Apakah Darah Tergolong Najis?

Oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim

Darah itu ada beberapa jenis:

1. Darah Haid

Darah ini najis, menurut kesepakatan ulama. Telah disebutkan dalil yang menunjukkan kenajisannya.*

2. Darah Manusia[1]

Terdapat perselisihan pendapat mengenainya. Pendapat yang masyhur di kalangan ulama-ulama madzhab fiqh bahwa darah adalah najis. Namun, mereka tidak memiliki hujjah. Hanya saja darah itu diharamkan berdasarkan nash al-Qur’an, dalam firman-Nya:

قُل لَّآ أَجِدُ فِى مَآ أُوحِىَ إِلَىَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ۬ يَطۡعَمُهُ ۥۤ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمً۬ا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ رِجۡسٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Al-An’am: 145)

Menurut mereka, pengharaman itu mengindikasikan kenajisan, sebagaimana yang mereka lakukan berkenaan dengan khamer. Dan ini sudah jelas. Tetapi telah dinukil dari sejumlah ulama tentang ijma’ penajisannya. Akan disebutkan pembahasannya tentang hal ini.

Di lain pihak, sejumlah ulama mutaakhirin, di antaranya asy-Syaukani, Shiddiq Khan, al-Albani, dan Ibnu Utsaimin –rahimahumullah- berpendapat mengenai kesuciannya. Karena, menurut mereka, tidak ada ketetapan ijma’. Mereka berargumen dengan dalil-dalil berikut ini:

a. Hukum asal segala sesuatu itu suci, hingga ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Kami** tidak pernah mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencuci darah selain darah haid. Padahal banyak orang sering mengalami luka atau sejenisnya. Jika darah itu najis, niscaya Nabi telah menjelaskannya karena masalah ini sangat dibutuhkan.

b. Kaum Muslimin, dari dahulu hingga sekarang, tetap diperintahkan mengerjakan shalat dengan luka-luka yang ada pada tubuh mereka. Bahkan ada yang mengalirkan darah sangat banyak yang tidak bisa ditolelir. Namun, tidak pernah pula diriwayatkan, mereka memepersoalkan tentang darah-darah yang mengucur ini.

Al-Hasan berkata, “Dari dahulu sampai sekarang kaum Muslimin tetap mengerjakan shalat dengan luka-luka pada tubuh mereka.”[2]

Dalam hadits sahabat Anshar, “Ketika ia shalat pada malam hari, ia dipanah oleh seorang Musyrik. Lalu ia mencabut panahnya dan meletakkannya. Hingga ia dipanah sampai tiga kali. Kemudian ia ruku, sujud, dan terus melanjutkan shalatnya, sementara darah terus mengalir.”[3]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata,[4] “Hadits ini memiliki hukum marfu’, karena mustahil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahuinya. Jika darah yang banyak keluar itu membatalkan wudhunya, tentulah Nabi telah menjelaskannya. Karena menunda penjelasan dari waktu yang dibutuhkan adalah tidak boleh, seperti yang dikenal dalam kaidah ilmu ushul. Anggaplah Nabi tidak mengetahuinya, tapi hal ini tidak tersembunyi bagi Allah subhaanahu wa ta’ala yang tidak ada perkara yang tersembunyi bagi-Nya di langit dan di bumi. Jika itu membatalkan wudhu, atau najis, tentulah Allah telah mewahyukan tentang hal itu kepada Nabi-Nya, sebagaimana kenyataannya yang sudah jelas bagi siapa pun.”

Dalam hadits tentang terbunuhnya Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Umar terus mengerjakan shalat, sementara darahnya membasahi sekujur tubuhnya.”[5] Yakni darahnya terus mengalir.

c. Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, tentang kisah kematian Sa’d bin Mu’adz, ia berkata, “Sa’d bin Muadz terluka pada peperangan Khandak karena dipanah oleh seorang laki-laki pada pelipisnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuatkan kemah di masjid agar mudah untuk menjenguknya. Ketika malam tiba, melebarlah lukanya, lalu mengalirlah darah dari lukanya hingga membasahi kemah yang ada di sampingnya. Mereka berkata, ‘Hai penghuni kemah, apa yang kalian kirimkan kepada kami?’ Ketika mereka melihatnya, ternyata luka Sa’d telah pecah dan darahnya memancar dengan deras. Kemudian dia pun meninggal.”[6]

Penulis berkata: tidak diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyiramkan air padanya. Apalagi hal ini terjadi di masjid, sebagaimana beliau memerintahkan untuk mengguyurkan air pada air seni orang Arab Badui.

d. ketika Ibnu Rusyd menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang darah ikan, dia menyebutkan sebab perselisihan mereka, yaitu tentang masalah status bangkainya. Pihak yang berpendapat bangkainya itu termasuk dalam keumuman keharaman, maka mereka menghukumi darahnya juga demikian. Sementara pihak yang mengeluarkan bangkai ikan dari keumuman dalil, maka mereka mengeluarkan hukum darahnya dari hukum tersebut, karena diqiyaskan pada bangkai.

Penulis berkata: Mereka juga berpendapat sucinya mayat manusia, demikian juga darahnya, menurut kaidah mereka.

Karena itu, Ibnu Rusyd mengomentari setelahnya, “Nash hanya menunjukkan najisnya darah haid. Adapun selain itu maka hukumnya tetap pada hukum asal yang telah disepakati di antara kedua pihak yang bersengketa, yaitu suci. Dan, tidak boleh dikeluarkan dari hukum asal, kecuali dengan nash yang dengannya hujjah dapat ditegakkan.”

Jika ditanyakan: Mengapa tidak diqiyaskan saja dengan darah haid? Bukankah darah haid adalah najis?

Kita jawab: ini adalah qiyas yang tidak tepat.

v Karena darah haid adalah darah kebiasaan kaum wanita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita keturunan Adam.”[7]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang darah istihadhah:

“Itu adalah darah yang berasal dari urat.”[8]

v Kemudian darah haid adalah darah yang sangat kental dan berbau tidak sedap. Ia menyerupai tinja dan air seni, bukan darah yang keluar dari selain dua jalur tersebut.

3. Darah hewan yang boleh dimakan dagingnya

Pendapat mengenainya seperti pendapat darah manusia, dalam hal tidak adanya dalil yang menunjukkan kenajisannya. Jadi, hukumnya dibawa kepada hukum asalnya (yaitu suci).

Pendapat yang menyatakan kesuciannya ini juga dikuatkan oleh:

  • Hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam shalat di Ka’bah, sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya sedang duduk-duduk. Lalu sebagian mereka saling berkata pada sebagian yang lain, ‘Siapakah di antara kalian yang mau mendatangi unta*** milik keluarga si fulan, kemudian mengambil kotoran, darah dan tahinya, lalu membawanya ke sini. Kemudian membiarkannya hingga ketika Muhammad sujud, ia meletakkan kotoran tersebut di atas pundaknya?’ Berangkatlah orang yang paling celaka di antara mereka. Ketika Rasulullah sujud, ia meletakkannya di antara kedua pundak beliau, dan Nabi tetap sujud. Mereka pun tertawa-tawa.”[9]

Jika darah unta itu najis, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melepas pakaiannya atau keluar dari shalatnya.

  • Diriwayatkan dengan shahih, “Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengerjakan shalat, sementara pada perutnya terdapat kotoran dan darah unta yang baru disembelihnya, tapi di tidak berwudhu.”[10]

Walaupun demikian, atsar ini dipersoalkan sebagai dalil atas sucinya darah hewan. Karena Ibnu Mas’ud tidak berpendapat sucinya badan dan pakaian sebagai syarat sahnya shalat. Dia hanya berpendapat itu mustahb (dianjurkan).

Penulis berkata: Apabila ada ketetapan ijma’ tentang najisnya darah, maka kita tidak perlu lagi melihat dalil-dalil ulama muta’akhirin. Jika ijma’ tidak dipastikan keabsahannya, maka pada asalnya hukum darah adalah suci, dan kita tidak membutuhkan dalil-dalil tersebut. Dan yang jelas bagi penulis –setelah memilih pendapat sucinya darah sejak sepuluh tahun yang lalu—ijma’ dalam masalah ini (najisnya darah) memang terbukti.**** Sebagaimana telah dinukil lebih dari seorang ulama, dan tidak ada riwayat shahih yang membatalkan ijma’ tersebut. Penukilan paling shahih adalah yang dinukil Imam Ahmad, kemudian ijma’ yang dinukil oleh Ibnu Hazm –berbeda dengan orang yang menyangka bahwa madzabnya menyatakan kesucian darah. Di antara yang aku temukan dari hal itu:

Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Ighatsah al-Lahfan (I/240) berkata, “Imam Ahmad ditanya, ‘Apakah darah dan nanah sama menurut Anda?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Adapun darah, orang-orang tidak berselisih mengenainya.’ Kemudian ia berkata, ‘Nanah dan sejenisnya, dalam pandanganku, hukumnya lebih ringan daripada darah’.”

Ibnu Hazm rahimahullah menukil dalam Maratib al-Ijma’, “Ulama telah bersepakat tentang najisnya darah.”

Demikian pula kesepakatan ini dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fath al-Bari (I/420).

Ibnu Abdil Barr rahimahullah dalam at-Tamhid (XX/230), mengatakan, “Semua darah sama hukumnya seperti darah haid, hanya saja darah yang sedikit (itu, -edt) dimaafkan, karena syarat najisnya darah yang ditetapkan Allah subhaanahu wa ta’ala adalah darah yang memancar. Maka, saat itu (karena memancar) hukumnya adalah rijs, dan rijs adalah najis. Ini adalah ijma’ kaum Muslimin bahwa darah yang memancar adalah najis.”

Ibnu al-Arabi rahimahullah dalam Ahkam al-Qur’an (I/79) mengatakan, “Para ulama bersepakat bahwa darah itu haram dan najis. Tidak bisa dimakan dan tidak bisa dimanfaatkan. Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyebutkannya di sini secara mutlak, dan disebutkan dalam surat al-An’am secara muqayyad (terikat) dengan sifat memancar. Para ulama membawa nash mutlak kepada nash muqayyad berdasarkan ijma’.”

An-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ berkata, “Dalil-dalil yang menunjukkan najisnya darah darah sangat jelas. Aku tidak mengetahui adanya ikhtilaf di kalangan kaum Muslimin, kecuali apa yang diceritakan oleh penulis al-Hawi dari sebagian ahli kalam bahwa darah itu suci. Tetapi ahli kalam tidak diperhitungkan pendapat mereka dalam hal ijma’ dan ikhtilaf.”

Penulis berkata: Yang lebih rajih, darah itu najis karena ada ketetapan ijma’. Kecuali bila ada penukilan dari imam yang lebih tinggi dari Imam Ahmad rahimahullah yang mengatakan sucinya darah itu. Wallahu a’lam.

Sumber:

Shahih Fiqih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid Salim, diterjemahan oleh Abu Ihsan al-Atsary, diterbitkan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat


* lihat catatan sebelumya tentang najis, –admin

[1] Tafsir al-Qurtubi (II/221), al-Majmu’ (II/511), al-Muhalla (I/102), al-Kafi (I/110), Bidayah al-Mujtahid, dan Sail al-Jarar (I/31), asy-Syarh al-Mumti’ (I/376), Silsilah ash-Shahihah, dan Tamam al-Minnah (hal. 50)

** yaitu para ulama yang menyatakan akan kesucian darah, –admin

[2] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq (I/336), dan asalnya dari Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih, seperti disebutkan dalam Fath al-Bari (I/337)

[3] Shahih, diriwayatkan secara mu’allaq oleh al-Bukhari (I/336), dan diriwayatkan secara bersambung oleh Ahmad dengan sanad shahih.

[4] Tamam al-Minnah (hal. 51-52)

[5] Shahih, diriwayatkan oleh Malik (82), al-Baihaqi (I/357) dan selainnya, dengan sanad shahih.

[6] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (3100) secara ringkas, dan ath-Thabrani dalam al-Kabir (VI/7)

[7] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (294) dan Muslim (1211)

[8] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (327) dan Muslim (333)

*** Menurut al-Akh Abu Razin ketika membawakan pelajaran pada bab ini, huruf jim-za’-wawu-ra’ diartikan dengan “penyembelihan”, yakni (mungkin) penyembelihan unta. Karena di sana juga terdapat darah, sedangkan di kandang-kandang pada umumnya, jarang ditemukan adanya darah hewan. Wallaahu a’lam. –admin

[9] Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (240) dan Muslim (1794)

[10] Sanadnya shahih, dikeluarkan dalam Mushannaf Abdurrazaq (I/25) dan Ibnu Abi Syaibah (I/392)

**** tetapi sayangnya kita tidak melihat bagaimana para ulama yang telah menukilkan ijma’ tersebut, menjelaskan/membantah dalil-dalil yang dibawa oleh para ulama mutaakhirin yang menguatkan pendapat akan kesucian darah manusia. –admin

About these ads

Tag:, , , , , , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: