Rukun-rukun Wudhu (Bagian 2)

Rukun-rukun Wudhu (Bagian 2)
Oleh: Syaikh ABu Malik Kamal as-Sayid Salim
hafidzahullah

4. Mengusap kedua telinga(à)

Wajib mengusap kedua telinga bersamaan dengan mengusap kepala, karena keduanya adalah bagian dari kepala. Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

الأذنان من الرأس

Kedua telinga adalah bagian dari kepala.”[1]

Hadits ini dhaif secara marfu’, menurut pendapat yang rajih. Akan tetapi ini (mengusap kedua telinga) shahih dari segolongan salaf, di antaranya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.[2]

Hal ini dikuatkan oleh hadits-hadits yang menyebutkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala dan kedua telinganya satu kali[3]. Hadits-hadits seperti ini cukup banyak, dari Ali, Ibnu Abbas, ar-Rubayyi’ dan Utsman. Ash-Shan’ani berkata, “Mereka telah sepakat bahwa mengusap telinga hanya sekali bersamaan dengan mengusap kepala. Yaitu dengan satu usapan, sebagaimana dzahir dari kata marrah (sekali). Sebab jika diambil air yang baru untuk mengusap telinga, maka tidak dipercaya bahwa ‘beliau mengusap kepalanya dan kedua telinganya sekali.’ Jika pemaknaan yang dimaksud adalah bahwa beliau tidak mengusap keduanya secara berulang-ulang, tapi beliau mengambil air yang baru untuk keduanya, maka ini pengambilan makna yang sangat jauh.”[4]

Penulis berkata: Jika ia mengambil air yang baru untuk mengusap telinganya, maka hal itu tidaklah mengapa. Karena ada riwayat yang sah dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.[5]

Catatan: Tidak disyariatkan mengusap leher saat berwudhu, karena tidak ada dalil yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[6] tentang hal itu.

5. Mencuci kedua kaki hingga mata kaki[7]

Mencuci kedua kaki adalah wajib, menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah. Dasarnya adalah firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:

وَأَرۡجُلَڪُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِ‌ۚ

Dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6)

Dengan me-nashob-kan kata arjulakum, yang di-athaf(sambung)kan pada anggota tubuh yang dibasuh.

Semua perawi yang meriwayatkan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa beliau mencuci kedua kaki hingga mata kaki. Di antaranya adalah riwayat dari Utsman radhiyallahu ‘anhu, yang disebutkan di dalamnya, “….Kemudian beliau mencuci kaki tiga kali hingga mata kaki.”[8]

Kedua mata kaki termasuk bagian yang ikut dicuci; karena batasan jika termasuk jenis yang dibatasi, maka ia termasuk dalam kategorinya –seperti telah dijelaskan di atas- Dalilnya adalah hadits Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertinggal dari kami dalam sebuah perjalanan, lalu kami pun menyusulnya sedangkan waktu shalat Ashar telah tiba. Kami lalu berwudhu dan mengusap kaki kami, maka beliau berseru dengan suara keras, “Celakalah bagi tumit yang dimakan api neraka!” beliau mengulanginya hingga tiga kali.”[9]

Adapun  riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kaki pada saat berwudhu, maka yang dimaksud ialah “mengusap dua sepatu” (mash al-khuffain). Ini adalah suatu keringanan (rukhshah), seperti akan dijelaskan nanti.

Kaum Rafidhah dan mayoritas Syi’ah menyelisihi masalah ini. Menurut mereka, wajib mengusap kedua kaki, bukan mencucinya. Namun yang shahih untuk diamalkan adalah pendapat yang pertama. Abdurrahman bin Abu Laila berkata, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersepakat tentang wajibnya mencuci kedua kaki (bukan mengusapnya).”[10]

  • Menyela-nyela jari-jari kaki dan tangan.

Jari-jari dan apa yang ada di antara jari-jari tersebut (yakni sela-sela jari) merupakan bagian dari yang wajib dicuci, maka wajib mencucinya. Jika mencuci jari-jari tidak bisa sempurna kecuali dengan menyela-nyelanya, maka wajib menyela-nyelanya. Jika tidak (yakni sudah sempurna tanpa menyela-nyelanya), maka hukumnya mustahab atau sunnah, seperti yang akan dijelaskan nanti (insya Allah, -edt.).

6. Tertib*

Yaitu membersihkan anggota wudhu satu demi satu secara berurutan seperti diperintahkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam ayat-Nya. Ia mencuci wajah, kedua tangan, mengusap kepala, dan mencuci kaki. Tertib ini hukumnya wajib, menurut salah satu dari dua pendapat ulama yang paling shahih. Ini adalah madzhab Syafi’iyah, Hanbaliyah, Abu Tsaur, Abu Ubaid dan Zhahiriyah.[11]

Mereka berdalil tentang wajibnya tertib dengan dalil-dalil sebagai berikut:

a. Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat-Nya tentang  kewajiban berwudhu secara berurutan, serta memisahkan kedua kaki dari kedua tangan –yang wajib dicuci- dengan kepala yang wajib disapu. Bangsa Arab tidaklah memisahkan sesuatu dari padanannya (dalam hal ini kedua tangan dari kedua kaki) kecuali karena suatu faidah, yaitu wajib tertib.[12]

b. Semua perawi yang meriwayatkan tentang tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkannya secara tertib[13]. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menjelaskan perintah dalam Kitabullah tentang wudhu.

c. Berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berwudhu dengan tertib, kemudian berkata:

هذا وضوء لا يقبل الله الصلاة إلا به

Inilah wudhu, dan Allah tidak akan menerima shalat tanpanya.”[14] Akan tetapi hadits ini dhaif.

Imam Malik, ats-Tsauri, dan Ashabur Ra’yi berpendapat[15] bahwa tertib adalah perkara mustahab (sunnah, anjuran), bukan wajib. Hujjah mereka adalah:

a. Bahwa huruf ‘athaf pada ayat tersebut tidak menunjukkan tertib. Penjelasan kami sebelumnya merupakan bantahan atas hujjah ini.

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Ali dan Ibnu Mas’ud, mereka berkata, “Aku tidak peduli dari anggota tubuh manakah aku mulai wudhuku.”[16] Jawaban atas hujjah ini adalah seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad, seperti disebutkan dalam Masa’il putranya, Abdullah (27-28): “Maksudnya, ialah mendahulukan yang kiri dari yang kanan. Tidaklah mengapa jika ia memulai dari yang kiri sebelum yang kanan, karena penyebutannya dalam al-Qur’an adalah sama. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَڪُمۡ

maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan [basuh] kakimu. (Al-Maidah: 6)

Jadi, tidak mengapa mendahulukan yang kiri dari yang kanan.”

Penulis berkata: Meskipun demikian, yang lebih utama adalah memulainya dari sebelah kanan karena mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

7. Al-Muwalat  (berturut-turut)

Yaitu berturut-turut dalam membasuh anggota-anggota wudhu. Artinya, sebelum satu anggota wudhu mengering, ia membasuh anggota wudhu lainnya dalam waktu yang normal.

Imam asy-Syafi’i dalam pendapat lamanya dan Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur, berpendapat tentang wajibnya muwalat ini. Demikian pula Imam Malik. Namun, beliau membedakan antara orang yang sengaja memisah-misahkan (menyelingi dengan suatu pekerjaan sehingga tidak berturut-turut) dengan orang yang berudzur. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[17]

Dalil yang menunjukkan wajibnya muwalat adalah hadits Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berwudhu dan meninggalkan bagian sebesar kuku pada kakinya yang belum tercuci. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, maka beliau bersabda:

إرجع فاحسن وضوءك

Kembalilah dan perbaikilah wudhumu!” Lalu ia kembali berwudhu, dan kemudian shalat.[18]

Dalam suatu riwayat dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nabi melihat seseorang sedang shalat, sementara di bagian atas kakinya terdapat bagian sebesar dirham yang belum terkena air, maka Nabi memerintahkannya untuk mengulangi wudhunya dan shalatnya.”[19]

Abu Hanifah dan asy-Syafi’i dalam qaul jadid (pendapat baru)nya berpendapat bahwa muwalat itu tidaklah wajib. Ini adalah sebuah riwayat dari Ahmad, dan madzhaab Ibnu Hazm[20]. Mereka beralasan:

  1. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala mewajibkan mencuci anggota wudhu. Barangsiapa telah melakukannya, berarti ia telah melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, baik dengan memisah-misahkannya maupun secara berturut-turut.
  2. Berdasarkan riwayat Nafi’, “Ibnu Umar berwudhu di pasar; ia mencuci wajahnya, kedua tangannya dan mengusap kepalanya. Lalu ia dipanggil untuk menyaksikan jenazah, maka ia memasuki masjid, lalu mengusap kedua sepatunya dan mengerjakan shalat.”[21]
  3. Mereka mendhaifkan hadits yang memerintahkan untuk mengulangi wudhu dan shalat.
  4. Mereka menakwilkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kembalilah dan perbaikilah wudhumu!” Maksudnya adalah menyempurnakan dengan mencuci bagian kaki yang tidak terkena air.

Penulis berkata: Kata pemutus dalam perselisihan ini adalah hadits Khalid bin Ma’dan dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang di dalamnya berisikan perintah untuk mengulangi wudhu dan shalat. Barangsiapa yang menshahihkannya, maka ia mengatakan hal itu wajib. Jika tidak (menshahihkannya), maka dalil-dalil lainnya memiliki banyak kemungkinan. Namun yang nampak jelas bagi penulis adalah wajibnya muwalat berdasarkan hadits ini. Karena wudhu adalah ibadah yang satu paket bukan terpisah-pisah. Adapun atsar dari Ibnu Umar, maka zhahirnya ia berada dalam keadaan udzur dan dalam kondisi darurat. Jadi, tidak boleh disamakan dengan kondisi-kondisi lain yang lapang. Wallahu a’lam.

Namun jika terjadi pemisahan sebentar di antara anggota-anggota wudhu yang dicuci, maka hal itu tidak merusak wudhu. Wallahu a’lam.

[Diketik dari kitab Shahih Fiqh Sunnah, pent-: Abu Ihsan al-Atsary, penerbit: Pustaka at-Tazkia, cetakan keempat, 2009. Hlm. 149-162.]

Artikel: Media Belajar Islam

Artikel Sebelumnya


à memasukkan masalah “Mengusap kedua telinga” ke dalam rukun yang terpisah dari rukun, “mengusap kepala”, saya kira kurang tepat, karena:
a. Secara umum Allah hanya menyebutkan –dalam QS. Al-Maidah: 6- bagian-bagian: wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki, yang hal ini mencakup pula bagian-bagian tambahan seperti berkumur, istinsyaq, dan menyela jenggot –sebagaimana apa yang diterangkan dari hadits-hadits shahih- kepada bagian wajah.
b. Penjelasan tambahan yang datang dari hadits, bisa dimasukkan ke dalam wajib atau sunnah wudhu, sebagaimana telah dilakukan oleh mu’alif dengan baik pada pembahasan “wajibnya berkumur-kumur dan istinsyaq” dan “Mencuci jenggot dan seluruh bulu yang ada pada wajah” pada rukun pertama, “Mencuci seluruh wajah”. Wallahu a’lam. –edt.

[1] Hadits dhaif. Hadits ini memiliki jalur yang sangat banyak, namun semuanya lemah atau cacat. Diperselisihkan juga statusnya sebagai hadits hasan. Namun Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah (I/55) berpendapat, hadits ini bisa naik hingga derajat mutawatir, menurut sebagian ulama. Namun pendapat ini telah dikoreksi oleh guru kami (yaitu guru Syaikh Abu Malik; Syaikh Mustafa al-Adawi, -edt) hafidzahullah dalam an-Nazhrat dan merajihkan kedhaifannya. Inilah pendapat yang benar. Hadits ini juga didhaifkan oleh Syaikh Masyhur Hasan hafidzahullah dengan pembahasan yang sangat baik dalam catatan kaki kitab al-Khilafiyyat, al-Baihaqi (I/448)

[2] Sanadnya hasan, diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (I/98), Ibnu Abi Syaibah (I/28) dan selain keduanya.

[3] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (133), at-Tirmidzi (36), an-Nasa’i (I/74), Ibnu Majah (439) dan selainnya. Hadits ini memiliki jalur lain yang menshahihkannya dari riwayat Ibnu Abbas, yang asalnya terdapat dalam riwayat al-Bukhari (157) secara ringkas. Hadits ini punya pendukung dari hadits ar-Rubayyi’ binti Mu’awidz yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (126), at-Tirmidzi (33), dan Ibnu Majah (418). Demikian pula hadits dari al-Muqaddam bin Ma’dikarib.

[4] Subul as-Salam (I49)

[5] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Abdurrazaq (29) dan al-Baihaqi (I/65)

[6] Majmu’ al-Fatawa (I/56) dan Zad al-Ma’ad (I/49). Lihat Silsilah adh-Dhaifah (74469)

[7] Mata kaki, yaitu dua tulang yang menonjol di sisi kanan dan kiri telapak kaki.

[8] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (158) dan Muslim (226)

[9] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (161) dan Muslim (241)

[10] Fath al-Bari (I/266) dan al-Mughni (I/120)

* Pada kitab cetakan Maktabah at-Taufiqyah yang ada pada kami, pembahasan “Mencuci kedua kaki hingga mata kaki” bernomor 6. Sehingga nomor 5 tidak ada, mungin ini adalah kesalahan cetak yang tidak diengaja. Wallahu a’lam. –edt.

[11] Al-Majmu’ (I/433), al-Mughni (I/100) dan al-Muhalla (II/66)

[12] Yang semisal dengannya disebutkan dalam al-Mughni (I/100)

[13] Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sifat wudhu  beliau dari dua puluh orang sahabat, dan semuanya meriwayatkan dengan tertib. Kecuali dua hadits yang lemah, tapi dishahihkan oleh Syaikh al-Albani –rahimahullah- dalam Tamam al-Minnah (hal. 85) dengan alasan yang tidak bisa diterima. (Wallahu a’lam, -edt.)

[14] Dhaif, lihat al-Irwa’ (85)

[15] Al-Mudawanah (I/14), al-Mabsuth (I/55) dan Syarh Fath al-Qadir (I/30)

[16] Hadits dari Ali diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Ilal (I/205), Ibnu Abi Syaibah (I/55), dan ad-Daruquthni (I/88) dengan sanad dhaif. Sedangkan hadits dari Ibnu Mas’ud diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam at-Tarikh (1650) dan Abu Ubaid dalam ath-Thahur (325) dengan sanad hasan, dengan lafal,  “Jika ia mau, maka ia memulai wudhunya dari sebelah kirinya. “ Seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad.

[17] Al-Umm (I/30), al-Majmu’ (I/451), Kasyaf al-Qana’ (I/93), al-Mudawanah (I/15), al-Istidzkar (I/267), dan Majmu’ al-Fatawa (XXI/135)

[18] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (232), Ibnu Majah (666) dan Ahmad (I/21). Hadits ini dipermasalahkan, tetapi ia memiliki syawahid yang membuatnya shahih tanpa diragukan lagi. Lihat at-Talkhis (I/95) dan al-Irwa’ (86)

[19] Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, diriwayatkan oleh Abu Dawud (175) dan Ahmad (III/424) dari jalur Baqiyyah bin al-Walid, dari Buhair, dari Khalid. Baqiyyah telah menegaskan penyimakan langsung dari Buhair dalam riwayat Ahmad, dan Ahmad mengatakan isnadnya bagus. Karena itu Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam al-Irwa’ (86).
Penulis berkata: Sanadnya hasan, jika tidak ditakutkan taswiyah oleh Baqiyyah, dan ia tidak menegaskan tentang penyimakan langsung Buhair dari Khalid.

[20] Al-Mabsuth (I/56), al-Umm (I/30), al-Majmu’ (I/451) dan al-Muhalla (II/70)

[21] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Malik (48), asy-Syafi’i dari Malik (16) dan al-Baihaqi dalam al-Ma’rifat (99)

Tag:,

Tentang Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: