Sebab-Sebab Ikhtilaf Antara Ahlul Hadits dan Ahlul Ra’yi

Ketahuilah bahwa di antara ulama yang hidup pada zaman tabi’in dan generasi setelah mereka, terdapat segolongan ulama yang tidak suka mendalami masalah ra’yu serta takut memberikan fatwa dan keputusan hukum, kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak. Cita-cita terbesar mereka adalah mengumpulkan riwayat hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Pada saat itulah orang-orang membukukan hadits dan atsar yang terdapat di berbagai daerah Islam, penulisan mushaf, dan penyalinan ulang. Ulama-ulama besar mereka berkeliling ke negeri Hijaz, Syam, Iraq, Mesir, Yaman, Khurasan, untuk mengumpulkan buku-buku dan menyalinnya, sehingga mereka berhasil mengumpulkan hadits dan atsar yang belum pernah dikumpulkan oleh seorang pun sebelum merekaMereka juga mendapatkan sejumlah atsar fuqaha tiap-tiap negeri dari kalangan sahabat dan tabi’in yang tidak diketahui para ahli fatwa. Padahal, sebelum mereka, seseorang tidak mungkin dapat mengumpulkan hadits kecuali hadits yang terdapat di negeri mereka sendiri. Demikian juga, lewat pembukuan, pembahasan dan diskusi, mereka berhasil menyingkap tentang kondisi sanad-sanad hadits yang tidak diketahui sebelumnya.

Setelah menguasai disiplin ilmu riwayat dan hadits, sebagian muhaqqiq (peneliti) kembali mendalami masalah fiqih. Mereka tidak berpendapat tentang keharusan bertaqlid kepada seseorang dari generasi sebelumnya, karena mereka meriwayatkan hadits-hadits dan atsar yang bertentangan dengan semua madzhab yang ada pada saat itu. Tidak ada suatu masalah pun yang dibicarakan oleh orang-orang sebelum mereka, dan masalah yang terjadi pada zaman mereka, kecuali mereka menentukan jawabannya di dalam hadits marfu’ yang sanadnya bersambung mursal atau mauquf. Atau mereka temukan jawabannya dalam atsar Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, para khilafah lainnya, atau dari para qadhi dan fuqaha di berbagai daerah dan negeri. Dengan cara ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan bagi mereka untuk melaksanakan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang paling terkenal di antara mereka, paling luas ilmu riwayatnya, paling tahu mengenai derajat hadits, dan paling dalam ilmu fiqihnya, adalah Imam Ahmad bin Hambal, lalu Ishaq bin Rahawaih.

Imam asy-Syafi’i pernah berkata kepada Imam Ahmad, “Anda lebih tahu tentang hadits-hadits shahih dari pada aku. Jika ada hadits shahih, maka beritahukanlah kepadaku agar aku dapat berpegang pada hadits itu, baik hadits itu diriwayatkan oleh penduduk Kufah, Bashrah, maupun yang dirwayatkan oleh penduduk Syam.”

Setelah itu, muncul generasi selanjutnya yang melihat bahwa generasi sebelumnya telah cukup mengumpulkan hadits, dan menyusun ilmu fiqih menurut kaidah ini. Kemudian mereka mulai meluangkan waktu untuk bergerak di bidang lain. Sebagai contoh:

1.       Memilah hadits-hadits yang sudah disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits terkenal semisal Yazid bin Harun, Yahya bin al-Qahthan, Ahmad, Ishaq, dan orang-orang seumpama mereka.

2.        Mengumpulkan hadits-hadits yang berkaitan dengan ilmu fiqih yang dijadikan dasar utama oleh para fuqaha di berbagai daerah dan ulama di berbagai negeri.

3.       Menentukan setiap derajat hadits yang sesuai dengan masing-masing hadits tersebut.

4.       Hadits yang syadz dan gharib yang tidak mereka riwayatkan, atau jalur-jalur periwayatan yang belum pernah dikeluarkan oleh oleh orang-orang sebelumnya dan lain-lain. Di antara ulama yang bergerak di bidang ini adalah al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Abdullah bin Humaid, ad-Darimi, Ibnu Majah, Abu Ya’la, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, ad-Daruquthni, al-Hakim, al-Baihaqi, dan selain mereka.

Sebalum mereka, di masa Malik, Sufyan dan sesudahnya, terdapat segolongan ulama yang tidak membenci masa’il (masalah-masalah fiqih) dan tidak khawatir memberikan fatwa. Mereka hanya khawatir meriwayatkan hadits Nabi dan  menisbatkannya kepada Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sampai-sampai asy-Sya’bi berkata, “Kami lebih menyukai meriwayatkan dari orang-orang sesudah Nabi. Jika ada tambahan atau pengurangan, maka hal itu hanya atas nama orang-orang sesudah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Karena itu, mereka menulis hadits, fiqih dan berbagai masalah dengan metode lain. Sebab pada saat itu mereka tidak memiliki hadits dan atsar yang merupakan modal untuk membuat kesimpulan hukum fikih menurut kaidah yang telah sipilih oleh para ahli hadits. Hati merekabelum lapang untuk meneliti, mengumpulkan dan mencari pendapat para ulama yang ada di berbagai negeri. Bahkan mereka berkeyakinan, para imam mereka menempati derajat tertinggi dalamperkara penelitian hukum, dan ada kecenderungan hati kepada orang-orang yang semadzab dengan mereka. Contohnya, perkataan Abu Hanifah, “Ibrahim (yakni an-Nakha’i) lebih faqih daripada Salim. Jika bukan karena keutamaan sebagai sahabat Nabi, niscaya telah aku katakan bahwa al-Qamah lebih faqih dari pada Ibnu Umar.”

Mereka mempunyai kecerdasan dan kelihaian dalam memindah-mindahkan satu masalah ke masalah lainnya yang mampu mereka lakukan untuk memberikan jawaban atas suatu persoalan berdasarkan pendapat-pendapat ulama madzhab merek, dan membentangkan masalah ilmu fiqih menurut kaidah-kaidah yang mereka ambil dari pendapat-pendapat tersebut. Karenannya, banyak bermunculan masalah fiqih dari masing-masing madzhab. Madzhab mana saja yang memiliki ulama yang masyhur, maka kepada dialah  disandarkan penyelesaian berbagai kasus dan fatwa. Akhirnya tulisan-tulisan mereka menjadi terkenal di tengah masyarakat dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Dari sinilah mulai berkembang dua jenis institusi: institusi hadits dan institusi fiqih. Imam al-Khaththabi berkata dalam Ma’alim as-Sunan[1], mengomentari kedua institusi ini:

“Aku melihat ulama zaman kita sekarang memiliki keahlian dalam dua bidang, dan terpeceh dalam dua kelompok:

1.       Ahli hadits dan atsar.

2.       Ahli fiqih dan nazhar.

Masing-masing kelompok membutuhkan kelompok lainnya berikut apa yang telah mereka hasilkan dari hasil penelitian mereka. Sebab hadits itu ibarat fundamen atau seperti akar, sementara fiqih itu ibarat bangunan yang dibangun di atas fundamen tersebut atau seperti cabang yang tumbuh dari akar tersebut. Semua bangunan yang dibangun dengan tanpa fundamen, dapat sipastikan bahwa bangunan itu akan runtuh. Sementara seluruh fundamen tanpa ada bangunannya, sama seperti bangunan yang telah runtuh. Aku menjumpai kedua kelompok ini sebagai saudara yang saling berseteru, padahal mereka saling berdekatan dan masing-masing dari mereka saling membutuhkan. Terlebih mereka berkewajiban untuk saling membela dan membantu di atas jalan kebenaran, bukannya saling membangga-banggakan.

Adapun kelompok ahli hadits dan atsar, kebanyakan mereka menyibukkan diri dengan riwayat-riwayat, mengumpulkan berbagai jalur hadits, mencari hadits-hadits gharib dan hadits-hadits syadz (nyeleneh), yang kebanyakannya adalah hadits maudhu (palsu) dan maqlub (terbalik).[2] Mereka tidak memperhatikan isi matan, kurang memahami makna hadits, tidak melakukan istimbath hukumnya, tidak mengeksplorasi hal-hal yang berharga dan kandungan fiqihnya. Bahkan terkadang mereka mencela ahli fiqih dan menuduh mereka sebagai penentang sunnah. Mereka tidak tahu bahwa merka belum mencapai tingkatan ilmu yang telah dicapai para fuqaha tersebut, dan mereka telah berbuat dosa karena mencela para ahli fiqih itu.

Sedangkan para kelompok lainnya adalah ahli fiqih dan nazhar. Sedikit sekali di antara mereka yang menguasai ilmu hadist. Akibatnya mereka tidak mampu membedakan mana hadist shahih dan mana hadist dhaif, tidak mampu membedakan antara hadist yang kuat dan tidak. Mereka juga tidak peduli dengan derajat hadist yang sampai kepada mereka dan menjadikan sebagai argumen untuk membantah lawan-lawan mereka, asalkan hadist tersebut dapat menguatkan madzhab yang mereka anut dan sesuai dengan pendapat yang mereka yakini. Bahkan mereka berani membuat kaidah yang bertujuan agar hadist-hadist dhaif dan munqathi’ (terputus sanadnya) dapat diterima, selama hadist tersebut masyhur di tengah-tengah mereka dan telah mereka warisi secara turun temurun, tanpa mengecek kembali keshahihannya. Inilah penyebab ketergelinciran dan kekeliruan yang mereka lakukan.

Mereka ini (semoga Allah memberi taufiq kepada kita dan mereka), jika diceritakan kepada mereka pendapat dari ijtihad salah seorang tokoh madzhab mereka, maka mereka menuntut ketsiqahan (kredibilitas) tokoh tersebut. Karena itu, kita lihat para penganut madzhab Maliki tidak berpegang kepada pada madzhabnya kecuali yang berasal dari riwayat Ibnu al-Qasim, Asyhab dan yang semisal dengan keduanya. Mereka tidak mempedulikan riwayat yang berasal dari Abdullah bin Abdul Hakim dan orang-orang yang semisalnya. Anda juga melihat mereka yang bermadzhab Abu Hanifah rahimahullah tidak mau menerima riwayat darinya kecuali apa yang diceritakan Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan para sahabatnya serta murid-murid seniornya. Mereka tidak akan menerima dan tidak akan berpegang dengan riwayat yang berasal dari al-Hasan bin Ziyad al-Lu’lui yang isinya bertentangan dengan madzhab mereka. Demikian juga Anda akan dapati mereka yang bermadzhab asy_Syafi’i hanya berpegang dengan riwayat al-Muzani dan Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi. Jika datang riwayat dari Khuzaimah, al-Jarami dan orang-orang yang semisalnya, mereka tidak mengindahkan dan tidak mempedulikan oendapat-pendapatnya. Karena itu, masing-masing kelompok tetap berpegang dengan hukum-hukum madzhab para imam dan ustadz mereka. Apabila demikian kebiasaan mereka, dan mereka tidak puas mengenai perkara furu’ dan riwayat yang berasal dari para ulama kecuali dengan bukti yang kuat. Maka, bagaimana mungkin mereka bisa menganggap remeh perkara perkara yang lebih penting dan ucapan yang lebih agung, serta tidak mempedulikan riwayat dari imamnya para imam dan utusan Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang wajib hukumnya dan wajib ditaati.

Kita berkewajiban untuk menerima hukum dan mematuhi pierintah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, tanpa ada sedikit pun rasa keberatan dalamhati kita terhadap segala keputusan beliau. Tidak ada pula kedengkian yang muncul dalam hati kita terhadap keputusan yang telah beliau sahkan danlaksanakan. Apa pendapat Kalian, jika seseorang menyepelekan urusannya sendiri dan bertoleransi terhadap orang-orang yang berutang darinya, lalu ia mengambil sesuatu yang palsu dari mereka dan merahasiakan aib yang mereka kerjakan? Apakah ia boleh melakukan perbuatan yang sama terhadap hak orang lain, jika ia sebagai wakil darinya, seperti wali orang yang lemah, pengurus anak yatim, atau wakil orang yang tidak berada di tempat? Tidakkah jika hal itu ia lakukan, berarti ia telah mengkhianati perjanjian atau melanggar sebuah kesepakatan? Tetapi disayangkan kaum ini sulit untuk menempuh jalan yang menuju kepada kebenaran, dan meninggalkan jalur ini yang mereka anggap suatu kebaikan.

Mereka ingin segera meraih apa yang mereka inginkan sehingga menempuh jalan pintas untuk mendapatkan ilmu, dengan cara hanya mencukupkan mempelajari beberapa huruf yang diambill dari makna ushul fiqih yang mereka sebut dengan ‘ilal. Dan ‘ilal ini mereka jadikan sebagai slogan untuk diri mereka sebagai simbol keilmuan, dan mereka jadikan perisai dalam menghadapi orang-orang yang berseberangan dengan pendapatnya. Mereka juga memancangkan istilah ‘ilal untuk mencegah pembicaraan terlalu dalam, serta melakukan perdebatan dan mencari berbagai alasan untuk menetapkan ‘ilal tersebut. Jika mereka sudah mahir menetapkan ‘ilal ini, maka orang banyak akan menjulukinya sebagai orang cerdas dan terdepan, serta akan disebut sebagai ahli fiqih kondang di zamannya dan pemimpin yang disegani di daerah dan negerinya.

Sungguh ini merupakan perangkap halus yang ditebarkan oleh setan. Bahkan setan berhasil menanamkan tipuannya dengan mengatakan kepada mereka, “Ilmu yang kalian dapati ini sangat sedikit dan perbekalan pengetahuan kalian terlalu minim, masih belum cukup dan masih jauh dari yang diharapkan. Karena itu gunakan ilmu kalam, beralihlah untuk mempelajarinya, dan tunjukkan bahwa ushul mutakallim juga dapat digunakan seseorang sebagai sarana untuk mendalami ilmu dan menganalisanya.” Ternyata bisikan iblis ini mereka benarkan, sehingga banyak di antara mereka yang menaati dan mengikuti saran iblis tersebut. Hanya kelompok orang beriman saja yang dapat terhindar dari bisikan tersebut. Wahai orang-orang yang berakal, hendak ke mana mereka dibawa iblis. Mengapa mereka tertipu iblis sehingga menyimpang dari jalur yang lurus? Wallahul musta’an.” Demikianlah pernyataan al-Khaththabi.

Rujukan:

Shahih Fiqhis-Sunnah juz 1, Abu Malik Kamal As-Sayyid, cetakan Maktabah at-Taufiqiyah, hal. 23-27

[Bisa Dilihat pada hal. 28-33 pada terjemahan Pustaka at-Tazkia, Cetakan keempat]


[1] Ma’alim as-Sunan, karya al-Khaththabi (1/75-76)

[2] Saya (Admin blog ini) katakan: kami belum mendapati contoh real, seorang tokoh ahli hadits sampai terjatuh pada pengumpulan hadits-hadits maudhu’. Kalau hal ini memang terjadi, mereka pun tidak tertinggal untuk menampilkan sanad-sanadnya untuk bisa diperiksa oleh orang-orang yang datang belakangan, dan dalam hal ini mereka (ahli hadits) tidak dicela karenanya. Wallahu Ta’ala A’lam.

About these ads

Tag:, , , , ,

About Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: