Thaharah Hukmiyah: Pembahasan Macam-macam Air

oleh: Abu Malik Kamal as-Sayid Salim -hafidzahullah- di kitab beliau, Shahih Fiqh Sunnah*

Sumber: farm1.staticflickr.com

Macam-macam Air

Air, dengan segala macam jenisnya, tidak keluar dari dua macam:

1. Air mutlak (air yang suci)

Yaitu air yang tetap pada bentuk asal penciptaannya. Yaitu setiap air yang keluar dari bumi atau turun dari langit. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ

Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.” (Al-Anfal: 11)

Termasuk dalam kategorinya adalah: air sungai, salju, embun dan air sumur, hingga walaupun sudah berubah karena terlalu lama tergenang atau bercampur dengan suatu benda suci yang tidak mungkin menjaganya dari benda suci tersebut, demikian juga air laut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika ditanya tentang air laut:

Airnya suci dan bangkainya halal.”

Air ini boleh dipakai untuk berwudhu dan mandi, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, walaupun bercampur dengan sedikit benda suci selama ia masih disebut air. Dalam hadits Ummu Hani’ disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi bersama Maimunah dalam satu bejana yang di dalamnya terdapat bekas gandum.”[1]

Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum wanita yang memandikan jenazah putri beliau, Zainab radhiyallahu ‘anha:

Mandikanlah ia tiga kali dengan air dan (perasan) daun bidara, dan siramlah pada yang terakhir dengan campuran kapur barus.”[2]

Adapun jika air tersebut bercampur dengan benda yang suci yang mengeluarkannya dari statusnya sebagai air, seperti teh misalnya, maka tidak boleh digunakan untuk bersuci. Demikian juga tidak boleh mandi untuk bersuci dari hadats dengan air perasan dari benda-benda suci, seperti air sari bunga mawar dan sejenisnya. Karena, pada hakikatnya, ia bukanlah air.

Ibnu al-Mundzir rahimahullah berkata,[3] “Semua ulama yang kami hafal pendapatnya bersepakat bahwa tidak boleh berwudhu dengan air mawar, air pohon, atau air akar-akaran. Tidak boleh berwudhu kecuali dengan air mutlak yang masih bisa disebut sebagai air.”

2. Air najis

Yaitu air yang telah tercampur dengan najis dan berpengaruh pada salah satu sifatnya, lalu merubah bau, warna atau rasanya, sehingga orang yang memakainya mengetahui bahwa ia menggunakan air najis.

Air ini tidak dapat dipakai untuk berwudhu, karena ia najis dengan sendirinya.


*diterjemahkan oleh Abu Ihsan al-Atsary hafidzahullah @ Pustaka at-Tazkiya

[1] Shahih, diriwayatkan oleh an-Nasa’i (240) dan Ibnu Majah (378)

[2] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (1253) dan Muslim (939)

[3] Al-Mughni (I/11) dan al-Muhalla (I/199)

About these ads

Tag:, ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: