Fikih Pada Zaman Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam

Ketahuilah bahwa ilmu fikih pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam belum disusundalam bentuk tulisan, dan pembahasan hukum pada saat itu tidak sebagaimana yang dilakukan oleh para fuqaha yang berusaha menjelaskan rukun-rukun, syarat-syarat, dan adab-adab. Segala sesuatu dibedakan dari yang lainnya dengan dalil. Mereka memperkirakan gambaran dari amalan yang mereka lakukan, lalu memberikan komentarnya atas gambaran yang mereka perkirakan tersebut. Mereka juga memberikan beberapa ketentuan untuk setiap masalah yang menerima batasan, dan lain-lain. Sementara di masa Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, para sahabat melihat bagaimana Rasulullah berwudhu, kemudian mereka mengambil tata cara tersebut tanpa menjelaskan: ini rukun wudhu dan ini adabnya. Mereka melihat Rasulullah mengerjakan salat, lalu mereka mengerjakannya sebagaimana shalat yang telah mereka lihat. Beliau shallallaahu alaihi wa sallam melaksanakan haji, lalu para sahabat mengikuti bagaimana cara beliau mengerjakannya.

Demikianlah kebanyakan cara Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam mengajarkan, tanpa menjelaskan wajib wudhu itu ada enam atau tujuh. Beliau juga tidak menjelaskan bahwa berwudhu wajib dilakukan secara berturut-turut hingga ditetapkan hukum wudhu tersebut sah atau batal, kecuali yang dikehendaki Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Dan para sahabat jarang sekali bertanya-tanya tentang perkara-perkara seperti ini.

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam tentang masalah yang terjadi saat itu, dan beliau memberikan jawabannya. Orang-orang menyampaikan berbagai kasus kepada beliau, dan beliau memberikan penyelesaian terhadap kasus mereka tersebut. Beliau akan memberikan pujian, jika melihat ada di antara mereka yang melakukan kebajikan; dan mengingkari, jika melihat mereka melakukan suatu kemungkaran. Fatwa yang ditanyakan kepada beliau, keputusan terhadap suatu kasus, atau pengingkaran beliau terhadap sebuah kemungkaran, semua itu merupakan perkara yang muncul di tengah-tengah masyarakat pada saat itu. Para sahabat melihat ibadah-ibadah, fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan beliau terhadap suatu kasus. Kemudian mereka menghafal dan memahaminya. Mereka mengetahui bahwa tiap-tiap sesuatu memiliki tinjauan dari sisi pertautannya (qarinah). Karena itu, sebagian mereka ada yang mengambil kesimpulan hukum ibahah (boleh), sebagian lainnya menyimpulkan mustahab (dianjurkan), dan sebagian lainnya menyatakan mansukh (sudah dihapuskan ketentuannya) dengan alasan-alasan yang memadai yang mereka miliki. Tidak ada pegangan yang mereka miliki kecuali perasaan tenang yang mereka rasakan, tanpa menghiraukan metode-metode istidlal (pengambilan dalil-dalil, sebagai mana dilakukan para fuqaha). Demikianlah kondisi para sahabat hingga berakhir masa Nabi shallallaahu alaihi  wa sallam.

Sumber:

Shahih Fiqhis-Sunnah oleh Abu Malik Kamal As-Sayyid

About these ads

Tentang Cipto Abu Yahya

Saya hanyalah pedagang ukm yang tidak tertarik untuk dikenal oleh orang banyak. Tapi manfaat yang bisa saya usahakan, diharapkan dapat dirasakan oleh banyak orang..

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: