Keutamaan-keutamaan Wudhu

Keutamaan-keutamaan Wudhu

Penulis: Abu Malik Kamal as-Sayid Salim -hafidzahullah-

a. Wudhu dipandang sebagai setengah dari keimanan. Seperti disebutkan dalam hadits Abu Malik al-Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطهور شطر الايمان

bersuci adalah separuh dari keimanan.”[1]

b. Wudhu dapat menghapus dosa-dosa kecil

  • Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jika seorang hamba Muslim atau mukmin, ketika ia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya semua kesalahan yang dilakukan oleh pandangannya bersama tetesan air atau bersama tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Apabila ia mencuci tangannya, maka keluarlah dari tangannya semua kesalahan yang dilakukan oleh tangannya bersama tetesan air atau bersama tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Apabila ia mencuci kakinya, maka akan keluarlah semua kesalahan yang dilangkahkan oleh kedua kakinya bersama tetesan air atau bersama tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa.”[2]

  • Diriwayatkan dari Utsman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang berwudhu seperti ini, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. Shalatnya dan langkah kakinya ke masjid akan dihitung sebagai amal kebajikan.”[3]

Keutamaan dan pahala ini akan lebih besar lagi bagi orang yang mengerjakan shalat setelah selesai berwudhu, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.

  • Dalam hadits Utsman radhiyallahu ‘anhu, tentang sifat wudhu Nabi, ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat, dan tidak berbicara dengan dirinya dalam shalatnya, maka akan diampuni dosanya yang lalu.”[4]

c. Wudhu dapat mengangkat derajat seorang hamba

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maukah kalian aku tunjukkan kepada perkara yang Allah akan menghapus kesalahan dan mengangkat derajat dengannya?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Rasulullah bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah kaki ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath, itulah ribath, itulah ribath (menjaga ribath –ed.).”[5]

d. Wudhu adalah jalan menuju Surga

  • Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal:


Wahai Bilal, katakanlah kepadaku, amalan apakah yang telah engkau lakukan dalam Islam yang paling engkau harapkan? Sesungguhnya aku mendengar bunyi terompahmu di hadapanku di dalam Surga.” Bilal menjawab, “Aku tidak melakukan suatu amalan yang paling aku harapkan. Hanya saja, setiap aku bersuci, baik pada waktu malam maupun siang hari, aku selalu mengerjakan shalat setelahnya sebanyak kemampuanku.”[6]

  • Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua rakaat, dengan menghadapkan hati dan wajahnya (yakni khusyu’, -edt ) dalam shalatnya tersebut, maka ia berhak mendapatkan Surga.”[7]

e. Wudhu adalah tanda yang membedakan umat ini (dari umat lainnya) ketika memasuki telaga Surga

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sebuah pekuburan seraya berucap:

Salam keejahteraan bagi kalian, wahai penghuni negeri kaum Mukminin, dan aku –insya Allah- tidak lama lagi akan menyusul kalian. Betapa inginnya aku melihat saudara-saudara kita.” Para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Engkau adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah orang yang belum datang.” Mereka bertanya, “Bagaimana engkau dapat mengenali umatmu yang belum lagi muncul, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Bagaimana menurutmu, jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih kepalanya di tengah-tengah kuda yang hitam warnya, bukankah ia pasti akan mengenali warnya?” Mereka menjawab, “Tentu saja, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka akan datang pada hari Kiamat kelak dengan ‘wajah putih cemerlang’ karena bekas wudhu, dan aku akan mendahului mereka tiba di telaga. Sungguh nanti ada sejumlah orang yang akan diusir dari telagaku sebagaimana diusirnya unta yang tersesat. Aku memanggil mereka, ‘Kemarilah!’ Maka dikatakan (kepadaku), ‘Sesungguhnya mereka telah merubah-rubah ajaran agama sepeninggalmu.’ Maka aku katakan, ‘Menjauhkah, menjauhlah!’.”[8]

Al-Ghurrah adalah bintik putih yang ada pada dahi kuda. Dan yang dimaksud adalah cahaya yang ada pada wajah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. At-Tahjil adalah warna putih pada tiga sisi kaki kuda, yang maksudnya juga cahaya.[9]

f. Wudhu adalah cahaya bagi hamba pada Hari Kiamat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Perhiasan (cahaya) orang Mukmin itu sejauh mana air wudhu (mencapai anggota wudhunya).”[10]

Perhiasan yang dimaksud di sini, adalah cahaya pada Hari Kiamat.

g. Wudhu dapat mengurai ikatan setan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Setan mengikat pada tengkuk salah seorang di antara kalian, ketika sedang tidur, sebanyak tiga ikatan. Pada setiap ikatan setan menghembuskan, ‘Malam masih panjang, tidurlah!’ Jika kalian bangun dan lalu berdzikir, maka terlepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu’, maka terlepaslah ikatan berikutnya. Jika ia shalat, maka terlepaslah ikatan terakhir. Sehingga pada pagi harinya, ia menjadi orang yang bergairah dan segar. Jika tidak, maka jiwanya menjadi buruk dan bermalas-malasan.”[11]

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal as-Sayid Salim, pent. Abu Ihsan Al-Atsary, Pustaka at-Tazkia, 2009. hlm.142-16


[1] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (223) dan selainnya

[2] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (244) dan selainnya

[3] Shahih, diriwayatkan oelh Muslim (229) dan selainnya.

[4] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (6433), Muslim (226) dan selain keduanya

[5] Shahih Muslim (251) dan selainnya

[6] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (1149) dan Muslim (2458)

[7] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (234), an-Nasa’i (I/80) dan selain keduanya.

[8] Shahih, diriwayatkan oleh Mulim (234) dan an-Nasa’i (I/80)

[9] Syarh Muslim, an-Nawawi (III/100)

[10] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (250) dan an-Nasa’i (I/80)

[11] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (1142) dan Muslim (776)

About these ads

Tag:

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: