليس بينهما شيء فليتوضا

Jika seseorang memegang kemaluannya dengan tangannya tanpa pembatas, maka hendaklah ia berwudhu.”[xxxviii]

5). Menyentuh dubur tidak membatalkan wudhu.[xxxix] Karena dubur bukan kemaluan, dan tidak bisa disamakan dengan kemaluan. Tidak ada ‘illat yang menyamakan antara menyentuh dubur dengan kemaluan. Jika ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah tempat keluarnya najis, maka jawabnya adalah: Bukan hal itu yang menjadi ‘illat batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan. Kemudian karena menyentuh najis tidak membatalkan wudhu; maka bagaimana pula halnya dengan menyentuh tempat keluarnya?! Ini adalah perkataan Malik, ats-Tsauri dan ashabur Ra’yi, berbeda dengan asy-Syafi’i.

6.       Di antara yang Dapat Membatalkan Wudhu adalah Memakan Daging Unta

Diwajibkan  bagi siapa saja yang memakan daging unta yang mentah, dimasak atau dibakar, untuk berwudhu. Dasarnya adalah hadits Jabir bin Samurah radhiyallâhu ‘anhu, seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

ااتوضا من لحوم الغنم؟

“Apakah aku harus berwudhu karena memakan daging kambing?”

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab:

إن شئت توضا وإن شئت فلا توضا

Jika engkau mau, silakan berwudhu dan jika tidak, maka tidak perlu berwudhu.”

Ia bertanya lagi:

ااتوضا من لحوم الابل؟

“Apakah aku harus berwudhu karena memakan daging unta?”

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab:

نعم توضا من لحوم الابل

Ya, berwudhulah karena memakan daging unta.”[xl]

Diriwayatkan dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 توضؤا من لحوم الابل ولا تتوضؤا من لحوم الغنم

Berwudhulah kalian karena memakan daging unta, dan tidak perlu berwudhu karena makan daging kambing.”[xli]

Ini adalah pendapat Ahmad, Ishaq, Abu Khaitsamah, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Hazm dan salah satu dari dua pendapat asy-Syafi’i, serta inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Jabir bin Samurah. Sementara jumhur ulama, seperti Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, ats-Tsauri, dan sebagian ulama salaf berpendapat tidak wajibnya berwudhu karena memakan daging unta, tetapi hanya dianjurkan.[xlii] Dasarnya adalah hadits Jabir radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Perintah terakhir dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam  adalah tidak perlu berwudhu karena memakan makanan yang dimasak dengan api.”[xliii] Mereka mengatakan, pernyataan “makanan yang dimasak dengan api” mencakup daging unta juga. Dengan demikian terbukti bahwa ketentuan sebelumnya sudah dihapuskan.

Perkataan ini bisa dijawab dengan dua perkara berikut:[xliv]

Pertama, hadits Jabir berlaku umum, dan hadits yang menyebutkan batalnya wudhu karena memakan daging unta adalah hadits khusus. Dalil umum harus dibawa kepada dalil khusus, yaitu dikecualikan dari yang umum hal-hal yang memiliki dalil pengkhususannya. Dan tidak boleh menghapuskan suatu hukum, jika masih mungkin untuk digabungkan.

Kedua, perintah untuk berwudhu karena memakan daging unta adalah perkara khusus, baik dagingna dimasak dengan api maupun tidak. Bukan karena menyentuhnya dengan api –yaitu memasaknya- menghilangkan kewajiban untuk berwudhu. Karena sesungguhnya hal itu (memakan daging unta) keluar dari riwayat-riwayat yang menyebutkan wajibnya berwudhu karena memakan daging yang dimasak dengan api yang kemudian ketentuan wudhu tersebut dihapuskan.

Sebagian mengatakan, yang dimaksud dengan wudhu dalam hadits tersebut adalah mencuci tangan. Ini adalah perkataan yang batil[xlv], karenaistilah wudhu dalam sabda-sabda Nabi  adalah wudhu untuk shalat. Kemudian dalam riwayat Muslim dari hadits Jabir bin Samurah bahwa perintah untuk berwudhu karena memakan daging unta ini disertai dengan perintah shalat di kandang unta, dengan membedakan antara shalat di kandang unta dengan shalat di kandang kambing. Maka yang dipahami secara pasti dari hadits tersebut adalah wudhu untuk shalat.

Pendapat yang kuat adalah wajib berwudhu karena memakan daging unta dalam kondisi apapun. Karena itu, Imam an-Nawawi rahimahullâh mengatakan dalam asy-Syarh Muslim (1/328 cet. Qal’aji), “Ini adalah madzhab yang paling kuat dalilnya, walaupun jumhur menyelisihinya.”

Catatan:

Pertama, Imam an-Nawawi rahimahullâh menisbatkan dalam Syarh Muslim (1/328), pendapat mengenai tidak batalnya wudhu karena makan daging unta kepada empat Khulafaur Rasyidin. Pernyataan ini tidak memiliki dalil dan tidak diketahui sanad yang sampai kepada mereka. Kesalahan klaim ini telah diingatkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullâh, “Adaun orang yan menukil dari Khulafaur Rasyidin atau jumhur sahabat, mereka tidak berwudhu karena makan daging unta, maka ia melakukan kesalahan penukilan. Ia menduga demikian karena dinukil dari mereka, tidak berwudhu karena memakan makanan yang dimasak dengan api.”[xlvi]

Kedua, kisah yang masyhur yang tidak ada asalnya.[xlvii] Telah masyhur di kalangan orang-orang awam suatu kisah yang mereka ulang-ulang jika mereka mendengar sebagina penuntut ilmu yang mengingatkan tentang wajibnya berwudhu karena makan daging unta. Yaitu, Nabi tengah berada di antara beberapa orang sahabat, tiba-tiba beliau mencium nbau angin yang keluar dari salah seorang dari mereka. Orang itu malu untuk keluar dari tengah orang-orang, karena ia baru saja memakan daging unta. Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Barangsiapa yang memakan daging unta, hendaklah ia berwudhu.” Maka bangkitlah beberapa orang yang telah memakan daging unta untuk berwudhu. Kisah ini dhaif dari sisi sanadnya, dan munkar dari sisi matannya.

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim (edisi Indonesia, penerj. Abu Ihsan al-Atsary, terbitan Pustaka at-Tazkia, cet. Keempat) hal. 169-184

Download filenya di sini


[i] Al-Ijma’ (hal. 17) dan al-Ausath (1/147), Ibnu al-Mundzir.

[ii] Al-Muhalla (1/232), Bidayah al-Mujtahid (1/40) dan al-Ausath (1/137)

[iii] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (135) dan Muslim (225) tanpa perkataan dari Abu Hurairah.

[iv] Bidayah al-Mujtahid (1/40) dan al-Umm (1/17)

[v] Al-Muhalla (1/232) dan al-Mabsuth (1/83)

[vi] Al-Ifshah (1/78) dan al-Ijma’ (hal. 31)

[vii] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (269) dan Muslim (303)

[viii] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh al-Baihaqi (1/115)

[ix] Lihat pendapat-pendapat tersebut dalam al-Muhalla (1/222-231), al-Istidzkar (1/191), al-Ausath (1/142), Fath al-Bari (1/376), asy-Syarh Muslim, an-Nawawi (2/370-Qal’aji) dan Nail al-Authar (1/241)

[x] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (6192) dan Muslim (376) dan lafal ini darinya.

[xi] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (376) dan at-Tirmidzi (78)

[xii] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (117) dan Muslim (763), lafal ini darinya.

[xiii] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (117), Muslim (184) dan Ahmad (1/341)

[xiv] Hasan, diriwayatkan oleh an-Nasa’i (1/32), at-Tirmidzi (3535), Ibnu Majah (478) dan lihat al-Irwa’ (104)

[xv] Dhaif, diriwayatkan oleh Abu Dawud (203), Ibnu Majah (477) dan selain keduanya. Hadits ini dhaif menurut pendapat yang paling kuat, namun Syaikh al-Albani menghasankannya.

[xvi] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (212) dan Muslim (222)

[xvii] Shahih secara mauquf, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (1/158) dan Abdurrazzaq (481) secara mauquf dengan sanad shahih. Disebutkan juga secara marfu’, tetapi ad-Daruquthni  tidak menshahihkannya dalam al-‘Ilal (8/328). Lihat adh-Dhaifah (954)

[xviii] Dhaif secara mauquf dan marfu’, diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (479), al-Baihaqi (1/1189), dan lihat al-Ilal, ad-Daruquthni (8/310)

[xix] Munkar, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil  (VI/2459), ad-Daruquthni (1/160) dan ath-Thabaroni dalam al-Ausath.

[xx] Dhaif, lihat Silsilah adh-Dhaifah (953)

[xxi] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh al-Bazzar dan selainnya. Diriwayatkan juga oleh  Abu Dawud dalam Masa’il Ahmad (hal. 318) dan sanadnya shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim. Lihat Tamam al-Minnah (hal.100).

[xxii] Al-Ausath, Ibnu al-Mundzir (1/155)

[xxiii] Al-Bada’i (1/30), Syarh Fath al-Qodir (1/37), al-Mudawwanah (1/8-9) dan al-Istidzkar (1/308 dan halaman setelahnya)

[xxiv] Sanadnya lunak, diriwayatkan oleh Abu Dawud (182), at-Tirmidzi (85) dan an-Nasa’i (1/101). Keshahihan hadits ini diperselisihkan. Secara zhahir, haditsnya dhaif karena terdapat Qais bin Thalaq. Namun, Syaikh al-Albani  menshahihkannya. Sesungguhnya setiap pendapat memeiliki alasan tertentu, dan kami tidak membatasi masalah yang luas.

[xxv] Sanadnya dhaif, diriwayatkan oleh Abu Dawud (183), Ahmad (VI/23), al-Baihaqi (1/135) dan selain mereka.

[xxvi] Al-Ausath (1/203) dan lihat Syarh Ma’ani al-Atsar (1/71-79)

[xxvii] al-Istidzkar (1/308), al-Mudawwanah (1/8-9), al-Umm (1/19), al-Majmu’ (1/24), al-Mughni (1/178), al-Inshaf (1/202) dan al-Muhalla (1/235).

[xxviii] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (181), an-Nasa’i (1/100) dan Ibnu Hibban (1112)

[xxix] Shahih karena banyak penguatnya, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (481), Abu Ya’la (7144), al-Baihaqi (1/130), da lihat al-Irwa’ (117)

[xxx] Di antara yang mengatakan haditsnya mansukh (dihapus) adalah ath-Thabarani dalam al-Kabir (VIII/402), Ibnu Hibban (III/405 –Ihsan), Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (1/239), al-Hazimi dalam al-I’tibar (77), Ibnu al-‘Arabi dalam al-‘Aridhah (1/117), dan al-Baihaqi dalam al-Khilafiyat (II/289)

[xxxi] Lihat referensi dari madzhab Malikiyah pada buku-buku yang telah disebutkan di atas, dan Tamam al-Minnah (hal.103). dalam buku ini beliau menisbatkan pendapat ini sebagai pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah, dengan mengatakan, “sepanjang ingatanku.” Penulis berkata: Tetapi pendapat Ibnu Taimiyah adalah pendapat yang keempat, seperti yang akan segera diketahui. Maha Agung Allah yang tidak pernah lupa.

[xxxii] Majmu’ al-Fatawa (XXI/241) dan asy-Syarh al-Mumthi’ (1/233)

[xxxiii] Shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Ahmad (2/223) dan al-Baihaqi (1/132)

[xxxiv] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh asy-Syafi’i  dalam Musnad-nya (90), al-Baihaqi (1/133) dan al-Hakim menshahihkan kemauqufannya (1/138)

[xxxv] Mawahib al-Jalil (1/296) dan al-Umm (1/20)

[xxxvi] Al-Kafi, Ibnu Abdil Barr (1/149) dan al-Ausath (1/210)

[xxxvii] Al-Muhalla (1/241) dan al-Ausath (1/205-207)

[xxxviii] Hasan, diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (1/147) dan al-Baihaqi (1/133). Lihat ash-Shahihah (1235)

[xxxix] Al-Muhalla (1/238) dan al-Ausath (1/212)

[xl] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (360) dan Ibnu Majah (495)

[xli] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (184), at-Tirmidzi (81) dan Ibnu Majah (494)

[xlii] Al-Mabsuth (1/80), Mawahib al-Jalil  (1/302), al-Majmu’ (1/57), al-Mughni (1/138), al-Muhalla (1/241) dan al-Ausath (1/138)

[xliii] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (192),  at-Tirmidzi (8), dan an-Nasa’i  (1/108)

[xliv] al-Muhalla (1/244) dan al-Mumthi’ (1/249)

[xlv] Majmu’ al-Fatawa (XXI/260 dan halaman setelahnya)

[xlvi] Al-Qowa’id an-Nuraniyah (hal. 9) dikutip dari Tamam al-Minnah (hal. 105)

[xlvii] Adh-Dhaifah, Syaikh al-Albani (1132) dan Qashash la Tsabat, Masyhur Hasan (hal. 59)

Tag:, , , , , ,

Tentang Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

8 responses to “Perkara-perkara yang Membatalkan Wudhu”

  1. baihaqi says :

    Apakah bersentuhan dengan lawan jenis istri atau suami membatalkan wudlu..

  2. macwukka says :

    apakah hukumx makruh bila makan makanan yg sejenis sarapan atau yg lainx?

    insya Allah tidak apa-apa, admin.

  3. fitri says :

    relevansinya di jaman sekarang : bagaimana dengan laki-laki yang banyak madzinya, sementara dia bekerja. sedangkan laki-laki kan tdk pakai softex/pantyliner seperti halnya perempuan. Kalau laki2 harus mencuci kemaluan dan pakaiannya, berarti madzi najis ya? kalau laki2 tsb bekerja, berarti dia harus mencuci najisnya di kantor (baik celana dalam maupun celana luar)….. Mohon jawabannya. tks sebelumnya

    Bismillah. Itu bisa disiasati dengan mengganti celana dalam, atau melapisi celana dalam dengan tisu, sehingga air madzi tidak tembus ke celana dalam. Adapun sampai mencuci celana luar, ana rasa hal itu tidak sampai terjadi, mengingat sifat air madzi yang tidak secair air kencing dan jumlahnya pun tidak banyak. Wallahu a’lam. Yassarakumullaah fii umuurikum

  4. Ayu says :

    Assalamu’alaikum. Anna mau tny, kalau dubur terasa hangat (hanya sekilas) sprti ad sesuatu yg keluar dr dubur tp saya tdk merasakan adanya suatu dorongan dr dlm dubur utk keluar. sehingga itu membuat saya ragu. Jd apakah hal tsb membatalkan wudhu? mengingat hal itu terjadi sekilas saja & tdk terasa ad sesuatu yg keluar dr dubur.Hal ini meresahkan saya krn srng saya alami. terima kasih sblm’y.

  5. riandin says :

    apakah wudhu kita batal kalau setelah wudhu tanpa sengaja menyentuh suami/istri

    tidak, bahkan dengan sengaja sekalipun. Asalkan tidak sampai membangkitkan syahwat menurut pendapat yg lebih hati-hati. Wallahu A’lam

Trackbacks / Pingbacks

  1. Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu « Belajar Bareng Jili - Januari 18, 2013

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: